Senayan–Ancol Kini Terhubung Bus Listrik, Jakarta Uji Mobilitas Akhir Pekan

Transjakarta membuka rute 51ST Senayan–Ancol menggunakan bus listrik. Rute sepanjang 34,9 km ini beroperasi setiap Minggu saat CFD.

Senayan–Ancol Kini Terhubung Bus Listrik, Jakarta Uji Mobilitas Akhir Pekan

Frame Daily, Jakarta – Mobilitas warga Jakarta pada akhir pekan mulai menjadi sasaran pengembangan transportasi publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membuka layanan bus listrik khusus yang menghubungkan kawasan Senayan dengan Ancol setiap Minggu pagi.

Rute Transjakarta 51ST menghubungkan Bundaran Senayan dengan Bundaran Symphony of The Sea, Ancol, sepanjang 34,9 kilometer dengan 18 titik perhentian.

Berbeda dari layanan reguler, rute ini hanya beroperasi setiap Minggu pukul 06.00–10.00 WIB. Sebanyak tujuh bus listrik disiapkan dengan waktu tunggu sekitar 15–20 menit. 

Tarif Rp1 diberlakukan saat peluncuran pada Minggu (9/8/2026). Setelah itu, tarif kembali menjadi Rp3.500. Namun, rute baru tersebut menarik bukan hanya karena menghubungkan Senayan dan Ancol.

Layanan 51ST menghubungkan dua kawasan Hari Bebas Kendaraan Bermotor (HBKB), yakni Sudirman–Thamrin dan Ancol. Artinya, Transjakarta mulai menangkap pola perjalanan masyarakat yang berbeda dari mobilitas rutin pergi dan pulang bekerja.

Pertanyaannya, bisakah transportasi publik juga menjadi pilihan utama warga ketika bepergian untuk olahraga, rekreasi, dan aktivitas akhir pekan?

Dari Angkutan Komuter ke Mobilitas Akhir Pekan

Selama ini, salah satu fungsi terbesar transportasi publik Jakarta adalah menggerakkan masyarakat menuju pusat pekerjaan dan aktivitas ekonomi.

Namun kebutuhan perjalanan tidak berhenti ketika akhir pekan tiba.

CFD Sudirman–Thamrin menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat setiap Minggu pagi. Sementara Ancol merupakan kawasan rekreasi di Jakarta Utara.

Rute 51ST mencoba mempertemukan kedua jenis aktivitas tersebut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan peningkatan konektivitas diarahkan untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat menikmati transportasi umum dengan aman dan nyaman. 

6932-SP-HMS-08-2026.pdf

Secara lebih luas, basis pengguna Transjakarta memang sudah sangat besar.

Data resmi perusahaan menunjukkan layanan Transjakarta saat ini menjangkau sekitar 92,4 persen wilayah Jakarta. Jumlah pelanggannya rata-rata telah mencapai sekitar 1,4 juta orang setiap hari

Pada 2025, Transjakarta bahkan membukukan sekitar 413 juta pelanggan. Pendapatan non-subsidinya meningkat dari Rp75 miliar pada 2022 menjadi Rp285 miliar pada 2025

Angka tersebut menunjukkan tantangan pengembangan Transjakarta mulai bergeser.

Bukan hanya memperluas jaringan, tetapi juga mencari kebutuhan perjalanan baru yang dapat dilayani transportasi publik.

Rute akhir pekan seperti Senayan–Ancol menjadi salah satu contohnya.

Baca juga: Transjakarta Buka Rute Senayan–Ancol, Dua Kawasan CFD Kini Terhubung

Jika masyarakat yang selesai berolahraga di kawasan Sudirman–Thamrin dapat melanjutkan perjalanan menuju Ancol menggunakan angkutan umum, mobilitas akhir pekan tidak harus selalu bergantung pada kendaraan pribadi.

Namun keberhasilan model tersebut nantinya bergantung pada permintaan aktual.

Dengan tujuh bus dan headway 15–20 menit, layanan 51ST masih berada pada skala terbatas. Data jumlah penumpang rute tersebut juga belum tersedia dalam materi peluncuran Pemprov DKI. 

Karena itu, terlalu dini menyimpulkan apakah rute tersebut akan menghasilkan permintaan besar.

Bus Listrik Jadi Bagian Strategi yang Lebih Besar

Pemilihan bus listrik untuk rute Senayan–Ancol juga bukan keputusan yang berdiri sendiri.

Transjakarta sedang menjalankan elektrifikasi armada dalam skala besar.

Per Februari 2026, perusahaan telah mengoperasikan 500 bus listrik. Transjakarta menargetkan sekitar 50 persen armada menggunakan tenaga listrik pada 2027, sebelum bergerak menuju elektrifikasi seluruh armada pada 2030. 

Artinya, tujuh bus listrik yang digunakan untuk rute 51ST merupakan bagian kecil dari transformasi armada yang jauh lebih besar. Bagi Jakarta, elektrifikasi transportasi publik memiliki dua fungsi sekaligus.

Pertama, mengganti kendaraan berbahan bakar fosil dengan armada rendah emisi. Kedua, mendorong semakin banyak perjalanan masyarakat berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.

Faktor kedua justru penting. Bus yang tidak menghasilkan emisi dari knalpot memang membantu mengurangi emisi operasional armada. Namun dampak transportasi publik terhadap mobilitas kota akan semakin besar apabila layanan tersebut mampu menarik lebih banyak orang meninggalkan kendaraan pribadi.

Karena itu, eksperimen rute akhir pekan seperti Senayan–Ancol dapat menjadi relevan. Jika permintaan terbentuk, pendekatan serupa secara konseptual bisa digunakan untuk menghubungkan transportasi publik dengan pusat olahraga, rekreasi, wisata, maupun kegiatan masyarakat lainnya.

Tetapi ekspansi tentu membutuhkan evaluasi terlebih dahulu terhadap jumlah penumpang, tingkat keterisian bus, waktu perjalanan dan biaya operasional.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar