Istiqlal Jadi Masjid Pertama yang Masuk Bursa Efek

Masjid Istiqlal catat sejarah jadi masjid pertama masuk Bursa Efek Indonesia lewat pengelolaan wakaf produktif untuk pemberdayaan ekonomi umat yang berkelanjutan.

Istiqlal Jadi Masjid Pertama yang Masuk Bursa Efek
Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama, Nasaruddin Umar

Frame Daily, Jakarta - Masjid Istiqlal mencatat sejarah baru dalam dunia keuangan syariah nasional. Rumah ibadah terbesar di Asia Tenggara ini resmi menjadi masjid pertama yang masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pengembangan program wakaf produktif demi memperkuat pemberdayaan ekonomi umat.

Langkah terobosan ini memadukan prinsip-prinsip syariah dengan instrumen pasar modal modern. Pengelolaan dana wakaf tidak lagi hanya berfokus pada instrumen konvensional statis, melainkan bergerak aktif di pasar keuangan syariah yang tepercaya.

Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus Menteri Agama, Nasaruddin Umar, menyampaikan bahwa kolaborasi strategis ini dirancang untuk menciptakan ekosistem finansial Islam yang transparan, akuntabel, dan memberikan imbal hasil yang lebih optimal bagi masyarakat.

"Pertama kali masjid yang masuk Bursa Efek adalah Masjid Istiqlal," ujar Nasaruddin di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (7/8/2026).

Inovasi Pengelolaan Wakaf Tunai

Dalam keterangannya, Nasaruddin menjelaskan bahwa pengelolaan wakaf tunai yang dihimpun dari masyarakat kini dimaksimalkan melalui kerja sama langsung dengan Bursa Efek Indonesia. Strategi investasi ini dipilih agar dana wakaf yang terkumpul dapat berkembang secara produktif dan memberikan nilai tambah yang signifikan.

Melalui skema pasar modal syariah, potensi imbal hasil dari instrumen wakaf produktif dinilai berpotensi lebih tinggi jika dibandingkan dengan penyimpanan dana biasa. Hasil pengembangannya tidak mengendap begitu saja, melainkan terus diputar dalam instrumen investasi yang terdaftar resmi dan diawasi instansi berwenang.

Hasil dividen atau keuntungan dari pengelolaan wakaf produktif di bursa saham tersebut nantinya dialokasikan kembali secara utuh untuk kepentingan masyarakat luas. Masjid Istiqlal bertindak sebagai pengelola instrumen yang memastikan dana mengalir ke sektor-sektor sosial produktif.

"Sehingga dengan demikian ada pemberdayaan ekonomi umat yang tidak kalah kalau kita melakukan deposito di bank-bank. Tapi di sini kita pakai istilah wakaf produktif, sahamnya sebagian keuntungannya diberikan ke umat melalui Istiqlal yang kita sejajarkan dengan Bursa Efek," jelas Nasaruddin.

Penguatan Ekonomi dan Program Pemberdayaan Umat

Pengembangan instrumen keuangan ini berfokus pada keberlanjutan manfaat sosial. Imbal hasil yang didapatkan dari pasar modal dialokasikan untuk mendanai berbagai kegiatan sosial, bantuan ekonomi mikro, pendidikan, hingga program kemasyarakatan yang dikelola oleh Badan Pengelola Masjid Istiqlal (BPMI).

Salah satu bentuk implementasi konkret dari alokasi dana sosial tersebut mencakup berbagai kegiatan kemasyarakatan berskala besar yang langsung menyentuh kebutuhan masyarakat, seperti penyelenggaraan program nikah massal hingga program bantuan kesejahteraan lainnya.

Inovasi ini diharapkan menjadi contoh cikal bakal bagi pengelola masjid (nazhir) lainnya di seluruh Indonesia. Dengan memanfaatkan pasar modal syariah, institusi keagamaan dapat bertransformasi menjadi pilar kekuatan ekonomi yang mandiri dan memberi dampak nyata secara luas.

Langkah historis Masjid Istiqlal ini menandai era baru tata kelola keuangan berbasis syariah di Indonesia. Penggabungan antara nilai kepedulian sosial Islam dan profesionalisme pasar modal diyakini mampu mempercepat pemerataan kesejahteraan ekonomi masyarakat di masa depan.

Ditulis oleh Siswanto

Komentar