Frame Daily, Banyuwangi – Petani di Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi, mulai beralih ke metode alami untuk mengatasi serangan hama tikus yang kerap merusak tanaman padi. Bersama petugas penyuluh pertanian dan pemerintah kecamatan setempat, mereka memasang puluhan rumah burung hantu (Rubuha) di area persawahan sebagai upaya pengendalian hama yang ramah lingkungan.
Sedikitnya 60 unit Rubuha dipasang di sejumlah titik lahan pertanian yang selama ini masuk dalam zona rawan serangan hewan pengerat tersebut. Pemasangan infrastruktur ekologis ini dilakukan secara bertahap dengan melibatkan kelompok tani di beberapa desa di wilayah Singojuruh.
Langkah biologis tersebut dipilih karena dinilai jauh lebih aman dan efektif dibandingkan penggunaan racun tikus kimiawi yang berisiko merusak ekosistem tanah serta mencemari lingkungan sekitar. Burung hantu jenis Tyto alba (serak jawa) dikenal sebagai predator alami tikus sawah yang sangat aktif, di mana satu ekor burung mampu memangsa beberapa ekor tikus dalam satu malam.
Pasang Tiang Tinggi di Titik Strategis
Petugas pertanian setempat menjelaskan, Rubuha sengaja didirikan di titik-titik strategis menggunakan tiang penyangga yang tinggi. Desain ini bertujuan agar satwa malam tersebut mudah bersarang, merasa nyaman, dan dapat berkembang biak dengan baik. Bersamaan dengan itu, para petani juga diimbau untuk bersama-sama menjaga habitat sekitar agar populasi burung hantu tidak terusik oleh pemburu.
Camat Singojuruh, Iwan Yos Sugiarto, menyatakan bahwa pemanfaatan predator alami ini merupakan langkah inovatif dan positif yang perlu direplikasi secara luas di wilayah pertanian Bumi Blambangan.
“Pengendalian hama tikus dengan memanfaatkan burung hantu ini merupakan langkah yang sangat efektif sekaligus berkelanjutan. Kami mendukung penuh inisiatif para petani karena selain mampu menekan populasi tikus, cara ini juga menjaga keseimbangan ekosistem pertanian kita tetap murni,” ujar Iwan saat memantau pemasangan Rubuha.
Solusi Jangka Panjang Cegah Gagal Panen
Iwan menambahkan, program penempatan Rubuha menjadi solusi jangka panjang yang solutif untuk membantu meminimalkan risiko gagal panen, terutama saat memasuki musim tanam padi di mana grafik serangan tikus biasanya mengalami lonjakan tajam.
“Jika mata rantai ekosistemnya terjaga, petani akan jauh lebih diuntungkan karena biaya operasional berkurang dan tidak lagi bergantung pada racun kimia berbahaya. Kami berharap program ini terus berkembang dan diadopsi oleh wilayah kecamatan lainnya,” tambahnya.
Sejumlah petani setempat mengaku penerapan metode alami ini mulai membuahkan hasil positif. Intensitas serangan tikus di beberapa hamparan sawah dilaporkan mulai menurun secara signifikan dibandingkan musim tanam sebelumnya yang sempat memicu kerusakan tanaman padi cukup parah.
Selain mengamankan produktivitas pangan daerah, keberadaan puluhan rumah burung hantu ini diharapkan mampu menjadi sarana edukasi bagi masyarakat luas mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam dalam sistem pertanian modern yang berkelanjutan.
Komentar