Frame Daily, Jakarta - Setelah empat tahun dinanti tanpa rilisan baru sejak album Manusia (2022), solois kenamaan Indonesia, Tulus, akhirnya resmi melakukan comeback. Ia merilis single teranyarnya yang berjudul "Teh Hijau" pada Selasa (30/6/2026). Tak butuh waktu lama, lagu ini langsung melesat dan menduduki jajaran trending di berbagai platform musik digital.
Seperti karya-karya terdahulu yang selalu sukses menyentuh hati pendengar, "Teh Hijau" kembali ditulis sendiri oleh Tulus, baik dari segi lirik maupun melodi.
Menariknya, Tulus memilih pendekatan yang cukup unik untuk single terbarunya ini. Di balik balutan aransemen musik yang terdengar ringan, hangat, dan cenderung riang, "Teh Hijau" justru membicarakan sebuah perasaan yang kerap dihindari banyak orang: kehampaan dan hilangnya kemampuan untuk merasakan cinta.
"Lagu ini tentang rasa hampa yang tidak didesak hilang, melainkan diterima sebagai bagian dari perjalanan hidup," ujar Tulus dalam keterangan resminya.
Melalui lagu berdurasi 3 menit 33 detik ini, penyanyi asal Bukittinggi tersebut mengajak pendengarnya untuk tidak memusuhi emosi negatif atau memaksakan diri agar cepat pulih. Sebaliknya, Tulus memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merayakan fase "membeku" tersebut, sembari perlahan mencari ketenangan—yang disimbolkan lewat secangkir teh hijau di tangan.
Untuk melahirkan nuansa musik yang unik ini, Tulus bekerja sama dengan produser Yoseph Sitompul, yang juga bertindak sebagai penata musik. Komposisi lagunya terasa kaya namun tetap easy-listening berkat perpaduan Piano akustik, kibor, dan synthesizer dari Yoseph Sitompul. Sentuhan dinamis dari instrumen horn section (trompet oleh Maha Ami Purba dan trombon oleh Yowie Henry). Ketukan drum yang hidup dari Adisty Zulkarnaen dan bas elektrik dari Rudy Zulkarnaen.
Kehadiran "Teh Hijau" langsung memicu antusiasme luar biasa dari para "Teman Tulus" (sebutan bagi penggemar Tulus) yang sudah rindu berat. Hanya dalam waktu satu hari setelah dirilis, video lirik resminya di YouTube langsung meroket ke posisi Trending No. 3 di YouTube Music dan dibanjiri ribuan komentar penuh apresiasi. Banyak pendengar yang merasa lagu ini sangat relevan dengan kejenuhan hidup modern atau fenomena burnout dan quarter-life crisis.
Komentar