IEU-CEPA Ditargetkan Diteken Oktober, Produk RI Apa yang Paling Diuntungkan?

IEU-CEPA ditargetkan diteken Oktober 2026. Sebanyak 90,4 persen pos tarif bagi Indonesia akan langsung menjadi nol. Sawit, tekstil hingga alas kaki berpeluang mendapat manfaat.

IEU-CEPA Ditargetkan Diteken Oktober, Produk RI Apa yang Paling Diuntungkan?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pertemuan bersama Delegasi Uni Eropa dan perwakilan negara anggota Uni Eropa di Jakarta. (Foto: Frame Daily)

Frame Daily, Jakarta – Indonesia semakin dekat dengan perjanjian perdagangan bebas bersama Uni Eropa setelah negosiasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) memasuki tahap akhir.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menargetkan perjanjian tersebut dapat ditandatangani pada Oktober 2026.

Jika IEU-CEPA kemudian diimplementasikan, Indonesia akan memperoleh akses pasar berupa 90,4 persen pos tarif yang langsung menjadi 0 persen, sedangkan 8,37 persen lainnya akan berkurang secara bertahap.

Penurunan tarif tersebut membuka peluang bagi sejumlah produk Indonesia menjadi lebih kompetitif ketika memasuki pasar Uni Eropa.

Lantas, sektor apa yang berpotensi memperoleh keuntungan terbesar dari IEU-CEPA?

Sawit, Tekstil hingga Alas Kaki Berpeluang Besar

Pemerintah mengidentifikasi sejumlah komoditas yang berpotensi memperoleh manfaat dari perluasan akses pasar Uni Eropa.

Di antaranya adalah minyak sawit, alas kaki, kopi, furnitur, produk pertanian dan perikanan, serta telekomunikasi.

Dari kelompok tersebut, sawit, tekstil dan alas kaki menjadi tiga sektor yang paling menonjol.

Komisi Eropa dalam penjelasan resmi mengenai elemen utama perjanjian juga secara spesifik menyebut palm oil, textile, dan footwear sebagai sektor ekonomi utama Indonesia yang akan mendapatkan manfaat dari perjanjian perdagangan tersebut.

Dampaknya terutama datang dari penurunan hambatan tarif.

Ketika tarif masuk berkurang atau menjadi nol, harga produk Indonesia dapat menjadi lebih kompetitif dibandingkan sebelum memperoleh fasilitas preferensial.

Potensi tersebut menjadi signifikan mengingat Uni Eropa merupakan salah satu pasar ekspor penting Indonesia.

Pada 2024, nilai ekspor Indonesia ke Uni Eropa mencapai sekitar US$17,35 miliar, setara 6,5 persen dari total ekspor Indonesia sebesar US$264,70 miliar.

Komoditas utama Indonesia yang masuk ke pasar tersebut antara lain minyak kelapa sawit dan turunannya, bijih tembaga, fatty acids atau oleokimia, alas kaki, besi dan baja, produk berbasis karet, serta mesin.

Artinya, sebagian industri yang berpotensi mendapatkan fasilitas IEU-CEPA sebenarnya sudah memiliki basis pasar di Eropa.

Pengurangan tarif dapat memperkuat daya saing produk tersebut sekaligus membuka ruang untuk meningkatkan volume ekspor.

Perikanan hingga Elektronik Bisa Buka Pasar Baru

Peluang IEU-CEPA tidak berhenti pada produk komoditas dan industri padat karya.

Produk perikanan juga menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian selama proses negosiasi.

Pemerintah Indonesia sebelumnya mendorong Uni Eropa memberikan akses pasar yang lebih besar bagi produk unggulan seperti ikan kaleng, terutama tuna.

Sementara untuk produk dengan teknologi lebih tinggi, pemerintah melihat peluang diversifikasi ekspor melalui ponsel pintar dan perangkat telekomunikasi.

Dalam kesepakatan substantif IEU-CEPA, pemerintah menyatakan peluang ekspor produk tersebut dapat membantu diversifikasi ekspor Indonesia sehingga perdagangan dengan Eropa tidak hanya bertumpu pada komoditas.

Sektor elektronik juga menarik dari sisi investasi.

Komisi Eropa menyebut perjanjian dengan Indonesia akan membuka peluang investasi baru, khususnya pada sektor strategis seperti kendaraan listrik, elektronik dan farmasi.

Hal tersebut menunjukkan manfaat IEU-CEPA bagi Indonesia tidak hanya dapat datang melalui ekspor barang.

Peningkatan kepastian perdagangan dan investasi berpotensi membuat Indonesia semakin terintegrasi dengan rantai pasok perusahaan Eropa, terutama untuk industri yang membutuhkan basis produksi di kawasan Asia Tenggara.

IEU-CEPA Bukan Hanya soal Tarif Nol

IEU-CEPA memiliki cakupan lebih luas dibandingkan sekadar pemangkasan bea masuk.

Perjanjian juga mencakup penyederhanaan prosedur perdagangan, investasi, perdagangan jasa, hak kekayaan intelektual, hingga sejumlah aspek keberlanjutan dan rantai pasok.

Airlangga bahkan menyebut IEU-CEPA sebagai game changer untuk memperkuat perdagangan, investasi, diversifikasi rantai pasok, serta ketahanan ekonomi bilateral Indonesia-Uni Eropa.

Bagi Indonesia, peningkatan akses pasar Eropa juga penting dalam upaya diversifikasi tujuan ekspor.

Sementara bagi Uni Eropa, Indonesia menawarkan pasar domestik yang besar sekaligus peluang investasi pada sejumlah sektor strategis.

Data Komisi Eropa menunjukkan stok investasi Uni Eropa di Indonesia mencapai €25,1 miliar pada 2023. Lebih dari 15.000 usaha kecil dan menengah Uni Eropa juga tercatat melakukan ekspor ke Indonesia.

Meski demikian, penandatanganan IEU-CEPA bukan berarti seluruh fasilitas tersebut langsung berlaku pada hari yang sama.

Setelah perjanjian ditandatangani, masih terdapat tahapan ratifikasi sebelum implementasi.

Airlangga sebelumnya menargetkan proses tersebut dapat diselesaikan sehingga IEU-CEPA mulai diimplementasikan pada awal 2027.

Karena itu, bagi pelaku usaha Indonesia, pertanyaan berikutnya bukan hanya kapan IEU-CEPA ditandatangani, tetapi seberapa siap industri dalam negeri memanfaatkan penurunan tarif untuk memperbesar penetrasi ke pasar Eropa.

Sawit, tekstil dan alas kaki berada di barisan depan. Namun, peluang yang lebih panjang dapat muncul apabila Indonesia mampu memperluas ekspor ke produk bernilai tambah lebih tinggi, termasuk elektronik dan perangkat telekomunikasi.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar