Mengapa SUV Premium Tetap Diminati Saat Mobil Listrik Tumbuh?

Mobil listrik terus tumbuh di Indonesia, tetapi SUV premium bermesin bensin dan hybrid tetap diminati. Kenyamanan, fleksibilitas, layanan purnajual, dan pengalaman berkendara menjadi penentunya.

Mengapa SUV Premium Tetap Diminati Saat Mobil Listrik Tumbuh?
SUV premium dan kendaraan listrik dipamerkan di GIIAS 2026 di ICE BSD City, Tangerang. (Foto: Istimewa)

Frame Daily, Jakarta – Pertumbuhan kendaraan listrik mengubah peta persaingan otomotif Indonesia. Pilihan model bertambah, harga semakin kompetitif, dan teknologi baterai terus berkembang. Namun, perubahan tersebut belum membuat SUV premium bermesin bensin maupun hybrid kehilangan daya tarik.

Peluncuran All-New Mazda CX-5 generasi ketiga di GIIAS 2026 menjadi salah satu gambaran bahwa produsen masih melihat pasar kuat untuk SUV premium konvensional. Mazda menawarkan model tersebut dalam dua varian dengan harga mulai Rp599 juta hingga Rp689,9 juta OTR Jakarta.

Di saat yang sama, penjualan kendaraan elektrifikasi juga terus tumbuh. GAIKINDO mencatat penjualan PHEV di Indonesia mencapai 2.089 unit selama Januari–April 2026, melonjak dari 91 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pasar BEV juga semakin kompetitif dengan dominasi sejumlah merek China pada daftar model terlaris.

Baca juga: Mazda Luncurkan All-New CX-5 Generasi Ketiga.

SUV Premium Menawarkan Fungsi yang Lebih Luas

SUV premium tidak hanya menjual tenaga atau desain. Posisi duduk tinggi, kabin luas, kapasitas bagasi, kenyamanan perjalanan jauh, dan kemampuan menghadapi kondisi jalan yang beragam menjadi alasan konsumen tetap mempertimbangkannya.

Karakter tersebut relevan untuk pasar Indonesia yang memiliki pola perjalanan berbeda-beda. Sebagian konsumen menggunakan kendaraan untuk aktivitas perkotaan, tetapi tetap membutuhkan fleksibilitas ketika bepergian bersama keluarga atau menempuh perjalanan antarkota.

Pada All-New Mazda CX-5, misalnya, Mazda memperbesar dimensi kendaraan untuk menambah ruang kabin dan kapasitas bagasi. Perusahaan juga mempertahankan mesin SKYACTIV-G 2.5 liter sambil meningkatkan suspensi, pengendalian, peredaman kabin, dan fitur keselamatan.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pasar premium masih menghargai pengalaman berkendara secara menyeluruh, bukan hanya jenis sumber tenaga.

Infrastruktur Masih Memengaruhi Keputusan

Mobil listrik menawarkan biaya energi lebih rendah dan tidak menghasilkan emisi knalpot saat digunakan. Namun, keputusan pembelian tetap dipengaruhi akses pengisian daya.

Konsumen yang memiliki garasi dan fasilitas pengisian di rumah lebih mudah beralih ke kendaraan listrik. Sebaliknya, pengguna yang tinggal di apartemen, tidak memiliki tempat parkir tetap, atau rutin bepergian ke wilayah dengan jaringan pengisian terbatas dapat menilai kendaraan bensin maupun hybrid lebih praktis.

Kondisi tersebut membuat transisi berlangsung secara bertahap. GAIKINDO sebelumnya mencatat penjualan hybrid tetap kuat, dengan volume wholesale mencapai 47.450 unit selama Januari–September 2025. Data itu memperlihatkan konsumen tidak hanya memilih antara bensin dan BEV, tetapi juga mempertimbangkan teknologi perantara.

Baca juga: GIIAS 2026 Menjadi Arena Perang Teknologi Elektrifikasi.

