Frame Daily, Jakarta – Indonesia perlu memperkuat langkah antisipasi menghadapi dampak El Nino yang bertepatan dengan puncak musim kemarau 2026. Risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, kebakaran hingga gangguan terhadap produksi pangan menjadi sejumlah ancaman yang perlu diwaspadai.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno menekankan pentingnya respons cepat terhadap informasi peringatan dini saat membuka Emergency Disaster Reduction & Rescue Expo (EDRR) Indonesia 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Pratikno dalam sambutannya menyinggung informasi BMKG mengenai perkembangan El Nino dan meminta berbagai pihak tidak berhenti pada membaca peringatan yang diberikan.
Menurut dia, informasi tersebut harus segera diterjemahkan menjadi langkah antisipasi untuk menekan risiko yang dapat muncul.
“Bagaimana kita merespons cepat agar risiko dari El Nino bisa kita minimalisir,” kata Pratikno.
Pernyataan tersebut sejalan dengan perkembangan terbaru yang dipantau BMKG. Pada akhir Juli 2026, BMKG menyatakan El Niño telah aktif, dengan anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 tercatat +1,47. Kondisi tersebut memperkuat atmosfer kering yang biasanya terjadi selama musim kemarau di Indonesia.
Kekeringan hingga Produksi Pangan
Pratikno mengingatkan dampak kondisi kering dapat menjalar ke berbagai sektor apabila tidak diantisipasi sejak dini.
Kekeringan berkepanjangan dapat mengurangi ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat. Kondisi lahan yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran.
“Karena kekeringan yang panjang membuat stok air berkurang untuk kebutuhan sehari-hari, membuat lahan menjadi kering, kebakaran berisiko dan seterusnya,” ujar Pratikno.
Ia juga mengingatkan adanya risiko terhadap produksi pangan. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena sebagian besar Indonesia saat ini memang sedang berada pada periode puncak musim kemarau.
BMKG sebelumnya memperkirakan sebanyak 369 Zona Musim (ZOM), atau 48,84 persen luas daratan Indonesia, mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Sebanyak 169 ZOM atau 25,41 persen luas daratan lainnya diperkirakan mencapai puncak kemarau pada September.
Pemutakhiran BMKG juga menunjukkan bahwa 56,18 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami curah hujan kategori bawah normal, atau lebih kering dibanding biasanya.
Selain itu dampak El Nino terhadap Indonesia perlu diperhatikan ketika fenomena tersebut bertemu dengan musim kemarau hingga sekitar pertengahan Oktober 2026.
Peringatan Dini Harus Diikuti Aksi
Pratikno menilai perkembangan teknologi telah membuat kemampuan memberikan peringatan dini semakin baik.
Namun informasi tersebut tidak akan memberikan dampak maksimal apabila pemerintah dan masyarakat terlambat merespons.
“Peringatan dini hanya bermakna jika diikuti dengan aksi dini,” kata Pratikno.
Menurut dia, teknologi kini mampu memberikan waktu tambahan untuk mengurangi risiko bahkan menjelang terjadinya suatu bencana.
Karena itu, penguasaan teknologi tidak cukup berhenti pada kemampuan menghasilkan analisis.
“Jangan sampai teknologi canggih hanya untuk kita baca analisisnya, hanya untuk kita pajang, tetapi informasi yang diberikan oleh teknologi itu harus diikuti dengan aksi cepat merespons peringatan dini dalam rangka menyelamatkan warga,” ujarnya.
Kondisi musim kemarau 2026 membuat pesan tersebut semakin relevan.
BMKG sebelumnya menyebut musim kemarau tahun ini diperkirakan lebih kering dan lebih panjang dibanding rata-rata normalnya. El Nino yang berkembang bersamaan dengan musim kemarau dapat memperkuat kondisi kering di sejumlah wilayah Indonesia.
Komentar