Api Bisa Tetap Menyala di Bawah Tanah Berbulan-bulan, Bagaimana Kebakaran Gambut Terjadi?

Kebakaran gambut berbeda dari kebakaran hutan biasa. Api dapat merambat perlahan di lapisan organik bawah tanah tanpa kobaran besar dan bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, membuatnya sulit dideteksi serta dipadamkan.

Api Bisa Tetap Menyala di Bawah Tanah Berbulan-bulan, Bagaimana Kebakaran Gambut Terjadi?
Ilustrasi: Kebakaran gambut dapat terus membara di lapisan organik bawah permukaan tanpa kobaran api besar. Bara yang tersembunyi ini dapat bertahan berminggu-minggu hingga berbulan-bulan sehingga sulit dideteksi dan dipadamkan. (Framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta - Di permukaan, api mungkin terlihat sudah padam. Tidak ada lagi kobaran besar, hanya tanah menghitam dan asap tipis yang sesekali keluar dari celah-celah tanah. Jika lebih di perhatikan bisa saja beberapa sentimeter hingga lebih dalam di bawah permukaan, api bisa saja masih hidup.

Inilah salah satu karakter paling berbahaya dari kebakaran lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran vegetasi yang mudah dikenali dari kobaran api, kebakaran gambut dapat berlangsung sebagai pembakaran membara atau smouldering combustion.

Penelitian yang dipublikasikan melalui jurnal BRIN menjelaskan kebakaran smouldering gambut bawah permukaan sangat sulit dipadamkan dan dapat berlangsung berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Temuan ilmiah lain bahkan menunjukkan pembakaran tanah gambut dalam kondisi smouldering dapat berlangsung hingga sekitar empat bulan.

Lalu bagaimana tanah bisa terus “terbakar” tanpa kobaran api?

Gambut Sebenarnya Tumpukan Bahan Organik

Untuk memahami fenomena ini, kita perlu melihat apa yang berada di bawah kaki kita.

Gambut terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang terakumulasi dan tidak terurai sempurna selama waktu yang sangat panjang karena kondisi yang tergenang air.

Akibatnya, lapisan gambut menyimpan bahan organik sekaligus karbon dalam jumlah sangat besar. UNEP menjelaskan lapisan tersebut dapat terbentuk selama ribuan tahun.

Dalam keadaan alami dan basah, gambut relatif tahan terhadap kebakaran.

Persoalan muncul ketika lahan gambut dikeringkan atau mengalami penurunan muka air, misalnya akibat drainase, degradasi lahan maupun kondisi kemarau.

Lapisan organik yang sebelumnya basah kemudian kehilangan kelembapan dan menjadi jauh lebih mudah terbakar. UNEP menggambarkannya seperti meninggalkan tumpukan material organik berupa daun dan ranting dalam kondisi kering.

Jika kemudian terdapat sumber penyulut di permukaan, kebakaran tidak hanya dapat menghabiskan rumput atau semak.

Panas dapat mencapai lapisan gambut dan memulai pembakaran di dalam tanah.

Api Tanpa Kobaran Besar

Di sinilah kebakaran gambut menjadi berbeda.

Gambut sebagian besar terbakar melalui mekanisme smouldering, bukan kobaran api atau flaming seperti yang biasa terlihat pada kebakaran kayu dan vegetasi.

Penelitian di Nature Communications menjelaskan pori-pori pada gambut memungkinkan oksigen masuk ke material organik sehingga proses oksidasi dan pembakaran tetap berlangsung.

Api kemudian merambat sangat perlahan.

Kecepatan penyebarannya dapat berada pada kisaran 1–10 sentimeter per jam, dengan temperatur puncak tipikal sekitar 500–700 derajat Celsius. Meski lebih rendah dibandingkan banyak kebakaran dengan kobaran terbuka, karakter gambut yang tidak mudah melepaskan panas membuat proses pembakaran dapat bertahan lama.

Bayangkan bukan api unggun yang menyala terang, tetapi bara pada arang yang terus hidup.

Bedanya, “arang” tersebut berupa lapisan tanah organik yang dapat membentang luas.

Api dapat bergerak secara horizontal maupun masuk lebih dalam mengikuti bagian gambut yang cukup kering dan mendapatkan oksigen.

Itulah sebabnya petugas dapat menghadapi kondisi yang membingungkan: permukaan terlihat padam, tetapi asap kembali muncul dari titik lain.

Bisa Berbulan-bulan di Bawah Tanah

Berapa lama api tersebut mampu bertahan bergantung pada kelembapan gambut, kedalaman lapisan, ketersediaan oksigen, kondisi cuaca, dan karakteristik lahan.

