Waspada El Nino, Lonjakan Titik Panas di Indonesia Hingga Ribuan Lokasi

BMKG mencatat 5.019 titik panas hingga pertengahan Juli 2026. El Nino diprediksi menguat dan meningkatkan risiko karhutla di berbagai wilayah Indonesia.

Waspada El Nino, Lonjakan Titik Panas di Indonesia Hingga Ribuan Lokasi
Sejumlah anak bermain di sungai Ciliwung yang debit airnya menyusut di wilayah Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/7/2026). (ANTARA)

Frame Daily, Jakarta – El Nino diperkirakan akan memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat akumulasi titik panas mencapai 5.019 hingga pertengahan Juli 2026. Kondisi tersebut menjadi sinyal meningkatnya ancaman kekeringan yang diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026.

Data BMKG menunjukkan El Nino tahun ini memicu peningkatan akumulasi hotspot yang berlangsung lebih cepat dibandingkan periode fenomena serupa pada 2015, 2019, dan 2023. Tren tersebut menjadi perhatian karena berpotensi memperbesar risiko munculnya kebakaran di sejumlah wilayah prioritas.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan grafik akumulasi hotspot sejak Januari hingga pertengahan Juli 2026 memperlihatkan kenaikan signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan, laju peningkatan titik panas bahkan melampaui pola yang terjadi pada beberapa episode El Nino sebelumnya.

“Grafik akumulasi ini menunjukkan jumlah hotspot dari Januari hingga pertengahan Juli 2026 mengalami peningkatan yang lebih cepat dibandingkan kondisi tahun-tahun El Nino terdahulu, yaitu tahun 2015, 2019, dan 2023,” kata Ardhasena dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (30/7).

BMKG menilai kondisi El Nino yang terus berkembang perlu diantisipasi sejak dini melalui penguatan pemantauan di lapangan. Langkah tersebut dinilai penting untuk menekan potensi meluasnya kebakaran hutan, kerusakan lingkungan, hingga gangguan kesehatan masyarakat akibat kabut asap.

Tiga Wilayah Dengan Titik Panas Terbanyak

BMKG mencatat Provinsi Kalimantan Barat, Papua Selatan, dan Riau menjadi tiga daerah dengan kontribusi titik panas terbanyak di Indonesia hingga pertengahan Juli 2026. Ketiga wilayah tersebut masuk dalam kawasan yang mengalami peningkatan aktivitas hotspot secara signifikan.

Berdasarkan analisis klimatologi BMKG, risiko karhutla diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026 seiring menguatnya musim kemarau dan berkurangnya curah hujan di berbagai wilayah. Kondisi tersebut meningkatkan potensi munculnya titik api, terutama di daerah dengan lahan gambut yang mudah terbakar.

Wilayah prioritas dengan tingkat risiko tinggi meliputi Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, hingga Papua Selatan. BMKG juga memperkirakan potensi karhutla mulai meningkat secara bertahap di Pulau Sulawesi pada September hingga Oktober 2026.

Ardhasena menegaskan periode Juli hingga akhir September merupakan fase paling kritis dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan. Karena itu, pemerintah daerah bersama instansi terkait diminta memperkuat patroli, pengawasan, dan langkah pencegahan di kawasan rawan.

“Jadi bulan-bulan kritis adalah mulai saat ini bulan Juli hingga akhir bulan September tahun 2026. Nah, intensifikasi pemantauan dan pengawasan di daerah-daerah ini tentunya menjadi krusial untuk mencegah eskalasi titik api dan dampak kerusakan lingkungan yang lebih luas,” ujarnya.

BMKG juga memantau penyebaran partikulat asap akibat karhutla yang dalam beberapa hari terakhir mulai menyelimuti sebagian wilayah Kalimantan Barat. Fenomena tersebut menjadi indikator awal meningkatnya aktivitas kebakaran yang perlu segera dikendalikan agar tidak meluas ke daerah lain.

El Nino Bakal Berlangsung Hingga Akhir Tahun 2026

Direktorat Klimatologi BMKG sebelumnya melaporkan fenomena El Nino diperkirakan masih akan bertahan hingga akhir 2026. Berdasarkan karakteristik iklim global yang diamati, indeks El Nino diproyeksikan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027.

Prediksi terbaru BMKG bahkan menunjukkan peluang yang cukup besar bahwa El Nino tahun ini berkembang melampaui kategori kuat. Apabila proyeksi tersebut terealisasi, dampaknya terhadap kondisi iklim nasional diperkirakan akan semakin terasa, terutama berupa penurunan curah hujan dan meningkatnya periode tanpa hujan.

Pemantauan iklim pada dasarian terakhir Juli 2026 menunjukkan musim kemarau terus menguat di berbagai wilayah Indonesia. BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 54,5 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Adapun wilayah yang masih berada pada musim hujan tersisa 77 Zona Musim.

Secara spasial, musim kemarau telah mendominasi wilayah selatan khatulistiwa yang mencakup Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua. Wilayah-wilayah tersebut berada dalam kategori Merah dengan lebih dari 60 hari tanpa hujan (HTH), Merah Muda dengan 31–60 HTH, dan Cokelat Tua dengan 21–30 HTH.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa cadangan kelembapan tanah di sejumlah daerah terus berkurang. Situasi itu meningkatkan peluang munculnya kebakaran apabila terdapat aktivitas pembakaran lahan atau sumber api yang tidak terkendali.

Peningkatan Hotspot Jadi Indikator Peningkatan Potensi Kebakaran Hutan dan Lahan

Peningkatan jumlah hotspot menjadi salah satu indikator penting dalam mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan. Meski tidak seluruh titik panas dipastikan merupakan kebakaran aktif, akumulasi hotspot yang terus bertambah menjadi sinyal perlunya langkah mitigasi secara lebih intensif.

BMKG mengingatkan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kondisi cuaca, tetapi juga kesiapan pemerintah daerah, aparat, pelaku usaha, dan masyarakat dalam melakukan pencegahan. Pengawasan kawasan rawan, patroli rutin, serta larangan membuka lahan dengan cara membakar menjadi bagian penting untuk menekan risiko tersebut.

Fenomena El Nino juga berpotensi memengaruhi berbagai sektor, mulai dari pertanian, ketersediaan air bersih, kesehatan masyarakat, hingga transportasi apabila kabut asap meluas. Karena itu, setiap perkembangan kondisi iklim perlu dipantau secara berkala agar langkah antisipasi dapat dilakukan lebih cepat.

BMKG mengimbau masyarakat mengikuti informasi cuaca dan iklim resmi sebagai dasar dalam mengambil keputusan, terutama bagi daerah yang memasuki musim kemarau panjang. Dengan pengawasan yang konsisten dan koordinasi lintas sektor, dampak El Nino terhadap kebakaran hutan dan lahan diharapkan dapat diminimalkan sebelum memasuki puncak musim kering pada paruh kedua tahun ini.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar