Frame Daily, Jakarta — Petani tebu yang tergabung dalam Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) menggelar aksi demonstrasi di Jakarta, Selasa (1/9/2026). Mereka menyampaikan sejumlah tuntutan terkait harga gula dan kebijakan pemerintah terhadap usaha tani tebu. Aksi berlangsung di kawasan Monumen Nasional (Monas) dan diarahkan ke kawasan Istana Negara serta kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan. Sebelumnya, APTRI memperkirakan sekitar 1.000 petani dari berbagai daerah akan mengikuti aksi tersebut. Dalam pelaksanaan aksi pada Selasa, Frame Daily melaporkan terdapat ratusan petani tebu di kawasan Monas. Ketua Umum DPN APTRI Soemitro Samadikoen mengatakan aksi tersebut dilakukan setelah sejumlah komunikasi dengan pemerintah belum menghasilkan keputusan mengenai kenaikan HPP gula. APTRI mengusulkan HPP gula sebesar Rp16.875 per kilogram untuk 2026. Usulan tersebut telah disampaikan kepada pemerintah secara tertulis. Pada 25 Mei 2026 melaporkan APTRI mengusulkan HPP Rp16.875 per kilogram dengan mempertimbangkan kenaikan biaya produksi petani. Sekretaris Jenderal DPN APTRI M Nur Khabsyin sebelumnya juga menyatakan petani telah beberapa kali menyampaikan usulan kenaikan HPP kepada pemerintah. “Kami merasa seperti di-PHP. Sampai sekarang belum ada kejelasan mengenai keputusan kenaikan HPP gula,” kata Khabsyin dalam pemberitaan mengenai rencana aksi tersebut.
HPP Gula Masih Rp14.500 per Kilogram
Desakan kenaikan HPP disampaikan di tengah keluhan petani mengenai meningkatnya biaya produksi usaha tani tebu. Frame Daily pada 31 Juli 2026 melaporkan HPP gula yang berlaku masih Rp14.500 per kilogram dan belum disesuaikan sejak 2024. APTRI menyebut biaya produksi petani meningkat, antara lain akibat kenaikan biaya pupuk, tenaga kerja, transportasi, dan sewa lahan. Petani juga menghadapi persoalan produksi akibat kondisi kekeringan serta masalah rendemen tebu. APTRI sebelumnya menyampaikan persoalan tersebut dalam pembahasan mengenai kebijakan gula 2026. Sebelumnya, Frame Daily melaporkan APTRI mendesak pemerintah segera menetapkan kenaikan HPP karena musim giling telah berjalan sekitar tiga bulan ketika tuntutan tersebut disampaikan pada akhir Juli.
Tiga Tuntutan Utama Petani
Dalam aksi tersebut, APTRI membawa sejumlah tuntutan kepada pemerintah. Pertama, petani meminta HPP gula ditetapkan sebesar Rp16.875 per kilogram. Kedua, petani meminta pemerintah menghapus Harga Eceran Tertinggi (HET) gula. APTRI menilai kebijakan harga di tingkat konsumen perlu dikaji karena berkaitan dengan pembentukan harga gula di tingkat petani. Ketiga, petani meminta rendemen tebu minimal 8 persen serta transparansi dalam penghitungan rendemen. Selain tiga tuntutan tersebut, petani juga menyampaikan persoalan pupuk dan pembiayaan usaha tani. APTRI meminta subsidi pupuk dapat mencakup kebutuhan lahan tebu petani. Mereka juga meminta akses Kredit Usaha Rakyat (KUR) untuk usaha tebu serta pembiayaan alat dan mesin pertanian dipermudah.
Petani Tolak Rencana Pengadaan Gula Mentah
Petani juga menyampaikan penolakan terhadap rencana pengadaan gula kristal mentah sebanyak 150.000 ton. Sikap tersebut disampaikan karena APTRI menilai masuknya gula mentah perlu mempertimbangkan kondisi pasar dan produksi gula dalam negeri. Di sisi lain, pemerintah memiliki target meningkatkan produksi gula nasional dan mencapai swasembada gula konsumsi. Petani menilai kepastian harga menjadi salah satu faktor penting dalam keberlanjutan usaha tani tebu.
Aksi Berlangsung Tertib
Hingga Selasa siang, aksi petani tebu berlangsung di kawasan Monas dengan pengawalan aparat kepolisian. Polres Metro Jakarta Pusat menerapkan pendekatan humanis dalam mengawal aksi tersebut. Polisi juga memastikan penyampaian pendapat berlangsung aman, tertib, dan damai. Aksi tersebut menjadi bagian dari upaya APTRI menyampaikan tuntutan kepada pemerintah terkait kebijakan harga gula dan kondisi usaha tani tebu. Selain kenaikan HPP menjadi Rp16.875 per kilogram, petani meminta penghapusan HET gula, transparansi penghitungan rendemen dengan batas minimal 8 persen, dukungan pupuk dan pembiayaan, serta perhatian terhadap produksi gula dalam negeri. Hingga aksi berlangsung, keputusan pemerintah mengenai penyesuaian HPP gula 2026 masih ditunggu oleh petani.
Komentar