TAMAN NASIONAL SEMBILANG LULUH LANTAK DISAPU API

Taman Nasional Sembilang kembali menghadapi ancaman karhutla. Titik api muncul di kawasan konservasi saat Sumatera Selatan memasuki puncak kemarau. Ekosistem mangrove, gambut, dan habitat satwa berada dalam ancaman serius.

TAMAN NASIONAL SEMBILANG LULUH LANTAK DISAPU API
Asap tebal membumbung dari kawasan hutan yang terbakar, terlihat dari udara. Kebakaran hutan dan lahan mengancam ekosistem kawasan Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan. Frame Daily, Foto :Treasure.

Frame Daily, Sumatra Selatan – Kebakaran hutan dan lahan kembali mengancam kawasan Taman Nasional Sembilang di Sumatera Selatan. Api muncul di kawasan konservasi ketika Sumatera Selatan memasuki periode rawan kebakaran pada puncak musim kemarau.

Ancaman ini bukan perkara kecil. Taman Nasional Sembilang merupakan salah satu kawasan konservasi penting di Indonesia yang memiliki ekosistem mangrove sangat luas. Berdasarkan profil Kementerian Kehutanan, kawasan ini memiliki sekitar 77.500 hektare hutan mangrove dan menjadi salah satu bentang mangrove terluas di Indonesia bagian barat.

Titik Api Muncul di Kawasan Konservasi

Data terbaru menunjukkan kebakaran bukan sekadar ancaman di atas kertas.

Mongabay Indonesia pada 4 September 2026 melaporkan adanya titik api di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang. Laporan tersebut menyebut titik api ditemukan di tengah Taman Nasional Sembilang, sementara secara keseluruhan Sumatera Selatan mencatat 2.849 titik api dan titik panas sepanjang Agustus 2026.

Dari jumlah tersebut, 668 titik berada di lahan gambut dan 2.181 titik berada di lahan mineral.

Kondisi ini menjadi alarm keras memasuki September. Hutan Kita Institute memperingatkan bahwa September merupakan periode puncak kemarau sehingga potensi peningkatan titik api masih terbuka lebar.

Kekhawatiran tersebut semakin beralasan karena kebakaran telah terjadi langsung di kawasan Taman Nasional Sembilang.

Pada 25 Agustus 2026, tim pemadam menemukan titik karhutla di wilayah Distrik Sembilang. ANTARA Sumsel melaporkan tim gabungan bergerak setelah titik api terdeteksi melalui pemantauan drone.

Petugas dari regu pemadam, kelompok masyarakat peduli api, serta personel Taman Nasional Sembilang dikerahkan menuju lokasi.

Ekosistem Berada di Garis Depan

Kebakaran di kawasan konservasi membawa konsekuensi jauh lebih panjang dibandingkan sekadar hilangnya tutupan vegetasi.

Taman Nasional Sembilang merupakan habitat berbagai satwa dan ekosistem pesisir yang saling berkaitan. Kerusakan vegetasi dapat mengganggu rantai makanan, tempat berlindung satwa, hingga fungsi kawasan sebagai penyangga kehidupan masyarakat.

Risiko tersebut menjadi semakin serius ketika api memasuki kawasan gambut.

Kebakaran gambut tidak hanya menghasilkan api di permukaan. Bara dapat bertahan di dalam lapisan tanah dan menyulitkan proses pemadaman. Asap yang dihasilkan juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dalam wilayah yang luas.

Kebakaran di kawasan Taman Nasional Berbak Sembilang di Tanjung Jabung Timur, Jambi, mencapai sekitar 21,8 hektare berdasarkan pemetaan drone. Sebanyak 13,2 hektare berada di dalam kawasan taman nasional. Angin kencang membuat proses pemadaman menghadapi kendala.

Sumsel Memperkuat Penanganan Karhutla

Ancaman karhutla kini membuat pemerintah daerah memperkuat kesiapsiagaan.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin mendirikan enam posko penanganan karhutla untuk mengantisipasi peningkatan titik panas. Kebijakan tersebut dilakukan seiring meningkatnya risiko kebakaran di wilayah Sumatera Selatan.

Polda Sumatera Selatan juga memperkuat penanganan karhutla dengan melibatkan 85 peserta didik Sespim Polri untuk mendukung edukasi, pencegahan, dan penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla masih menjadi persoalan serius.

Jangan Tunggu Api Membesar

Kebakaran di Taman Nasional Sembilang harus menjadi peringatan bahwa perlindungan kawasan konservasi membutuhkan respons sejak api pertama terdeteksi.

Patroli, pemantauan titik panas, kesiapan personel, akses menuju lokasi kebakaran, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari pencegahan.

Sebab, ketika api sudah meluas, biaya dan risiko penanganannya meningkat berkali-kali lipat.

Taman Nasional Sembilang bukan sekadar hamparan hutan.

Di dalamnya terdapat ekosistem mangrove, lahan basah, habitat satwa, serta fungsi ekologis yang nilainya jauh melampaui batas administratif sebuah kawasan.

Jika api kembali berulang, pertanyaannya bukan hanya berapa hektare yang terbakar.

Pertanyaan yang lebih besar adalah berapa banyak ekosistem yang kehilangan kesempatan untuk pulih.

Follow Instagram @framedaily.id_official Dapatkan berita terbaru, fakta terkini, dan cerita di balik isu yang sedang ramai diperbincangkan.

Ditulis oleh Treasure

Komentar