POV Warga Makassar Antre BBM, Rela Antre Sejak Subuh

Warga Makassar rela antre sejak subuh demi BBM. Antrean terjadi di sejumlah SPBU, memicu kemacetan dan kekhawatiran pasokan bensin

POV Warga Makassar Antre BBM, Rela Antre Sejak Subuh
Ilustrasi. Warga Makassar rela antre sejak subuh demi BBM. Antrean terjadi di sejumlah SPBU, memicu kemacetan dan kekhawatiran pasokan bensin. (FDN/AI)

Frame Daily, Makassar - Antrean BBM Makassar kembali terjadi sejak Kamis (10/9/2026) subuh dan berlanjut hingga hari ini, Jumat (11/9/2026). Sejumlah warga rela datang lebih awal ke SPBU demi mendapatkan bensin karena khawatir persediaan habis dan mengganggu aktivitas harian.

Di SPBU Manggala, warga terlihat mengantre panjang sejak pagi buta. Heru, salah seorang warga, mengaku sengaja datang sejak subuh karena tidak ingin kembali kesulitan mendapatkan bahan bakar.

“Saya memang sejak subuh rela menunggu antre bensin di SPBU Manggala, jangan sampai habis lagi. Antreannya sangat panjang,” ujar Heru, seperti dikutip ANTARA.

Fenomena antrean BBM Makassar juga terlihat di SPBU Jalan Letnan Jenderal Hertasning dan Jalan Aroepala. Warga sudah berkumpul sejak pagi untuk menunggu pasokan BBM yang belum tiba.

Wawan, pegawai SPBU 74.902.50 di Jalan Aroepala, mengatakan stok bensin di lokasi tersebut telah habis ketika warga mulai berdatangan. Pihak SPBU masih menunggu pengiriman dari Pertamina.

“Bensinnya sudah habis. Belum masuk, pak, katanya sementara pengiriman. Memang sudah pesan sejak kemarin, tapi belum datang, belum tahu kapan masuk,” tutur Wawan.

Ia mengatakan informasi mengenai alur distribusi pasokan dapat dipantau melalui aplikasi. Pasokan tersebut berasal dari Integrated Terminal Makassar di Jalan Nusantara, tetapi saat pengecekan belum terlihat tanda pengiriman ke SPBU tersebut.

Antrean Meluas hingga Picu Kemacetan

Kondisi antrean BBM Makassar tidak hanya membuat warga harus menunggu berjam-jam. Kendaraan yang mengantre sejak malam juga memenuhi badan jalan dan menyebabkan kemacetan di sejumlah titik.

Aparat kepolisian bersama petugas Dinas Perhubungan terlihat melakukan pengaturan lalu lintas di beberapa SPBU. Penanganan tersebut diperlukan karena panjangnya barisan kendaraan mulai mengganggu arus lalu lintas.

Usman, seorang sopir, mengaku kondisi tersebut membuat masyarakat semakin kesulitan memperoleh BBM untuk beraktivitas. Ia meminta Pertamina menjelaskan penyebab persoalan tersebut secara terbuka kepada publik.

“Sampai kapan begini terus, masyarakat terus-terus kesulitan bahan bakar. Bukan hanya bensin subsidi yang antre, BBM nonsubsidi juga sama. Pertamina harus menjelaskan permasalahan sebenarnya kepada publik,” kata Usman.

Kondisi antrean BBM Makassar juga dilaporkan terjadi di sejumlah penjual bensin eceran menggunakan pom mini tidak resmi. Tempat-tempat tersebut turut dipadati konsumen yang mencari bahan bakar ketika pasokan di SPBU sulit diperoleh.

Situasi ini membuat keresahan warga tidak hanya berkaitan dengan BBM bersubsidi. Kelangkaan sementara pada BBM nonsubsidi juga menjadi sorotan karena masyarakat membutuhkan kepastian mengenai ketersediaan bahan bakar.

DPRD Sulsel Minta Langkah Konkret

Persoalan antrean BBM Makassar sebelumnya turut mendapat perhatian DPRD Sulawesi Selatan. Pimpinan DPRD Sulsel mendatangi Kantor Pertamina Regional Sulawesi di Jalan Garuda untuk meminta penjelasan mengenai antrean panjang yang disebut berlangsung di berbagai SPBU selama sekitar dua bulan.

Ketua DPRD Sulsel Andi Rachmatika Dewi mengatakan banyak aspirasi masyarakat yang diterima lembaganya. Ia meminta Pertamina tidak sekadar memberikan penjelasan, tetapi menyampaikan langkah konkret untuk mengatasi kondisi tersebut.

“Banyak aspirasi yang masuk kepada kami, antrean panjang di SPBU hingga memacetkan jalan. Kami minta bukan jawaban ataupun penjelasan, tetapi apa langkah konkret Pertamina mengatasi kejadian ini dan apa yang kini dihadapi masyarakat,” ujar Andi Rachmatika Dewi.

Sales Area Manager Retail Sulselbar PT Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Rainier Axel Siegfried Parlindungan Gultom mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya adalah peningkatan permintaan dari sektor pariwisata dan logistik.

“Kenaikan demand (permintaan) dari sektor-sektor pariwisata, logistik, dan itu juga memiliki peranan yang cukup besar. Stok selalu kami suplai ke SPBU, tidak pernah putus setiap hari, tetapi antrean terus saja terjadi,” kata Rainier.

Pertamina juga menyebut faktor panic buying sebagai salah satu pemicu. Menurut Rainier, perilaku konsumen ikut dipengaruhi informasi yang beredar di masyarakat mengenai kemungkinan kenaikan harga BBM dan elpiji.

Isu Kenaikan Harga BBM Dibantah

Dalam penjelasannya, Pertamina membantah kabar mengenai rencana kenaikan harga BBM dan elpiji yang disebut beredar di tengah masyarakat. Rainier menilai informasi tersebut berpotensi mendorong konsumen melakukan pembelian secara berlebihan.

“Berita-berita yang beredar sepertinya akan ada kenaikan harga BBM, akan ada kenaikan harga elpiji, itu tidak benar,” ujarnya.

Penelusuran terhadap sejumlah akun media sosial yang kerap menjadi sumber informasi viral menunjukkan narasi mengenai kenaikan harga BBM bersubsidi tidak ditemukan. Konten yang banyak beredar justru berupa video antrean panjang dan keluhan warga di SPBU.

Ada pula informasi mengenai ketentuan mulai 15 September 2026 yang menyebut pembeli BBM bersubsidi wajib menunjukkan STNK. Informasi tersebut menjadi salah satu hal yang ramai diperbincangkan masyarakat di tengah situasi antrean BBM Makassar.

Di tengah keluhan warga dan penjelasan Pertamina, persoalan utama yang masih dinantikan masyarakat adalah kepastian pasokan serta kelancaran distribusi. Pemerintah daerah, DPRD, aparat, dan Pertamina kini dituntut memastikan antrean tidak terus berlarut dan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar