Kain Ulos menjadi Tren Streetwear di kalangan Anak Muda

Kain Ulos dan wastra Nusantara semakin populer di kalangan anak muda. Lewat BTN Indonesia Fashion Week, kain adat tampil modern dalam gaya streetwear.

Kain Ulos menjadi Tren Streetwear di kalangan Anak Muda
BTN Indonesia Fashion Week 2026 mengusung tema "Ulos Simetria" dan menghadirkan lebih dari 200 desainer serta jenama fesyen sebagai upaya memperkuat ekosistem fesyen Indonesia dengan melibatkan perancang busana, merek fesyen, rumah mode, perajin, dan pelaku UMKM. Acara berlangsung hingga 3 Agustus 2026. (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/wsj)

Frame Daily, JakartaKain Ulos dan berbagai wastra Nusantara semakin mendapat ruang di industri fesyen nasional. Tidak lagi identik dengan pakaian adat atau acara seremonial, kain tradisional kini hadir dalam tampilan yang lebih modern dan mudah dikenakan sehari-hari. Momentum tersebut semakin menguat seiring penyelenggaraan BTN Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 yang mengangkat tema "Ulos Simetria", sebuah konsep yang menempatkan Ulos sebagai inspirasi utama dalam karya para desainer Indonesia.

Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan cara pandang masyarakat, terutama generasi muda, terhadap kain tradisional. Jika sebelumnya wastra hanya dikenakan pada momen tertentu, kini Ulos mulai dipadukan dengan jaket denim, celana kargo, sneakers, hingga aksesori kasual yang menciptakan tampilan streetwear tanpa meninggalkan nilai budaya.

Tren ini sekaligus menjadi sinyal bahwa pelestarian budaya tidak selalu dilakukan melalui cara konvensional. Dunia fesyen menjadi medium baru yang mempertemukan tradisi dengan kreativitas generasi muda.

BTN Indonesia Fashion Week Angkat Ulos sebagai Sorotan

Model memperagakan busana karya Zul Said dalam BTN Indonesia Fashion Week 2026 di JICC, Jakarta, Rabu (29/7/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Fauzan/nym)

Indonesia Fashion Week 2026 kembali menjadi panggung bagi perkembangan industri mode nasional. Tahun ini, penyelenggara memilih tema "Ulos Simetria" yang mengangkat kekayaan budaya Sumatera Utara sekaligus memperlihatkan bagaimana kain tradisional dapat diterjemahkan ke dalam desain kontemporer.

Ketua Umum Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) sekaligus Presiden Indonesia Fashion Week, Poppy Dharsono, menjelaskan bahwa tema tersebut dipilih untuk menunjukkan potensi besar warisan budaya Indonesia agar terus berkembang melalui inovasi dan menjadi bagian dari percakapan fesyen dunia.

Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara juga menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan IFW tahun ini. Selain memperkenalkan kain Ulos, ajang tersebut turut mempromosikan UMKM, pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif daerah kepada pasar nasional maupun internasional.

Keberadaan panggung seperti IFW membuka peluang bagi para desainer untuk mengeksplorasi motif tradisional tanpa menghilangkan makna yang melekat pada setiap helai kain.

Streetwear Menjadi Cara Baru Mengenalkan Wastra Nusantara

Fenomena menarik justru terlihat di luar panggung peragaan busana. Anak muda mulai menjadikan kain tradisional sebagai bagian dari gaya berpakaian sehari-hari.

Ulos tidak lagi hanya dijadikan selendang adat, tetapi diolah menjadi outer, vest, bucket hat, tote bag, panel jaket, hingga detail pada sneakers atau tas. Perpaduan tersebut menghasilkan tampilan yang lebih santai sekaligus memiliki identitas lokal yang kuat.

Konsep streetwear memang memberi ruang bagi eksplorasi berbagai material dan budaya. Karena itu, kain tradisional dapat tampil lebih fleksibel ketika dipadukan dengan kaus polos, celana jeans, cargo pants, hoodie, atau sepatu sneakers.

Bagi generasi muda, mengenakan wastra kini bukan sekadar mengikuti tren, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi terhadap budaya Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Memadukan Ulos Tanpa Terlihat Kaku

Salah satu tantangan menggunakan kain tradisional adalah kekhawatiran tampil terlalu formal. Namun para pelaku industri fesyen menilai hal tersebut dapat diatasi melalui teknik styling yang tepat.

Penggunaan Ulos sebagai aksen merupakan salah satu pendekatan yang banyak diterapkan. Misalnya, cukup mengenakan jaket dengan panel Ulos, sling bag bermotif Ulos, atau scarf sebagai pelengkap busana.

Pemilihan warna netral seperti hitam, putih, abu-abu, atau denim juga membantu menonjolkan motif kain tanpa membuat keseluruhan penampilan terlihat berlebihan.

Sementara itu, siluet pakaian yang longgar atau oversized, yang saat ini digemari anak muda, dinilai cocok dipadukan dengan elemen wastra sehingga menghasilkan kesan modern, kasual, dan tetap menghormati nilai budaya.

Peluang Industri Kreatif dan UMKM

Meningkatnya minat terhadap kain tradisional tidak hanya berdampak pada dunia mode, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi pelaku industri kreatif.

Perajin tenun, UMKM fesyen, hingga desainer lokal memperoleh kesempatan lebih luas untuk memperkenalkan produk mereka kepada konsumen baru. Kehadiran Indonesia Fashion Week menjadi salah satu etalase penting yang mempertemukan pelaku usaha dengan pembeli, investor, maupun pasar internasional.

Tren ini juga mendorong lahirnya berbagai kolaborasi antara desainer, perajin daerah, dan merek fesyen lokal sehingga nilai budaya yang terkandung dalam kain tradisional tetap terjaga sekaligus memiliki daya saing di pasar modern.

Di sisi lain, meningkatnya penggunaan kain adat dalam produk komersial juga mengingatkan pentingnya menjaga penghormatan terhadap makna budaya yang melekat pada setiap motif. Pengembangan desain perlu dilakukan secara kreatif tanpa menghilangkan nilai filosofis yang diwariskan oleh masyarakat adat.

Melalui momentum BTN Indonesia Fashion Week 2026, kain Ulos dan berbagai wastra Nusantara menunjukkan bahwa tradisi mampu berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Kehadirannya dalam gaya streetwear membuktikan bahwa identitas budaya Indonesia dapat tampil relevan, dekat dengan generasi muda, sekaligus menjadi kekuatan baru bagi industri fesyen nasional di masa depan.

Ditulis oleh Tita Melati

Komentar