Apa yang Harus Dilakukan Nakhoda Saat Kapal Mengalami Kecelakaan?

Apa prosedur nakhoda saat kapal mengalami keadaan darurat? Mulai dari alarm, komunikasi, muster, evakuasi hingga abandon ship.

Apa yang Harus Dilakukan Nakhoda Saat Kapal Mengalami Kecelakaan?
Dalam keadaan darurat, nakhoda dan awak kapal memiliki prosedur keselamatan untuk mengoordinasikan penumpang, komunikasi darurat, hingga proses evakuasi. Ilustrasi: framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Ketika sebuah kapal mengalami keadaan darurat, keselamatan penumpang tidak hanya bergantung pada keputusan untuk meninggalkan kapal. Ada rangkaian tindakan yang harus dilakukan awak kapal, mulai dari mengenali keadaan darurat, memberikan peringatan, mengoordinasikan penumpang, hingga menentukan apakah evakuasi atau abandon ship diperlukan.

Kerangka keselamatan pelayaran internasional melalui SOLAS mengatur berbagai aspek terkait alat keselamatan, muster list, instruksi keadaan darurat, latihan, survival craft, serta pengaturan evakuasi dan abandon ship pada kapal penumpang. Lalu, bagaimana seharusnya respons tersebut berlangsung?

1. Mengenali Keadaan Darurat dan Mengambil Kendali

Tahap pertama adalah mengenali adanya kondisi yang mengancam keselamatan kapal atau orang di dalamnya. Nakhoda memiliki peran penting dalam mengambil keputusan keselamatan berdasarkan kondisi aktual kapal.

SOLAS menempatkan muster list dan emergency instructions sebagai bagian dari sistem keselamatan kapal. Pada kapal penumpang juga terdapat persyaratan mengenai sistem pendukung pengambilan keputusan bagi nakhoda dalam keadaan darurat.

Pada tahap ini, informasi mengenai kondisi kapal harus segera dikumpulkan: apakah kapal mengalami kemiringan, kebocoran, kebakaran, kehilangan tenaga, atau keadaan lain yang dapat berkembang menjadi lebih serius.

2. Memberikan Peringatan dan Mengomunikasikan Keadaan

Setelah keadaan darurat dikenali, komunikasi menjadi bagian penting dari respons. Penumpang perlu mengetahui apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Sistem keselamatan kapal mengatur komunikasi serta penyampaian instruksi kepada orang-orang di kapal, termasuk pengarahan menuju muster station ketika prosedur evakuasi dijalankan.

Dalam latihan abandon ship yang dijelaskan dalam regulasi IMO, penumpang dan awak dipanggil menuju muster station menggunakan alarm, kemudian diberikan pengumuman dan instruksi mengenai prosedur meninggalkan kapal.

Karena itu, alarm dan komunikasi bukan sekadar pelengkap. Keduanya membantu memastikan penumpang tidak menghadapi keadaan darurat tanpa informasi.

3. Mengarahkan Penumpang ke Muster Station

Muster station merupakan titik berkumpul yang telah ditentukan dalam pengaturan keselamatan kapal. Ketika prosedur evakuasi dijalankan, awak kapal memiliki tugas sesuai muster list. Mereka membantu mengarahkan penumpang, memastikan perlengkapan keselamatan digunakan dengan benar, dan mempersiapkan survival craft sesuai tugas masing-masing.

Untuk penumpang, prinsip dasarnya adalah mengikuti instruksi awak kapal, mengenakan life jacket dengan benar, dan bergerak menuju titik berkumpul yang ditentukan.

4. Menentukan Apakah Kapal Harus Ditinggalkan

Abandon ship bukan sekadar keputusan untuk turun dari kapal secepat mungkin. Keputusan tersebut merupakan bagian dari manajemen keadaan darurat dan harus mempertimbangkan kondisi kapal, kemungkinan bertahan di atas kapal, keselamatan penumpang, serta kesiapan sarana penyelamatan.

Dalam materi pelatihan keselamatan ferry yang dipublikasikan IMO, setelah nakhoda memberikan perintah abandon ship, awak menjalankan tugas sesuai emergency muster list dan task card. Penumpang kemudian diarahkan menuju titik berkumpul dan sarana penyelamatan.

Artinya, ada perbedaan antara menyelamatkan diri dan menjalankan prosedur abandon ship.

5. Menyiapkan Lifeboat atau Liferaft

Jika keputusan meninggalkan kapal telah diambil, survival craft seperti lifeboat atau liferaft dipersiapkan dan digunakan sesuai prosedur.

