Frame Daily, Jakarta - Bayangkan suatu pagi seluruh serangga di Bumi menghilang. Tidak ada lagi nyamuk yang menggigit, lalat yang mengganggu makanan, atau kecoak yang muncul di rumah. Bagi manusia, dunia seperti itu mungkin terdengar nyaman.
Bersamaan dengan hilangnya hewan-hewan yang dianggap mengganggu itu, lebah, kupu-kupu, kumbang, semut dan jutaan jenis serangga lainnya juga lenyap. Dampaknya bukan sekadar dunia menjadi lebih sepi. Banyak fungsi penting ekosistem akan terganggu, mulai dari penyerbukan tanaman, penguraian bahan organik hingga rantai makanan.
Banyak Makanan Mulai Bermasalah
Salah satu dampak paling cepat akan terlihat pada tumbuhan yang membutuhkan serangga untuk membantu penyerbukan. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menyebut sekitar 75 persen jenis tanaman pangan utama dunia setidaknya sebagian bergantung pada penyerbuk. Penyerbukan oleh hewan berkontribusi terhadap sekitar 35 persen volume produksi tanaman dunia.
Namun ini bukan berarti 75 persen makanan manusia langsung menghilang. Tanaman pangan penting seperti gandum, padi dan jagung terutama mengandalkan angin atau mekanisme lain dalam penyerbukannya. Dampak besar justru akan terasa pada keragaman makanan, termasuk banyak buah, sayuran, kacang-kacangan dan biji-bijian. Jika serangga benar-benar lenyap, produksi sejumlah tanaman dapat merosot, harga pangan berpotensi meningkat dan pilihan makanan bergizi menjadi lebih terbatas.
Rantai Makanan Ikut Terguncang
Serangga merupakan makanan bagi banyak burung, ikan, katak, reptil dan mamalia kecil. Jika sumber makanan itu tiba-tiba hilang, hewan yang sangat bergantung pada serangga akan menghadapi tekanan besar. Dampaknya kemudian dapat merambat kepada predator lain yang berada lebih tinggi dalam rantai makanan.
Kajian ilmiah menunjukkan penurunan populasi serangga dapat mengganggu stabilitas rantai makanan, siklus nutrisi, pengendalian hama hingga penyimpanan karbon dalam ekosistem.
Ada pula pekerjaan yang jarang terlihat membersihkan dunia. Berbagai serangga membantu menguraikan bangkai, kotoran hewan, daun dan material organik lainnya. Nutrisi dari material tersebut kemudian kembali ke tanah dan digunakan lagi oleh tumbuhan. Tanpa mereka, proses daur ulang alami ini akan terganggu.
Apakah Manusia Akan Punah?
Tidak ada dasar ilmiah untuk mengatakan manusia akan langsung punah begitu serangga menghilang. Manusia masih memiliki tanaman yang tidak bergantung pada serangga, teknologi pertanian dan kemampuan mengubah sistem produksi pangan.
Tetapi mempertahankan kehidupan miliaran manusia dalam ekosistem yang kehilangan seluruh serangganya akan menjadi persoalan yang sangat besar. Hilangnya penyerbuk akan mengurangi produksi sejumlah tanaman, sementara runtuhnya populasi hewan pemakan serangga dan terganggunya penguraian material organik dapat menciptakan efek berantai di berbagai ekosistem.
FAO memperingatkan bahwa tanpa penyerbuk, banyak spesies dan proses yang saling terhubung dalam ekosistem dapat mengalami keruntuhan. Jadi, dunia tanpa nyamuk mungkin terdengar menarik. Tetapi dunia tanpa semua serangga adalah cerita yang sangat berbeda.
Makhluk kecil yang sering tidak kita perhatikan itu menjalankan banyak pekerjaan yang memungkinkan tumbuhan berkembang biak, nutrisi kembali ke tanah dan rantai makanan terus berjalan. Jika seluruh serangga lenyap, manusia mungkin tidak langsung menghilang. Dunia yang menopang kehidupan manusia akan berubah secara drastis dan jauh lebih sulit untuk ditinggali.
Komentar