Frame Daily, JAKARTA – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) telah dikaitkan dengan hampir 192.000 pemutusan hubungan kerja (PHK) di Amerika Serikat (AS) sejak 2023. Data terbaru menunjukkan, sebanyak 120.100 pekerja kehilangan pekerjaan akibat AI sepanjang Januari hingga September 2026, mencerminkan meningkatnya dampak teknologi terhadap pasar tenaga kerja.
Angka tersebut setara dengan sekitar 62,6 persen dari total PHK yang dikaitkan dengan AI sejak 2023. Jumlah PHK terkait AI pada sembilan bulan pertama 2026 juga mencapai sekitar 21 persen dari seluruh PHK yang tercatat di AS sepanjang tahun ini.
Data tersebut dihitung kantor berita RIA Novosti berdasarkan laporan perusahaan konsultan ketenagakerjaan dan manajemen sumber daya manusia Amerika Serikat, Challenger, Gray & Christmas. Temuan ini menunjukkan bahwa AI semakin menjadi salah satu faktor yang disebut perusahaan ketika mengurangi jumlah tenaga kerja.
Lonjakan PHK terkait AI menjadi perhatian karena berlangsung di tengah perkembangan teknologi otomatisasi yang semakin luas. Perusahaan menggunakan AI untuk menjalankan sejumlah pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan keterlibatan manusia, meskipun data tersebut belum merinci jenis pekerjaan yang paling terdampak.
PHK Akibat AI Melonjak pada 2026
Berdasarkan data Challenger, Gray & Christmas, jumlah PHK terkait AI meningkat tajam dalam empat tahun terakhir. Pada 2023, jumlah pekerja di AS yang kehilangan pekerjaan dengan alasan AI tercatat sebanyak 4.200 orang.

Angka tersebut naik menjadi 12.700 orang pada 2024, kemudian melonjak menjadi 54.800 orang pada 2025. Tren peningkatan berlanjut pada 2026, dengan 120.100 pekerja terdampak hanya dalam periode Januari hingga September.
Jika dibandingkan dengan 2025, jumlah PHK terkait AI pada sembilan bulan pertama 2026 sudah lebih dari dua kali lipat angka sepanjang tahun sebelumnya. Perbandingan ini memperlihatkan besarnya peningkatan yang tercatat, meskipun angka untuk periode sembilan bulan dan satu tahun penuh perlu dibaca dengan memperhatikan perbedaan rentang waktu.
Data tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa seluruh pengurangan tenaga kerja terjadi semata-mata karena otomatisasi. Angka yang disajikan merupakan PHK yang dikaitkan dengan AI berdasarkan pelaporan perusahaan dan penghitungan lembaga terkait.
Mei 2026 Catat Lonjakan Tertinggi
Lonjakan PHK terkait AI juga terlihat dalam catatan bulanan selama dua tahun terakhir. Berdasarkan perhitungan RIA Novosti, jumlah tertinggi terjadi pada Mei 2026, ketika sebanyak 38.600 pekerja di AS kehilangan pekerjaan dengan alasan tersebut.
Posisi berikutnya ditempati Oktober 2025 dengan 31.000 pekerja, disusul April 2026 yang mencatat 21.500 pekerja. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dampak AI terhadap pengurangan tenaga kerja tidak terjadi secara merata setiap bulan.
Besarnya angka pada Mei 2026 menjadi salah satu indikator penting untuk memantau perubahan kebutuhan tenaga kerja di tengah perkembangan teknologi. Meski begitu, data bulanan tersebut belum menjelaskan sektor industri maupun jabatan yang menyumbang PHK terbesar.
Tantangan Baru bagi Pasar Tenaga Kerja
Peningkatan PHK yang dikaitkan dengan AI menyoroti tantangan bagi pekerja dan perusahaan dalam menghadapi perubahan teknologi. Kebutuhan terhadap keterampilan baru menjadi isu penting ketika sebagian tugas dapat dijalankan melalui sistem otomatisasi.
Bagi dunia kerja, data tersebut juga memperkuat urgensi peningkatan kompetensi digital dan penyesuaian keterampilan pekerja. Perusahaan perlu mempertimbangkan dampak perubahan teknologi terhadap tenaga kerja, termasuk kebutuhan pelatihan dan peralihan ke jenis pekerjaan baru.
Meski demikian, data Challenger, Gray & Christmas yang dikutip RIA Novosti belum memberikan gambaran lengkap mengenai penciptaan lapangan kerja baru akibat AI maupun dampak bersih teknologi tersebut terhadap keseluruhan pasar tenaga kerja AS.
Perkembangan berikutnya akan bergantung pada bagaimana perusahaan mengadopsi AI, jenis pekerjaan yang terdampak, serta kemampuan pekerja menyesuaikan diri. Data PHK hingga September 2026 menjadi sinyal kuat bahwa hubungan antara otomatisasi dan kebutuhan tenaga kerja akan terus menjadi perhatian dalam dinamika ekonomi AS.
Komentar