Frame Daily, Jakarta - Aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia kembali menjadi perhatian pada September 2026. Dalam beberapa pekan terakhir, erupsi terjadi di sejumlah wilayah, dari Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara hingga Maluku Utara.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mencatat 27 gunung api menunjukkan peningkatan aktivitas berdasarkan data yang disampaikan pada 7 September 2026. Lima di antaranya berada pada Level III atau Siaga, sedangkan lainnya berada pada Level II atau Waspada.
Lima gunung berstatus Siaga tersebut adalah Anak Krakatau, Lewotobi Laki-laki, Semeru, Merapi, dan Sinabung. Sementara sejumlah gunung lain yang tercatat aktif dan berada pada Level II antara lain Ibu, Ili Lewotolok, Dukono, Marapi, Dempo, dan Karangetang.
Kondisi masing-masing gunung berbeda. Status aktivitas juga tidak ditentukan hanya berdasarkan banyaknya jumlah erupsi, tetapi melalui evaluasi berbagai parameter pemantauan vulkanik.
Semeru Kembali Erupsi, Anak Krakatau Masih Siaga
Salah satu aktivitas terbaru terjadi di Gunung Semeru, Jawa Timur. Pada Selasa (15/9/2026) dini hari, Semeru mengalami erupsi berulang yang beberapa di antaranya disertai suara gemuruh kuat hingga terdengar warga di lereng.
Erupsi pukul 04.32 WIB menghasilkan kolom abu sekitar 1.000 meter di atas puncak. Semeru hingga kini berada pada Level III atau Siaga.
Aktivitas Semeru bukan satu-satunya yang menjadi perhatian selama September.
Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda juga berada pada Level III. Aktivitas gunung tersebut meningkat sejak akhir Agustus hingga awal September dan mengalami rangkaian erupsi. Anak Krakatau termasuk lima gunung yang tercatat berada pada status Siaga dalam pembaruan Badan Geologi awal September.
Di Nusa Tenggara Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki juga berada pada Level III. Gunung tersebut tercatat mengalami ratusan kejadian erupsi sepanjang periode Januari hingga awal September 2026.
Sementara Gunung Merapi yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tetap berstatus Siaga. Aktivitas Merapi memiliki karakter berbeda dengan Semeru maupun Anak Krakatau, termasuk kemunculan awan panas guguran yang terus menjadi salah satu parameter penting pemantauan.
Gunung Sinabung di Sumatra Utara melengkapi kelompok lima gunung berstatus Level III berdasarkan data tersebut.
Ibu, Dukono hingga Ili Lewotolok Juga Aktif
Status Level II atau Waspada bukan berarti gunung tidak menunjukkan aktivitas.
Gunung Ibu di Halmahera Barat, misalnya, kembali mengalami erupsi pada September. Gunung tersebut merupakan salah satu gunung dengan frekuensi aktivitas erupsi tinggi sepanjang 2026, tetapi statusnya berada pada Level II.
Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur dan Dukono di Maluku Utara juga menunjukkan aktivitas erupsi berulang.
BMKG pada 14 September bahkan mendeteksi sebaran abu vulkanik dari Dukono, Ibu, dan Semeru melalui analisis citra satelit Himawari-9. Abu Dukono teridentifikasi mencakup sebagian Halmahera Utara dan perairan barat daya Morotai, sedangkan abu Ibu teridentifikasi di sebagian Halmahera Barat, Halmahera Utara dan Teluk Kao. Sebaran abu Semeru teridentifikasi di sebagian Kabupaten Lumajang.
Data tersebut menunjukkan aktivitas vulkanik memang terjadi di beberapa wilayah Indonesia dalam periode yang berdekatan.
Namun, kondisi ini perlu ditempatkan dalam konteks yang tepat.
Bukan Berarti Gunung Api Saling Memicu
Badan Geologi menegaskan erupsi sejumlah gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan tidak berarti satu gunung memicu erupsi gunung lainnya.
Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif dan berada pada lingkungan tektonik yang sangat aktif. Masing-masing gunung memiliki sistem magma dan proses vulkaniknya sendiri.
Karena itu, aktivitas beberapa gunung pada waktu berdekatan dapat terjadi secara alamiah.
Penjelasan tersebut juga penting untuk membendung informasi keliru yang sempat beredar di media sosial bahwa seluruh gunung api Indonesia aktif secara serentak. Kementerian Komunikasi dan Digital telah menyatakan klaim tersebut sebagai hoaks.
Artinya, istilah seperti “seluruh gunung api Indonesia bangun bersamaan” atau klaim adanya satu proses bawah tanah yang menghubungkan seluruh erupsi tidak memiliki dasar dari pemantauan resmi saat ini.
Status Tinggi Bukan Ditentukan Jumlah Erupsi
Hal lain yang menarik adalah banyaknya erupsi tidak otomatis membuat suatu gunung mendapatkan status lebih tinggi.
Data Badan Geologi periode 1 Januari–7 September menunjukkan Gunung Ibu dan Ili Lewotolok memiliki frekuensi erupsi sangat tinggi, tetapi keduanya berada pada Level II. Sebaliknya, Semeru, Anak Krakatau, Lewotobi Laki-laki, Merapi, dan Sinabung berada pada Level III.
Hal tersebut terjadi karena penentuan status aktivitas gunung api mempertimbangkan hasil pemantauan dan evaluasi kondisi vulkanik secara keseluruhan, bukan sekadar menghitung jumlah letusan.
Level II atau Waspada menunjukkan adanya peningkatan aktivitas atau perubahan dari kondisi normal yang memerlukan perhatian. Level III atau Siaga menunjukkan peningkatan aktivitas yang lebih signifikan dan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi terhadap potensi bahaya.
Sementara Level IV atau Awas merupakan tingkat aktivitas tertinggi.
Masyarakat yang tinggal atau beraktivitas di sekitar gunung api karena itu perlu mengikuti rekomendasi spesifik masing-masing gunung, termasuk radius dan sektor yang dilarang dimasuki. Zona bahaya Semeru, misalnya, tidak bisa digunakan sebagai patokan untuk Anak Krakatau, Merapi, atau gunung lainnya.
Aktivitas vulkanik juga dapat berubah sewaktu-waktu berdasarkan hasil pemantauan terbaru.
Di tengah aktivitas beberapa gunung api yang berlangsung dalam periode berdekatan, pesan utamanya bukan bahwa Indonesia sedang menghadapi “erupsi serentak”, melainkan sejumlah gunung sedang menunjukkan tingkat aktivitas berbeda dan masing-masing perlu dipantau sesuai karakter serta rekomendasi resminya.
Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.
Komentar