Frame Daily, Jakarta - Bunga bangkai raksasa terkenal karena ukurannya yang luar biasa dan aroma menyengat menyerupai bangkai ketika mekar. Di balik keunikannya, tumbuhan bernama ilmiah Amorphophallus titanum itu menghadapi persoalan reproduksi yang tidak sederhana.
Ia jarang berbunga. Ketika akhirnya mekar, fase reproduksinya berlangsung singkat. Lebih rumit lagi, bunga betina dan bunga jantan pada satu tanaman tidak matang secara bersamaan. Kondisi itu menjadi salah satu tantangan dalam upaya konservasi bunga bangkai, tumbuhan endemik Sumatra yang berstatus terancam punah.
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kini mencoba mengatasinya dengan strategi yang terdengar seperti fasilitas perbankan Bank polen. Bukan uang yang disimpan di sana, melainkan serbuk sari dari bunga bangkai berbeda yang nantinya dapat digunakan untuk menghasilkan keturunan dengan keragaman genetik lebih baik.
Mengapa Bunga Bangkai Sulit ‘Menemukan Pasangan’?
Untuk memahami pentingnya bank polen, kita perlu melihat cara bunga bangkai berkembang biak. Apa yang terlihat seperti satu bunga raksasa sebenarnya merupakan perbungaan yang terdiri atas banyak bunga kecil. Di bagian dasarnya terdapat bunga betina dan bunga jantan. Masalahnya, keduanya memiliki jadwal berbeda. Bunga betina memasuki fase reseptif terlebih dahulu. Pada fase ini, tanaman mengeluarkan aroma menyengat yang membantu menarik serangga penyerbuk.
Bunga jantan baru melepaskan serbuk sari kemudian, ketika fase bunga betina pada tanaman yang sama telah berakhir. Mekanisme yang disebut protogini ini membantu mengurangi kemungkinan penyerbukan sendiri dan mendorong terjadinya persilangan dengan individu lain. Di alam, strateginya masuk akal. Serangga yang datang dengan membawa polen dari bunga bangkai lain dapat menyerbuki bunga betina. Kemudian, ketika bunga jantan menghasilkan polen, serangga dapat membawanya menuju individu lain yang sedang berada pada fase betina.
Persoalannya, bunga bangkai tidak mekar setiap saat. Pembungaan relatif jarang, singkat dan sulit diprediksi. Studi mengenai koleksi A. titanum di berbagai kebun botani menyebut kondisi tersebut membuat persilangan antartanaman sulit dikoordinasikan. Bayangkan ada satu bunga bangkai yang sedang siap menerima polen hari ini. Tanaman lain yang secara genetik cocok mungkin baru berbunga berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. Keduanya tidak pernah bertemu.
Bank Polen Menjadi Solusi
Di sinilah bank polen bekerja seperti mesin waktu reproduksi. Polen dapat diambil ketika bunga jantan menghasilkan serbuk sari, kemudian disimpan dalam kondisi tertentu. Ketika tanaman lain berbunga dan memasuki fase betina, polen tersebut dapat dikeluarkan kembali untuk membantu penyerbukan buatan. Pelaksana Fungsi Pemrosesan Koleksi Ilmiah Hayati Hidup KKI Kebun Raya Cibodas BRIN, Destri, mengatakan konservasi bunga bangkai pada 2026 mulai difokuskan pada studi keanekaragaman genetik dan pembuatan bank polen.
Salah satu persoalan yang ingin diatasi adalah kedekatan hubungan genetik tanaman koleksi. Bibit yang selama ini dihasilkan masih dapat berasal dari tanaman yang memiliki hubungan kekerabatan dekat atau sibling. Jika persilangan terus dilakukan pada individu-individu berkerabat, keragaman genetik koleksi menjadi persoalan. Dengan bank polen, jarak geografis tidak lagi menjadi hambatan sebesar sebelumnya. Polen dari populasi liar yang berjauhan BRIN memberikan contoh populasi dari Aceh dapat disimpan untuk kemudian digunakan pada koleksi yang tumbuh di Jawa.
Pollen banking ini sangat penting untuk mencegah persilangan antar kerabat dekat, kata Destri dalam Webinar Koleksi Ilmiah pada 7 September 2026.
Tujuannya bukan sekadar menghasilkan bunga bangkai sebanyak mungkin. Yang ingin dipertahankan adalah keragaman genetiknya. Populasi konservasi yang jumlah individunya bertambah tetapi seluruhnya memiliki hubungan kekerabatan dekat tidak memberikan perlindungan genetik yang sama dengan koleksi yang berasal dari garis keturunan beragam.
Polen Bisa ‘Menunggu’ Bertahun-tahun
Gagasan menyimpan polen bunga bangkai bukan sekadar teori. Riset yang diterbitkan pada 2026 memberikan bukti menarik mengenai seberapa lama polen A. titanum dapat bertahan.
Peneliti di Dunedin Botanic Garden, Selandia Baru, menggunakan polen yang dikumpulkan pada 2018 dan disimpan pada suhu minus 80 derajat Celsius untuk melakukan penyerbukan pada tanaman yang berbunga kembali pada 2021. Hasilnya, polen yang telah disimpan sekitar tiga tahun masih mampu digunakan dalam penyerbukan yang berhasil menghasilkan buah dan biji.
Temuan itu sangat penting bagi konservasi. Sebab dua tanaman tidak lagi harus berbunga pada minggu atau bulan yang sama. Polen dari tanaman yang berbunga lebih dahulu dapat disimpan sambil menunggu individu lain memasuki fase reproduksi. Penelitian sebelumnya juga menunjukkan polen A. titanum dapat disimpan menggunakan suhu rendah maupun nitrogen cair dalam kondisi tertentu.
Praktik serupa sudah dilakukan kebun botani di berbagai negara. United States Botanic Garden, misalnya, mengumpulkan polen dari bunga bangkai yang mekar pada 2021. Sebagian dikirim ke Chicago Botanic Garden untuk disimpan dan dibagikan sebagai bagian dari program konservasi.
Botanic Gardens of South Australia juga menjelaskan bahwa biji berdaging A. titanum tidak cocok untuk penyimpanan seperti bank benih konvensional. Karena itu, polen beku dan koleksi tanaman hidup menjadi sangat penting dalam konservasinya.
BRIN Sudah Melakukan Polinasi Buatan
Di Kebun Raya Cibodas, teknik penyimpanan polen juga sudah digunakan dalam proses reproduksi. Menurut Destri, polen yang dipanen dari tanaman yang berbunga sebelumnya disimpan di dalam freezer. Ketika tanaman lain memasuki fase yang tepat, serbuk sari tersebut digunakan untuk polinasi buatan.
Prosesnya pun tidak otomatis berhasil. Persilangan tertutup dapat menciptakan kondisi lembap yang mendukung pertumbuhan jamur. Tim konservasi karena itu melakukan perlakuan antijamur dan antibakteri untuk mengurangi risiko pembusukan.
Teknik tersebut telah berhasil menghasilkan buah dan biji yang kemudian dapat tumbuh menjadi bibit baru. Program konservasi ini melibatkan sejumlah unit riset BRIN, termasuk Pusat Riset Sistem Biota, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Pusat Riset Botani Terapan, serta Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah. Tim juga bekerja sama dengan peneliti dari Chicago Botanic Garden.
Bukan Rafflesia
Ada satu kekeliruan yang sering muncul ketika membicarakan bunga bangkai Indonesia.
Amorphophallus titanum bukan Rafflesia.
Keduanya sama-sama terkenal karena ukuran besar dan aroma yang menyerupai materi membusuk, tetapi merupakan tumbuhan berbeda. A. titanum memiliki struktur menjulang yang disebut spadiks, dikelilingi seludang atau spatha. Spadiks bahkan dapat menghasilkan panas yang membantu menyebarkan senyawa berbau untuk menarik serangga penyerbuk.
Tumbuhan ini juga merupakan flora endemik Sumatra. Studi konservasi dari Indonesia yang diterbitkan pada 2025 menempatkan A. titanum sebagai spesies terancam punah dan menyoroti ancaman seperti kehilangan serta fragmentasi habitat. Itulah sebabnya konservasi di kebun raya tidak cukup hanya dengan memastikan beberapa tanaman tetap hidup.
Koleksi juga harus mampu bereproduksi dan mempertahankan keragaman genetik yang cukup untuk jangka panjang. Bank polen menawarkan salah satu jalan untuk mencapainya. Jika berhasil dikembangkan secara luas, polen dari tanaman yang tumbuh di tempat dan waktu berbeda dapat dipertemukan tanpa harus menunggu dua bunga bangkai mekar secara bersamaan.
Untuk tumbuhan yang terkenal karena membuat manusia menunggu bertahun-tahun hanya untuk melihatnya mekar selama waktu yang singkat, kemampuan menyimpan kesempatan untuk berkembang biak itulah yang bisa menjadi salah satu kunci penyelamatannya.
Komentar