Pengalaman Berkendara Tetap Menjadi Nilai Jual

Pada segmen premium, keputusan membeli kendaraan tidak selalu didasarkan pada efisiensi biaya.

Kualitas material, karakter suspensi, tingkat kebisingan kabin, presisi kemudi, posisi berkendara, serta reputasi merek turut menentukan. Konsumen di segmen ini membayar lebih untuk mendapatkan pengalaman yang konsisten dalam penggunaan sehari-hari.

Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia Ricky Thio mengatakan Mazda tidak berusaha membuat CX-5 generasi ketiga menjadi model yang sepenuhnya berbeda.

“Fokus Mazda bukanlah menciptakan Mazda CX-5 yang sepenuhnya berbeda, melainkan menyempurnakan seluruh aspek yang selama ini paling dihargai pelanggan,” kata Ricky saat peluncuran All-New Mazda CX-5 di GIIAS 2026, sebagaimana dikutip dari ANTARA.

Pernyataan tersebut menunjukkan produsen premium cenderung menjaga karakter produk yang telah dikenal pelanggan, kemudian memperbaiki detail desain, kenyamanan, teknologi, dan keselamatannya.

Layanan Purnajual Menentukan Kepercayaan

Pertumbuhan mobil listrik membawa persaingan harga dan teknologi yang semakin agresif. Namun, konsumen premium juga mempertimbangkan kepastian jangka panjang.

Jaringan bengkel, ketersediaan suku cadang, kualitas layanan, garansi, nilai jual kembali, dan pengalaman dealer dapat menjadi faktor yang sama pentingnya dengan fitur kendaraan.

Merek yang telah memiliki basis pelanggan dan jaringan layanan lebih lama mendapat keuntungan dari tingkat kepercayaan tersebut. Sementara produsen kendaraan listrik baru perlu membuktikan kualitas layanan setelah penjualan, terutama terkait baterai, perangkat lunak, dan ketersediaan komponen.

Karena itu, SUV premium konvensional tetap memiliki ruang selama produsen mampu menawarkan pengalaman kepemilikan yang dinilai lebih pasti.

Mobil Listrik dan SUV Premium Tidak Selalu Berlawanan

Pasar otomotif tidak lagi terbagi secara tegas antara kendaraan konvensional dan mobil listrik.

SUV premium juga semakin banyak menggunakan teknologi hybrid, PHEV, maupun listrik murni. Mazda sendiri telah menawarkan CX-80 PHEV di Indonesia, sementara BMW memasarkan SUV listrik seperti iX3. BMW menyebut model tersebut memiliki jarak tempuh hingga 805 kilometer berdasarkan konfigurasi dan metode pengujian yang digunakan perusahaan.

Artinya, tren SUV dan elektrifikasi dapat berkembang secara bersamaan. Konsumen dapat tetap memilih bentuk SUV premium sambil menentukan teknologi penggerak yang paling sesuai dengan kebutuhan.

Baca juga: Hybrid atau Mobil Listrik, Mana Lebih Cocok untuk Perjalanan Jauh?

Pilihan Konsumen Semakin Tersegmentasi

Pertumbuhan kendaraan listrik tidak otomatis menghapus pasar SUV premium bermesin bensin. Sebaliknya, pasar menjadi semakin tersegmentasi.

Konsumen perkotaan dengan akses pengisian memadai dapat memilih BEV. Pengguna yang mengutamakan fleksibilitas mungkin memilih hybrid atau PHEV. Sementara pembeli yang masih menempatkan kenyamanan, karakter berkendara, dan kepastian layanan sebagai prioritas dapat tetap memilih SUV premium konvensional.

Dalam jangka pendek, teknologi tersebut kemungkinan akan berkembang berdampingan. Pemenangnya bukan hanya kendaraan dengan teknologi paling baru, melainkan produk yang paling mampu menjawab kebutuhan pemilik secara utuh.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar