5.000 Warga Turki Terserang Infeksi Diduga Dari Air, Puluhan Dirawat

Sekitar 5.000 warga Tokat, Turki utara, mengalami mual dan diare. Sebanyak 70 orang dirawat, sementara sampel air minum diuji.

5.000 Warga Turki Terserang Infeksi Diduga Dari Air, Puluhan Dirawat
Ilustrasi. Sekitar 5.000 warga Tokat, Turki utara, mengalami mual dan diare. (FDN/AI)

Frame Daily, JAKARTA – Sekitar 5.000 warga Provinsi Tokat, Turkiye utara, mengalami mual dan diare hingga mendatangi fasilitas kesehatan sejak Jumat (9/10/2026). Dari jumlah tersebut, 70 orang sempat dirawat di rumah sakit, dengan 30 pasien masih menjalani perawatan hingga Senin (12/10/2026).

Gubernur Tokat, Abdullah Koklu, mengatakan pemerintah daerah telah mengambil langkah penanganan untuk mengetahui penyebab munculnya kasus infeksi tersebut. Salah satu upaya yang dilakukan ialah mengirimkan sampel air minum ke Kementerian Kesehatan di Ankara untuk memastikan kemungkinan adanya kontaminasi.

Koklu menyampaikan perkembangan penanganan itu kepada wartawan setelah mengunjungi pasien di Rumah Sakit Tokat. Ia menegaskan, hingga saat ini belum ada laporan mengenai ancaman terhadap nyawa pasien.

“Sekitar 5.000 orang telah memeriksakan diri ke dokter. Sekitar 70 orang di antaranya dirawat di rumah sakit, 40 orang lainnya telah dipulangkan, dan 30 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit,” kata Koklu, sebagaimana diberitakan ANTARA, Selasa (13/10/2026).

Sampel Air Minum Diuji

Penyebab gangguan kesehatan yang dialami ribuan warga Tokat masih dalam penyelidikan. Pemerintah setempat belum memastikan apakah kasus mual dan diare tersebut berkaitan dengan kualitas air minum atau faktor lain.

Koklu mengatakan, sampel air minum telah dikirimkan ke Kementerian Kesehatan Turkiye untuk menjalani pemeriksaan. Hasil pengujian tersebut diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai kemungkinan sumber infeksi.

“Kami ingin memastikan bahwa sumber infeksi bukan berasal dari air. Kami akan menerima informasi mengenai hal ini besok atau paling lambat Rabu pagi,” ujar Koklu.

Berdasarkan keterangan tersebut, hasil pemeriksaan diperkirakan diterima pada Selasa (13/10/2026) atau paling lambat Rabu (14/10/2026). Kepastian hasil uji menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.

Hingga hasil laboratorium tersedia, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa air minum merupakan penyebab utama kasus tersebut. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengidentifikasi sumber penularan dan mencegah bertambahnya jumlah warga yang mengalami gejala serupa.

Sekolah dan Kantor Jalani Sanitasi

Sebagai langkah pencegahan, pemerintah daerah telah melakukan tindakan sanitasi di sekolah-sekolah dan lembaga pemerintah di Provinsi Tokat. Langkah tersebut dilaksanakan pada Minggu (11/10/2026), menyusul munculnya laporan gangguan kesehatan sejak dua hari sebelumnya.

Sanitasi dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi potensi penyebaran penyakit. Meski demikian, pemerintah belum menyampaikan adanya hubungan langsung antara lingkungan sekolah atau kantor pemerintahan dan kasus infeksi yang sedang diselidiki.

Gubernur Koklu juga mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman selama proses pemeriksaan berlangsung. Imbauan tersebut disampaikan sembari menunggu hasil pengujian sampel air minum dari otoritas kesehatan.

“Kami mengimbau warga agar berhati-hati dalam mengonsumsi makanan dan minuman,” kata Koklu.

Pemerintah Minta Warga Tetap Tenang

Di tengah meningkatnya jumlah warga yang memeriksakan diri, pemerintah Provinsi Tokat menyatakan belum ada alasan bagi masyarakat untuk panik. Pernyataan itu disampaikan dengan mempertimbangkan kondisi pasien yang dilaporkan tidak menghadapi ancaman terhadap nyawa.

Meski demikian, banyaknya warga yang mengalami gejala serupa membuat penelusuran penyebab kejadian menjadi perhatian penting. Pemerintah perlu memastikan apakah kasus tersebut berkaitan dengan sumber air, makanan, atau faktor lain yang dapat memicu gangguan kesehatan secara bersamaan.

Data yang disampaikan Koklu menunjukkan bahwa dari 70 pasien yang dirawat di rumah sakit, 40 orang telah diperbolehkan pulang, sedangkan 30 orang masih menjalani perawatan. Angka tersebut menjadi gambaran awal penanganan medis terhadap warga yang mengalami gejala mual dan diare.

Informasi mengenai hasil pengujian air minum dan perkembangan kondisi pasien masih dinantikan. Pemerintah setempat diharapkan dapat menyampaikan hasil penyelidikan setelah pemeriksaan selesai sehingga masyarakat memperoleh informasi yang jelas mengenai penyebab kejadian dan langkah pencegahan yang diperlukan.

Ditulis oleh Nurmalita Aninditya

Komentar