Frame Daily, Sumatera Selatan – Taman Nasional Sembilang kembali berada dalam ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Kemunculan titik api di kawasan konservasi menjadi alarm bagi pengelola kawasan dan pemerintah. Terlebih, ancaman tersebut muncul ketika Sumatera Selatan memasuki periode paling rawan kebakaran pada musim kemarau 2026.
Api bukan hanya mengancam pohon dan semak.
Kawasan yang terbakar dapat kehilangan fungsi ekologisnya. Habitat satwa terganggu, vegetasi rusak, kualitas udara memburuk, dan pemulihan ekosistem membutuhkan waktu panjang.
Ribuan Titik Panas Menghantui Sumatera Selatan
Data sepanjang Agustus 2026 menunjukkan besarnya tekanan karhutla di Sumatera Selatan.
Pada 4 September 2026 dilaporkan sebanyak 2.849 titik api dan titik panas terdeteksi di Sumatera Selatan selama periode 1-31 Agustus 2026 berdasarkan pemantauan Hutan Kita Institute menggunakan sumber data satelit NASA.

Kabupaten Ogan Komering Ilir menjadi wilayah dengan jumlah titik tertinggi, disusul Musi Banyuasin dan sejumlah daerah lainnya.
Kabupaten Banyuasin juga tercatat memiliki titik api dan titik panas di lahan gambut.
Di tengah kondisi tersebut, keberadaan titik api di kawasan Taman Nasional Sembilang menjadi persoalan serius.
Kawasan konservasi seharusnya menjadi benteng terakhir perlindungan ekosistem. Ketika api masuk ke dalamnya, dampaknya dapat menjalar jauh melampaui lokasi kebakaran.
Sembilang Pernah Menghadapi Kebakaran
Ancaman kebakaran di Sembilang bukan fenomena baru.
Riwayat karhutla menunjukkan kawasan ini pernah mengalami kebakaran besar. Pada 2019, kebakaran di Taman Nasional Sembilang menjadi salah satu peristiwa yang mendapat perhatian karena api menjalar ke kawasan hutan yang menjadi habitat penting satwa.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran berulang dapat menjadi ancaman jangka panjang terhadap keberadaan ekosistem.
Karena itu, kemunculan api pada 2026 tidak boleh dipandang sebagai kejadian terpisah.
Api Terdeteksi dari Udara
Pada 25 Agustus 2026, kebakaran terdeteksi di wilayah Distrik Sembilang.
ANTARA Sumsel melaporkan titik api ditemukan melalui pemantauan drone pada pagi hari. Tim gabungan kemudian bergerak menuju lokasi dengan melibatkan regu pemadam, kelompok masyarakat peduli api, dan petugas Taman Nasional Sembilang.
Pemantauan menggunakan teknologi udara menjadi penting karena sebagian kawasan taman nasional sulit dijangkau melalui jalur darat.
Semakin cepat titik api diketahui, semakin besar peluang api dikendalikan sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Ancaman Asap dan Kerusakan Habitat
Karhutla di kawasan konservasi memiliki dua persoalan sekaligus.
Pertama, kerusakan ekologis.
Kedua, dampak asap terhadap masyarakat.
Risiko tersebut semakin besar apabila api menjalar ke lahan gambut. Kebakaran gambut dapat menghasilkan asap dalam jumlah besar dan bertahan lebih lama karena api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan.
Pengalaman di kawasan Berbak Sembilang pada Agustus 2026 memperlihatkan betapa sulitnya pemadaman ketika api berada di lahan gambut.
Pada 26 Agustus dilaporkan kebakaran di kawasan TN Berbak Sembilang mencapai estimasi 21,8 hektare, dengan 13,2 hektare berada di dalam kawasan taman nasional. Angin kencang turut menghambat proses pemadaman.
September Menjadi Ujian
September menjadi periode penting bagi pengendalian karhutla di Sumatera Selatan.
Pemerintah daerah mulai memperkuat kesiapsiagaan. Kabupaten Banyuasin, misalnya, mendirikan enam posko penanganan karhutla sebagai antisipasi meningkatnya hotspot.
Di tingkat provinsi, Polda Sumatera Selatan juga memperkuat strategi pencegahan dan penanganan karhutla.
Semua langkah tersebut perlu berjalan bersamaan dengan pengawasan di kawasan konservasi.
Sebab, api yang terlihat kecil dari udara dapat berkembang cepat ketika bertemu kondisi kering, angin, dan bahan bakar vegetasi yang mudah terbakar.
Sembilang Tak Boleh Kehilangan Benteng Terakhir
Taman Nasional Sembilang memiliki fungsi ekologis yang sangat penting.
Kawasan mangrove, rawa, pesisir, dan habitat satwa di dalamnya membentuk satu kesatuan ekosistem yang tidak mudah digantikan.
Karena itu, setiap titik api harus diperlakukan sebagai peringatan serius.
Bukan hanya soal memadamkan api hari ini.
Ada persoalan pencegahan, pengawasan, penegakan hukum, pemulihan ekosistem, dan keterlibatan masyarakat yang harus berjalan setelah asap menghilang.
Sembilang tidak boleh menunggu sampai kerusakan menjadi tak terkendali.
Sebab ketika hutan sudah berubah menjadi abu, yang hilang bukan sekadar pepohonan.
Yang ikut terbakar adalah fungsi ekologis yang selama bertahun-tahun menjaga kehidupan di sekitarnya.
Follow Instagram
@framedaily.id_official
Dapatkan berita terbaru, fakta terkini, dan cerita di balik isu yang sedang ramai diperbincangkan.
Komentar