Prabowo Perkuat Operasi Karhutla Kalimantan dan Sumatra

Prabowo memperkuat operasi karhutla di sejumlah wilayah dengan potensi kebakaran tinggi. Sebanyak 52 armada udara telah dikerahkan untuk mendukung operasi di enam provinsi di Sumatra dan Kalimantan.

Prabowo Perkuat Operasi Karhutla Kalimantan dan Sumatra
Presiden Prabowo Subianto turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kubu Raya, Kalimantan, Sabtu (22/8/2026)

Frame Daily, KUBU RAYA – Presiden Prabowo Subianto turun langsung menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan, Sabtu (22/8/2026). Dari Kalimantan Barat hingga Kalimantan Tengah, pemerintah mempertebal kekuatan darat dan udara untuk menahan laju api.

Langkah itu diambil ketika eskalasi karhutla meningkat di sejumlah wilayah. Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan mencatat 518 hotspot berkepercayaan tinggi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan pada 19 Agustus.

Sehari sebelumnya, jumlah hotspot di tiga provinsi tersebut tercatat 109 titik. Lonjakan ini menjadi salah satu indikator meningkatnya aktivitas panas di wilayah terdampak.

Hotspot tetap bukan angka kejadian kebakaran. Setiap titik perlu diverifikasi di lapangan untuk memastikan lokasi, kondisi, penyebab, dan luasan area terbakar.

Prabowo Turun Langsung ke Kalimantan

Prabowo tiba di Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya, sekitar pukul 10.50 WIB, Sabtu (22/8). Presiden kemudian menuju Lanud Supadio untuk melakukan patroli udara menggunakan helikopter.

Dari udara, Prabowo memantau wilayah yang terdampak karhutla sekaligus melihat lokasi yang membutuhkan penanganan segera. ANTARA melaporkan Presiden meminta jajaran TNI, Polri, dan pemerintah daerah mempercepat penanganan serta menindak tegas pelanggaran hukum terkait karhutla.

Presiden kemudian melanjutkan perjalanan ke Kalimantan Tengah. Di Palangka Raya, Prabowo memimpin rapat penanganan karhutla dan menerima laporan mengenai kebutuhan operasi di lapangan.

Salah satu keputusan langsung Presiden adalah penambahan empat helikopter water bombing untuk Kalimantan Tengah.

“Kita tambahin empat,” kata Prabowo ketika menjawab permintaan Kepala Pelaksana BPBPK Kalimantan Tengah Ahmad Toyib di Posko Aju Bandara Tjilik Riwut, Sabtu.

Selain helikopter, pemerintah menambah 100 pompa air, 2.000 alat pelindung diri, cangkul gepyok, sumur bor, dan selang untuk memperkuat pemadaman darat.

52 Armada Udara, 30 Beroperasi di Kalimantan

Kekuatan udara menjadi salah satu tumpuan untuk menjangkau titik api yang sulit ditembus pasukan darat.

Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyebut pemerintah telah mengerahkan 52 pesawat untuk penanganan karhutla di enam provinsi, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

Satgas Udara Karhutla Kalimantan Selatan mengoperasikan tiga helikopter water bombing untuk memperkuat upaya pemadaman titik api, khususnya di lokasi yang sulit dijangkau oleh tim darat di Syamsudin Noor Banjarbaru, Sabtu (22/8/2026)

Dari jumlah tersebut, 30 armada beroperasi di Kalimantan, sedangkan 22 armada berada di Sumatra. Armada tersebut terdiri atas berbagai jenis pesawat dan helikopter untuk patroli, operasi modifikasi cuaca (OMC), serta pemadaman melalui water bombing.

Pada Jumat (21/8), lima pesawat TNI AU juga diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat armada yang telah beroperasi.

Sejumlah pesawat TNI AU lainnya disiagakan di Halim Perdanakusuma, Jakarta, agar dapat digerakkan sesuai kebutuhan BNPB dan perkembangan situasi.

Operasi water bombing telah berlangsung pada 20–21 Agustus untuk menjangkau titik kebakaran yang sulit ditangani dari darat.

Darat Tetap Menjadi Garis Depan

Deru helikopter dari udara tidak menghapus peran pasukan di darat.

Petugas tetap melakukan penyekatan, pembasahan, pendinginan, patroli, dan penjagaan kawasan yang telah terbakar. Di lahan gambut, pekerjaan ini menjadi sangat penting karena bara dapat bertahan di bawah permukaan dan kembali menyala ketika kondisi kembali kering.

BPBD bersama tim gabungan berusaha memadamkan karhutla di Kabupaten Bulungan, Provinsi Kalimantan Utara, Selasa (18/8/2026). [Foto : BPBD Kabupaten Bulungan]

Kekuatan darat juga menjadi penentu ketika kabut asap menghambat penerbangan.

Di Kalimantan Selatan, misalnya, BNPB masih mengandalkan kombinasi operasi udara dan darat. Tiga helikopter water bombing dikerahkan dari Lanud Sjamsudin Noor, sementara patroli udara digunakan untuk menemukan titik api yang sulit terlihat dari permukaan.

OMC Berpacu dengan Langit

Pemerintah juga terus mengoptimalkan operasi modifikasi cuaca. Di Kalimantan Barat, OMC pada 13–17 Agustus mencatat sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.

Peluang pelaksanaan kembali OMC terbuka pada 23–27 Agustus, bergantung pada ketersediaan awan potensial.

Kalimantan Tengah menghadapi tantangan berbeda. Pertumbuhan awan hujan yang terbatas membuat peluang OMC lebih kecil. Kabut asap juga dapat membatasi jarak pandang dan menghambat operasi penerbangan.

Karena itu, strategi pemerintah tidak bertumpu pada satu cara. Ketika langit tidak memungkinkan, pasukan darat bergerak. Ketika medan terlalu sulit, helikopter dikerahkan. Ketika awan membuka peluang, OMC diupayakan.

Ujian Memutus Rantai Api

Karhutla Kalimantan kini menjadi ujian besar bagi koordinasi pemerintah pusat dan daerah.

Penambahan armada, personel, pompa, serta peralatan menunjukkan negara sedang memperbesar kekuatan untuk menghadapi api yang bergerak di bentang lahan luas.

Di sisi lain, keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah helikopter yang terbang atau banyaknya air yang dijatuhkan. Ukurannya adalah apakah titik api benar-benar padam, bara tidak kembali menyala, kebakaran baru dapat dicegah, dan masyarakat terbebas dari kepungan asap.

Di tengah langit Kalimantan yang kelabu, operasi terpadu itu kini berpacu dengan waktu. Api harus diputus sebelum menjalar lebih jauh, sementara negara dituntut memastikan setiap kekuatan—dari udara hingga darat—bergerak dalam satu irama.

Ditulis oleh Junaidi Saifuddin

Komentar