Frame Daily, Jakarta - Pompa air terdengar bekerja seperti biasanya, tetapi air yang keluar dari keran semakin kecil. Kadang air hanya mengalir sebentar, kemudian berhenti meski mesin pompa masih menyala.
Situasi seperti ini mungkin mulai dirasakan sebagian rumah tangga ketika musim kemarau berlangsung panjang. Pertanyaannya, apakah pompa bermasalah atau sebenarnya permukaan air di dalam sumur mulai turun?
Jawabannya: keduanya mungkin terjadi. Namun pada musim kemarau, penurunan muka air tanah memang menjadi salah satu kemungkinan yang patut diperiksa.
Kondisi tersebut relevan dengan situasi cuaca saat ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut sebagian wilayah Indonesia masih berada dalam periode kering pada September 2026. Curah hujan rendah diprediksi mendominasi Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian besar Kalimantan dan Sulawesi, Maluku, serta sebagian Papua.
Kondisi tersebut mulai dirasakan sejumlah warga di Depok. Riki, salah seorang warga, mengatakan pompa air di rumahnya masih berfungsi normal, tetapi debit air yang keluar tidak lagi sederas biasanya.
“Pompa masih menyala, tetapi air yang keluar sekarang tidak seperti biasanya. Kadang harus menunggu cukup lama sampai air naik. Kami menduga debit air sumur mulai berkurang karena sudah lama tidak turun hujan,” ujar Riki.
Menurut Riki, perubahan tersebut paling terasa ketika kebutuhan air meningkat, terutama saat pompa digunakan beberapa kali dalam sehari. Kondisi itu membuat waktu pengisian bak penampungan menjadi lebih lama dibandingkan biasanya. Pengalaman warga tersebut menjadi salah satu gambaran kondisi ketersediaan air selama periode kemarau. Meski demikian, air yang sulit naik tidak serta-merta membuktikan bahwa air tanah di suatu wilayah telah surut, karena kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi kedalaman sumur, posisi pompa, kondisi instalasi, hingga debit air tanah setempat.
Sementara itu , BMKG bahkan memprediksi sekitar 88,09 persen wilayah Indonesia memiliki sifat hujan bawah normal pada September 2026. Namun angka ini menggambarkan kondisi hujan secara nasional, bukan berarti 88 persen sumur masyarakat mengalami penyusutan.
Kenapa Air Sumur Bisa Turun Saat Kemarau?
Air di dalam sumur pada dasarnya berkaitan dengan keberadaan air tanah. Salah satu sumber pengisian kembali air tanah adalah air hujan yang meresap ke dalam tanah.
Ketika hujan jarang turun dalam waktu lama, proses pengisian kembali tersebut berkurang. Pada saat yang sama, air tanah tetap digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, pertanian maupun aktivitas lainnya.
Akibatnya, muka air tanah pada lokasi tertentu dapat mengalami penurunan. Sumur yang sebelumnya memiliki kolom air cukup tinggi kemudian menjadi lebih dangkal.
Efeknya bisa mulai terlihat pada pompa. Jika posisi muka air turun hingga mendekati atau melewati kemampuan hisap instalasi pompa, mesin dapat tetap terdengar bekerja tetapi air yang berhasil diangkat menjadi sedikit, tersendat atau bahkan tidak keluar.
Fenomena ini tidak harus terjadi seragam. Dua rumah yang berdekatan pun dapat mengalami kondisi berbeda karena kedalaman sumur, konstruksi, lapisan tanah, jenis akuifer, posisi pompa dan tingkat pengambilan air bisa berbeda.
Kondisi kemarau tahun ini memang perlu mendapat perhatian. BMKG sebelumnya memprediksi sebagian besar Indonesia mengalami musim kemarau lebih kering dari biasanya, sementara 400 Zona Musim atau 57,2 persen diprediksi mengalami musim kemarau lebih panjang dari normalnya.
Pemantauan BMKG pada akhir Agustus juga menunjukkan El Niño berada pada kategori sangat kuat. Pada Dasarian III Agustus, indeks ENSO tiga bulanan JJA berada di angka 2,2.
Tetapi Jangan Langsung Menyalahkan Sumur
Ada satu hal penting: pompa menyala tetapi air tidak naik bukan bukti otomatis bahwa sumur mengering. Gangguan teknis dapat memberikan gejala yang hampir sama.
Pada pompa permukaan, misalnya, kebocoran kecil pada pipa hisap atau sambungan dapat menyebabkan udara masuk sehingga kemampuan pompa menarik air terganggu. Pompa juga dapat kehilangan prime, yaitu kondisi ketika ruang pompa atau jalur hisap tidak lagi terisi air sebagaimana diperlukan untuk bekerja normal.
Saringan atau foot valve di bagian bawah pipa juga bisa kotor atau tersumbat. Katup yang tidak bekerja dengan baik dapat membuat air kembali turun setelah pompa dimatikan. Masalah lainnya dapat berasal dari impeller, kapasitor, motor, instalasi listrik atau pompa yang memang tidak lagi bekerja sesuai kapasitasnya. Karena itu, ada beberapa petunjuk sederhana yang dapat diamati pemilik rumah:
- Jika air normal pada pagi hari tetapi melemah setelah digunakan lama, ketersediaan air sumur bisa menjadi salah satu faktor.
- Jika air baru muncul setelah sumur dibiarkan beberapa jam, ada kemungkinan pengisian kembali sumur berlangsung lebih lambat dibandingkan pengambilan air.
- Jika air mendadak hilang, padahal sebelumnya stabil dan sumur tetangga tidak mengalami perubahan, instalasi pompa perlu diperiksa.
- Jika pompa mengeluarkan suara berbeda, terlalu panas, sering kehilangan air atau harus terus-menerus dipancing, masalah teknis juga perlu dicurigai.
- Cara yang lebih meyakinkan adalah mengukur muka air sumur dan membandingkannya dengan kondisi sebelumnya.
Jangan Biarkan Pompa Terus Menyala Tanpa Air
Jika air tidak keluar, membiarkan pompa bekerja terus-menerus bukan solusi. Pada sejumlah jenis pompa, operasi tanpa pasokan air yang memadai (dry running) dapat menyebabkan temperatur meningkat dan berisiko merusak komponen pompa. Sebaiknya mesin dimatikan dan penyebabnya diperiksa.
Untuk sumur yang dapat diakses dengan aman, pengecekan muka air dapat membantu menentukan apakah masalah berasal dari berkurangnya air. Untuk sumur bor atau instalasi yang lebih kompleks, pemeriksaan teknisi lebih aman dibandingkan membongkar instalasi sendiri. Menambah kedalaman pipa atau mengganti pompa dengan kapasitas lebih besar juga tidak seharusnya menjadi langkah pertama tanpa mengetahui kondisi sumur. Kemampuan sumber air dan karakteristik akuifer perlu diperhitungkan.
Jika banyak rumah dalam satu lingkungan mengalami gejala serupa pada periode yang sama, kondisi tersebut lebih layak dicurigai sebagai persoalan ketersediaan air tanah setempat dibandingkan kerusakan pompa pada satu rumah. Situasi kering sendiri masih berpotensi berlanjut. Untuk Dasarian II September 2026, BMKG memprediksi 77,32 persen wilayah Indonesia mengalami sifat hujan bawah normal.
BMKG juga telah menerbitkan peringatan dini kekeringan meteorologis untuk sejumlah kabupaten/kota dengan tingkat Waspada, Siaga hingga Awas pada Dasarian I September. Kekeringan meteorologis perlu dibedakan dari kondisi air tanah. Peringatan kekeringan BMKG tidak otomatis berarti setiap sumur di wilayah tersebut akan kering, karena respons air tanah terhadap berkurangnya hujan bergantung pada kondisi hidrogeologi masing-masing daerah.
Bagi masyarakat, tanda paling sederhana tetap berasal dari rumah sendiri: debit air yang semakin kecil, waktu pemulihan sumur yang semakin lama, dan turunnya muka air dibandingkan kondisi normal. Jadi ketika pompa masih berbunyi tetapi air semakin sulit naik di tengah kemarau, jangan buru-buru membeli pompa baru. Periksa dua hal sekaligus: kondisi instalasi pompa dan ketersediaan air di dalam sumur.
Komentar