Potensi Wisatawan Muslim Menggiurkan,UMKM Halal Dibidik

Kemenpar mendorong penguatan UMKM halal untuk menangkap peluang pasar wisatawan muslim global yang terus tumbuh dan menjadi motor ekonomi pariwisata Indonesia.

Potensi Wisatawan Muslim Menggiurkan,UMKM Halal Dibidik
Ilustrasi. Pameran UMKM (ANTARA)

Frame Daily, Jakarta – Penguatan UMKM menjadi salah satu strategi yang terus didorong Kementerian Pariwisata (Kemenpar) untuk menangkap peluang pasar wisatawan muslim global yang terus berkembang. Pemerintah menilai segmen tersebut bukan lagi pasar khusus, melainkan telah menjadi arus utama industri pariwisata dunia dengan potensi ekonomi bernilai triliunan dolar Amerika Serikat.

Peluang UMKM dan wisatawan muslim menjadi perhatian dalam Islamic Financial Dialogue yang digelar di Jakarta, Rabu (1/7). Dalam forum tersebut, Staf Ahli Menteri Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Masruroh, menegaskan Indonesia tidak boleh kehilangan momentum untuk menggarap pasar wisata halal yang terus bertumbuh.

Berdasarkan data Global Muslim Travel Index (GMTI) yang dipaparkan Kemenpar, sebanyak 71 persen populasi Muslim dunia berusia di bawah 40 tahun. Kelompok usia produktif tersebut dinilai akan menjadi tenaga kerja, pasar, sekaligus penggerak utama ekonomi masa depan sehingga membuka peluang besar bagi UMKM yang menyasar kebutuhan wisatawan muslim.

"Jadi tenaga kerja, pasar, penggerak ekonomi masa depan itu mereka, (populasi) Muslim. Kalau kita tidak garap dengan baik, pasti kita akan kehilangan pasar besar ini," kata Masruroh dalam acara tersebut, seperti dikutip ANTARA.

Masruroh menjelaskan, pemerintah melihat penguatan ekosistem halal sebagai salah satu kunci agar UMKM mampu naik kelas sekaligus memenuhi kebutuhan wisatawan muslim domestik maupun mancanegara. Langkah tersebut mencakup pengembangan produk halal, layanan parhotelan, restoran, hingga atraksi wisata berbasis warisan Islam.

Peluang Besar dari Generasi Muda Muslim

Kemenpar mencatat wisatawan perempuan Muslim menjadi salah satu segmen dengan pertumbuhan paling pesat. Jumlahnya mencapai sekitar 90 juta orang atau hampir 48 persen dari total perjalanan wisatawan Muslim di dunia.

Kelompok tersebut didominasi generasi muda dengan usia median sekitar 25 tahun. Mereka memiliki minat tinggi terhadap aktivitas belanja, menikmati budaya lokal, wisata olahraga, sekaligus mencari destinasi yang aman dan ramah Muslim.

Karakteristik tersebut membentuk perilaku wisatawan yang semakin mandiri serta memanfaatkan teknologi digital dalam setiap tahapan perjalanan. Penggunaan platform digital dan kecerdasan buatan (AI) untuk mencari informasi, menyusun agenda perjalanan, hingga memilih akomodasi menjadi tren yang semakin menguat.

Masruroh menyebut perubahan perilaku itu perlu direspons pelaku industri pariwisata Indonesia melalui peningkatan kualitas layanan digital. Pelaku usaha, termasuk sektor mikro, kecil, dan menengah, juga didorong untuk memperkuat promosi secara daring agar mampu menjangkau pasar internasional.

Mengacu pada laporan State of the Global Islamic Economy yang disampaikan dalam forum tersebut, konsumsi belanja halal global sepanjang 2024 telah mencapai sekitar 2,6 triliun dolar AS. Dari jumlah tersebut, sektor wisata ramah Muslim menyumbang sekitar 11,2 persen dari total pengeluaran halal dunia.

"Data tersebut menjadi bukti bahwa gaya hidup halal bukan lagi hanya ceruk pasar, tetapi sudah menjadi arus utama pariwisata dan ekonomi global yang etis serta berkelanjutan," ujar Masruroh, dikutip ANTARA.

UMKM Halal Dinilai Jadi Penggerak Daerah

Penguatan sektor halal dinilai tidak hanya berdampak terhadap industri pariwisata, tetapi juga membuka ruang pertumbuhan ekonomi daerah. Produk kuliner, fesyen muslim, kerajinan, kosmetik halal, hingga jasa kreatif menjadi bagian dari rantai nilai yang dapat dikembangkan pelaku UMKM.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana sebelumnya juga menegaskan pengembangan pariwisata berkualitas harus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat. Dalam berbagai kesempatan yang dikutip sejumlah media nasional, termasuk Antara, ia menyatakan pariwisata harus mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat usaha lokal, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di destinasi.

Pandangan serupa juga disampaikan Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Maman Abdurrahman. Dikutip dari berbagai pemberitaan media nasional, ia menilai sertifikasi halal dan peningkatan daya saing produk menjadi salah satu instrumen penting agar UMKM Indonesia mampu menembus pasar global sekaligus memperluas akses ekspor.

Kalangan pelaku industri juga menilai tren wisata halal terus mengalami perkembangan. Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi Sukamdani, dalam sejumlah wawancara dengan media nasional menyebut kebutuhan terhadap layanan ramah Muslim terus meningkat seiring bertambahnya mobilitas wisatawan dari negara-negara dengan mayoritas penduduk Muslim.

Ekosistem Pariwisata Terus Diperkuat

Kementerian Pariwisata saat ini terus menyusun pedoman layanan dasar pariwisata ramah Muslim yang disesuaikan dengan keberagaman budaya dan destinasi di Indonesia. Pedoman tersebut mencakup penguatan ekosistem halal pada sektor hotel, restoran, destinasi wisata, hingga atraksi budaya yang memiliki nilai sejarah Islam.

Pemerintah juga mendorong kolaborasi antara kementerian, pemerintah daerah, pelaku usaha, asosiasi industri, dan komunitas agar standar pelayanan wisata ramah Muslim dapat diterapkan secara lebih luas. Langkah tersebut diharapkan meningkatkan daya saing destinasi Indonesia di tengah persaingan global.

Data yang dipaparkan Kemenpar menunjukkan besarnya potensi pasar wisata halal masih terbuka lebar. Dengan populasi Muslim dunia yang terus bertambah dan didominasi usia produktif, peluang pertumbuhan sektor pariwisata diperkirakan akan terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.

Hingga awal Juli 2026, Kementerian Pariwisata memastikan penguatan pedoman layanan pariwisata ramah Muslim, pengembangan ekosistem halal, serta pemberdayaan UMKM halal tetap menjadi bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan daya saing destinasi Indonesia sekaligus menarik lebih banyak wisatawan muslim dari pasar global. Sumber: ANTARA, pernyataan Kementerian Pariwisata dalam Islamic Financial Dialogue, serta sejumlah pemberitaan media nasional mengenai pengembangan wisata halal dan UMKM.

Ditulis oleh Irianto Susilo

Komentar