Frame Daily, Jakarta – PT Indika Energy Tbk (INDY) membukukan laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$10,2 juta pada Semester I-2026. Di balik pertumbuhan kinerja tersebut, perusahaan semakin mempertegas arah transformasi bisnis dengan mengalokasikan 99,1 persen belanja modal untuk pengembangan portofolio non-batubara.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 30 Juni 2026, Indika Energy mencatat pendapatan sebesar US$1,146,9 miliar, meningkat 19,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar US$956,8 juta.
Kenaikan pendapatan terutama ditopang oleh kontribusi yang lebih tinggi dari Kideco Jaya Agung, Tripatra, Interport Mandiri Utama, serta Indika Indonesia Resources.
Laba Naik, EBITDA Menguat
Selain pendapatan, Indika Energy juga mencatat peningkatan profitabilitas.
Laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk naik dari US$2,2 juta pada Semester I-2025 menjadi US$10,2 juta pada Semester I-2026.
Sementara itu, Adjusted EBITDA tumbuh 43,8 persen menjadi US$139,1 juta, dibandingkan US$96,8 juta pada periode yang sama tahun lalu. Marjin Adjusted EBITDA juga meningkat menjadi 12,1 persen dari sebelumnya 10,1 persen.
Perusahaan turut membukukan kenaikan laba usaha sebesar 82,9 persen menjadi US$99 juta, didukung pertumbuhan laba kotor sebesar 36,5 persen menjadi US$181,2 juta.
Fokus Perkuat Bisnis Non-Batubara
Meski bisnis batubara masih menjadi kontributor utama pendapatan, Indika Energy memperlihatkan arah investasi yang semakin bergeser.
Dari total belanja modal sebesar US$83,1 juta sepanjang Semester I-2026, sekitar 99,1 persen dialokasikan untuk pengembangan bisnis non-batubara.
Sebagian besar dana tersebut digunakan untuk pengembangan Proyek Awak Mas, proyek tambang emas yang menjadi salah satu investasi strategis perusahaan.
Hingga 30 Juni 2026, progres konstruksi Awak Mas telah mencapai 60,63 persen menuju tahap Commissioning 2 (C2), dengan total investasi proyek yang telah dikeluarkan mencapai US$340 juta.
Direktur Utama sekaligus Group CEO Indika Energy Azis Armand mengatakan kinerja Semester I-2026 mencerminkan penguatan operasional sekaligus konsistensi perusahaan menjalankan strategi diversifikasi.
"Kinerja Semester I-2026 menunjukkan penguatan operasional di berbagai lini bisnis, tercermin dari pertumbuhan pendapatan, laba kotor, dan adjusted EBITDA. Pada saat yang sama, alokasi lebih dari 99 persen belanja modal ke bisnis non-batubara, terutama pengembangan proyek Awak Mas, menegaskan disiplin kami dalam membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi, resilien, dan berkelanjutan," ujar Azis Armand dalam keterangan resmi Indika Energy, Jumat (31/7/2026).
Kideco Tetap Menjadi Penopang
Di sisi operasional, Kideco Jaya Agung masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan Perseroan.
Pendapatan Kideco meningkat 10,2 persen menjadi US$855,1 juta, didukung kenaikan harga jual rata-rata menjadi US$54,7 per ton serta volume penjualan sebesar 14,8 juta ton.
Sebanyak 43,5 persen penjualan Kideco dipasarkan ke dalam negeri, sementara 56,5 persen lainnya diekspor ke berbagai negara.
Selain itu, bisnis rekayasa melalui Tripatra mencatat pertumbuhan pendapatan 41,3 persen menjadi US$167,4 juta, sedangkan Interport Mandiri Utama tumbuh 57,9 persen menjadi US$86,7 juta.
Diversifikasi Jadi Strategi Jangka Panjang
Langkah Indika Energy mengalokasikan hampir seluruh belanja modal ke sektor non-batubara memperlihatkan strategi perusahaan dalam membangun sumber pertumbuhan baru di tengah dinamika industri energi global.
Selain tetap mempertahankan kinerja bisnis batubara, perusahaan mulai memperbesar investasi pada sektor pertambangan mineral, logistik, jasa energi, hingga bisnis pendukung transisi energi.
Strategi tersebut diharapkan mampu menciptakan portofolio usaha yang lebih beragam sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bisnis batubara dalam jangka panjang.
Komentar