Namun kemampuan bertahannya memang luar biasa.

UNEP menyebut kebakaran gambut dapat membara di bawah tanah selama berbulan-bulan dan sering kali sulit terdeteksi.

Studi ilmiah juga menunjukkan kebakaran gambut dapat bergerak perlahan dan menembus tanah sehingga dalam kondisi tertentu bertahan berbulan-bulan, bahkan lebih lama pada ekosistem tertentu.

Karena sebagian proses berlangsung di bawah permukaan, kebakaran ini juga lebih sulit dipantau dibandingkan api terbuka.

Bahkan teknologi satelit memiliki keterbatasan dalam mendeteksi pembakaran smouldering yang tersembunyi di bawah lapisan tanah. UNEP mencatat kebakaran gambut jenis ini memang sulit dideteksi melalui satelit maupun metode lainnya.

Ini juga menjelaskan mengapa hotspot atau titik panas satelit tidak selalu identik dengan keseluruhan area gambut yang sedang terbakar di bawah tanah.

Mengapa Menyiram Permukaan Saja Tidak Cukup?

Karakter bawah tanah membuat pemadaman kebakaran gambut jauh lebih rumit.

Air yang disiramkan ke permukaan belum tentu mencapai seluruh bagian gambut yang masih membara.

Petugas harus memastikan air benar-benar membasahi lapisan tempat bara berada. Jika masih terdapat bagian kering dan panas, pembakaran dapat terus berlangsung atau muncul kembali.

Karena itulah kebakaran gambut tidak cukup dinilai padam hanya karena kobaran api sudah hilang.

UNEP menyebut kebakaran gambut dapat sangat sulit dipadamkan tanpa hujan lebat.

Pendekatan jangka panjang bahkan bukan sekadar memadamkan api ketika kebakaran sudah terjadi, tetapi menjaga gambut tetap basah dan memulihkan kondisi hidrologinya.

Pengeringan gambut melalui drainase diketahui meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran. Studi Nature Geoscience menunjukkan pengeringan yang menurunkan muka air gambut meningkatkan frekuensi dan luas kebakaran gambut.

Karena itu, pembasahan kembali atau rewetting menjadi bagian penting dari strategi perlindungan ekosistem gambut.

Asapnya Juga Berbeda

Bahaya kebakaran gambut tidak berhenti di dalam tanah.

Pembakaran smouldering menghasilkan asap dalam jumlah besar dan dapat melepaskan karbon monoksida, metana serta partikulat dan berbagai polutan lainnya.

Masalahnya, gambut merupakan salah satu penyimpan karbon alami terbesar di Bumi.

Meski hanya mencakup sekitar 2–3 persen daratan dunia, lahan gambut menyimpan sekitar seperempat hingga sepertiga karbon tanah global menurut kajian yang dipublikasikan Nature Communications.

Ketika gambut terbakar, karbon yang telah tersimpan sangat lama dapat kembali dilepaskan ke atmosfer.

Penelitian terbaru 2026 di Nature Communications mengenai gambut tropis Kalimantan Tengah menunjukkan drainase dan kebakaran gambut dapat melepaskan karbon yang sebelumnya tersimpan selama ratusan hingga ribuan tahun.

Itulah sebabnya kebakaran gambut bukan hanya persoalan api dan asap lokal, tetapi juga berkaitan dengan emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim.

Mengapa Kemarau Membuatnya Lebih Berbahaya?

Air merupakan salah satu pertahanan alami gambut terhadap api.

Ketika periode kering berlangsung panjang, kandungan air gambut dapat berkurang dan muka air turun. Risiko lapisan organik menjadi cukup kering untuk terbakar pun meningkat.

Penelitian BRIN mengenai kebakaran hutan dan lahan gambut menunjukkan pola titik panas historis di Sumatra dan Kalimantan berkorelasi kuat dengan periode musim kering, terutama Juli hingga Oktober.

Musim kemarau bukan berarti gambut akan terbakar dengan sendirinya.

Tetap diperlukan sumber penyulut. Aktivitas manusia, pembukaan lahan dengan api, pembakaran yang tidak terkendali maupun sumber api lain dapat menjadi pemicu.

Kondisi kering terutama membuat gambut jauh lebih rentan setelah api muncul.

Inilah yang membuat pencegahan sangat penting. Begitu api berhasil masuk ke lapisan gambut, masalah yang semula berada di permukaan dapat berubah menjadi kebakaran bawah tanah yang jauh lebih sulit dikendalikan.

Dan ketika asap di permukaan tampak menghilang, pekerjaan belum tentu selesai. Di bawah tanah, bara bisa saja masih menyala.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar