Frame Daily, BANGKALAN – Presiden menghadiri penutupan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama (NU) 2026 yang berlangsung di Institut Agama Islam (IAI) Syaichona Mohammad Cholil, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Kegiatan yang mengusung tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa” itu dihadiri lebih dari 1.000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Hadir dalam forum tersebut para kiai sepuh, pengasuh pondok pesantren, jajaran Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, seluruh PCNU se-Jawa Timur, serta peserta Munas-Konbes dari berbagai wilayah NU di Tanah Air.
Sejak Presiden tiba di lokasi acara, ribuan peserta dan warga yang memadati kawasan kampus IAI Syaichona Mohammad Cholil terlihat antusias menyambut kedatangannya. Suasana hangat dan penuh kekeluargaan terasa sepanjang rangkaian penutupan forum keagamaan terbesar NU tahun ini.
Nama Bahlil dan Teddy Disambut Tepuk Tangan
Dalam sambutannya, Presiden beberapa kali menyapa para pejabat yang turut hadir mendampinginya di acara tersebut. Ketika menyebut nama Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia serta Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, spontan para peserta memberikan tepuk tangan meriah.
Riuh hadirin terdengar memenuhi area acara. Presiden pun sempat tersenyum melihat respons peserta yang begitu antusias saat nama kedua pejabat tersebut disebutkan.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian yang mencairkan suasana forum yang sejak awal berlangsung khidmat. Para peserta terlihat menikmati suasana kebersamaan yang terbangun antara pemerintah, ulama, dan warga Nahdliyin yang hadir.
Guyonan Presiden Soal Kopiah Panglima TNI dan Kapolri
Tidak hanya itu, Presiden juga melontarkan candaan yang mengundang tawa para peserta forum. Saat memperhatikan jajaran pejabat yang duduk di barisan depan, Presiden menyinggung penampilan Panglima TNI dan Kapolri yang mengenakan kopiah atau peci hitam.
Dengan nada santai, Presiden mempertanyakan mengapa Panglima TNI dan Kapolri ikut mengenakan peci, padahal seragam dinas harian (PDH) yang mereka gunakan sebenarnya tidak dilengkapi atribut tersebut.
Candaan tersebut langsung disambut gelak tawa para peserta, termasuk para Kiai, Santri, dan tamu undangan yang memadati lokasi acara.
Suasana yang semula formal berubah menjadi lebih cair. Beberapa peserta tampak tersenyum dan bertepuk tangan menyambut guyonan Presiden yang dinilai dekat dengan kultur Nahdlatul Ulama yang penuh keakraban.
Bangkalan Memiliki Nilai Sejarah bagi NU
Penutupan Munas-Konbes NU 2026 sengaja dipusatkan di Kabupaten Bangkalan karena daerah tersebut memiliki nilai historis yang sangat penting dalam perjalanan Nahdlatul Ulama.
Bangkalan merupakan tempat dimakamkannya Syaichona Mohammad Cholil, ulama kharismatik yang dikenal sebagai salah satu guru utama pendiri NU, Hadratussyekh K.H. Hasyim Asy'ari.
Syaichona Mohammad Cholil memiliki pengaruh besar dalam perkembangan keilmuan Islam di Nusantara. Hingga saat ini, makam beliau menjadi salah satu tujuan ziarah utama warga Nahdliyin dari berbagai daerah.
Pemilihan lokasi penutupan di lingkungan IAI Syaichona Mohammad Cholil dinilai sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan intelektual dan perjuangan para ulama dalam membangun tradisi keislaman yang moderat dan berakar kuat pada nilai kebangsaan.
Meneguhkan Khidmat untuk Bangsa
Melalui tema “Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, Munas-Konbes NU 2026 menjadi forum strategis untuk memperkuat peran organisasi dalam menjawab berbagai tantangan zaman.
Dalam sambutannya, Presiden mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan mempererat kerja sama antara pemerintah, ulama, pesantren, serta masyarakat dalam mendukung pembangunan nasional.
Forum tersebut juga menghasilkan sejumlah rekomendasi yang akan menjadi pedoman bagi warga Nahdlatul Ulama dalam menjalankan pengabdian keagamaan, sosial, pendidikan, dan kebangsaan.
Penutupan Munas-Konbes NU 2026 di Bangkalan bukan hanya menjadi momentum konsolidasi organisasi, tetapi juga memperlihatkan kedekatan antara pemimpin negara dan kalangan ulama. Kehangatan yang tercipta sepanjang acara menjadi gambaran kuatnya hubungan pemerintah dengan komunitas Nahdlatul Ulama dalam menjaga kemaslahatan bangsa dan negara.
Komentar