Regulasi keselamatan kapal mencakup pengaturan mengenai stasiun peluncuran, penyimpanan survival craft, embarkasi, peluncuran, serta pengawasan penggunaannya. Latihan abandon ship juga mencakup persiapan dan pengoperasian lifeboat serta prosedur penggunaan liferaft. Pada tahap ini, tugas awak bukan sekadar menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga membantu penumpang mencapai sarana penyelamatan.

6. Komunikasi dengan Pihak di Luar Kapal

Keadaan darurat juga membutuhkan komunikasi dengan pihak luar, termasuk layanan pencarian dan pertolongan.

SOLAS memiliki ketentuan mengenai komunikasi keselamatan maritim, sementara sistem keselamatan kapal juga mencakup perangkat yang membantu pencarian kapal atau survival craft setelah kecelakaan.

Informasi seperti posisi kapal, kondisi darurat, jumlah orang di kapal, serta kebutuhan pertolongan menjadi bagian penting bagi tim SAR.

Lalu, Bagaimana dengan KM Virgo?

Di sinilah fakta umum harus dipisahkan dari fakta kasus. Dalam kasus KM Virgo Transport 8, sejumlah penumpang dan awak kapal yang selamat memberikan kesaksian bahwa mereka tidak mendengar alarm peringatan ketika kapal mulai miring. KNKT telah menyatakan sedang mendalami proses tanggap darurat kapal, termasuk alarm, selain muatan, stabilitas, dan kondisi cuaca.

Namun, kesaksian bahwa alarm tidak terdengar belum sama dengan bukti bahwa alarm memang tidak berfungsi atau tidak dibunyikan. Hal tersebut masih harus diverifikasi melalui pemeriksaan sistem, data teknis, keterangan awak, saksi, serta hasil investigasi KNKT.

Begitu pula dengan persoalan bagaimana nakhoda dan ABK meninggalkan kapal. Ada pemberitaan mengenai kesaksian penumpang terkait penggunaan sekoci oleh awak, tetapi fakta mengenai urutan kejadian, waktu, perintah evakuasi, dan kondisi kapal saat itu masih perlu direkonstruksi.

Karena itu, SOP umum tidak boleh digunakan untuk langsung menyimpulkan bahwa prosedur KM Virgo telah dilanggar.

Apa yang Harus Dibuktikan dari Kasus KM Virgo?

Investigasi dapat membantu menjawab sejumlah pertanyaan penting:

Alarm: Apakah alarm darurat dibunyikan? Kapan? Apakah sistem berfungsi?

Komunikasi: Kapan penumpang pertama kali diberi tahu tentang keadaan darurat?

Muster: Apakah penumpang diarahkan menuju titik berkumpul?

Life jacket: Kapan dan bagaimana life jacket dibagikan atau digunakan?

Abandon ship: Kapan keputusan meninggalkan kapal dibuat dan siapa yang memberikan perintah?

Survival craft: Bagaimana lifeboat atau liferaft digunakan?

Nakhoda dan ABK: Apa tugas masing-masing awak berdasarkan muster list, dan apakah tugas tersebut dijalankan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut jauh lebih penting daripada sekadar bertanya “siapa yang turun duluan?”

Dari SOP ke Rekonstruksi

Kasus KM Virgo menunjukkan mengapa investigasi kecelakaan kapal membutuhkan lebih dari satu sumber. Keterangan penumpang, kesaksian awak, rekaman komunikasi, data kapal, kondisi alat keselamatan, serta temuan teknis perlu dibandingkan untuk mengetahui urutan kejadian.

IMO sendiri menempatkan latihan keadaan darurat dan abandon ship sebagai bagian penting dari kesiapan awak. Dalam kerangka keselamatan tersebut, setiap awak memiliki tugas yang ditentukan dalam muster list, termasuk ketika kapal harus ditinggalkan.

Bagi FrameDaily.id, pertanyaan mengenai prosedur evakuasi KM Virgo sebaiknya tidak diarahkan untuk mencari siapa yang paling cepat menyelamatkan diri. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah sistem keselamatan bekerja, apakah informasi sampai kepada penumpang, apakah awak menjalankan tugasnya, dan apakah keputusan evakuasi dilakukan sesuai kondisi darurat yang sebenarnya terjadi. Itulah yang nantinya dapat membedakan antara kesaksian, dugaan, pelanggaran prosedur, dan temuan investigasi.

Follow akun Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta terverifikasi, dan konteks di balik setiap peristiwa.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar