Pengungsi Korban Gempa di Sikka Tidur Beralas Terpal dan Kardus Bekas

Sekitar 200 warga terdampak gempa di Sikka, Nusa Tenggara Timur, masih bertahan di halaman Kantor Bupati. Lima malam mereka tidur beralaskan terpal dan kardus bekas karena khawatir gempa susulan.

Pengungsi Korban Gempa di Sikka Tidur Beralas Terpal dan Kardus Bekas
Sejumlah warga korban gempa bertahan di tempat pengungsian dengan tidur beralaskan terpal dan kardus bekas di halaman Kantor Bupati Sikka, Nusa Tenggara Timur. Warga memilih mengungsi karena masih khawatir terhadap gempa susulan. Frame Daily - Foto : Treasure.

Frame Daily, Sikka - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu (15/8/2026) membuat sebagian warga Kabupaten Sikka memilih bertahan di lokasi pengungsian. Kekhawatiran terhadap gempa susulan membuat mereka belum berani kembali ke rumah.

Di halaman Kantor Bupati Sikka, sekitar 200 pengungsi bertahan selama lima malam. Kondisi tempat tinggal mereka jauh dari kata nyaman. Sebagian warga tidur beralaskan terpal, tikar seadanya hingga kardus bekas.

Malam hari menjadi waktu yang paling berat. Warga harus beristirahat di ruang terbuka dengan perlindungan sederhana. Barang bawaan keluarga diletakkan di sekitar tempat mereka tidur.

Tak Berani Kembali ke Rumah

Keputusan warga untuk tetap mengungsi tidak lepas dari aktivitas gempa susulan yang masih terjadi di wilayah Flores.

Data BMKG hingga 18 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB, melaporkan telah terjadi 2.119 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,3 hingga 6,2. Sebanyak 70 gempa susulan dilaporkan dirasakan masyarakat.

Situasi tersebut membuat warga yang rumahnya mengalami kerusakan maupun yang masih diliputi kecemasan memilih tinggal di tempat terbuka.

Pada 16 Agustus 2026 bahwa ribuan warga Sikka mengungsi, termasuk di Stadion Gelora Samador. Kekhawatiran terhadap gempa susulan menjadi salah satu alasan warga belum kembali ke rumah.

Bagi warga yang bertahan di halaman Kantor Bupati Sikka, keselamatan menjadi pertimbangan utama. Tempat sederhana di ruang terbuka dinilai lebih aman dibandingkan berada di dalam rumah yang kondisi bangunannya belum sepenuhnya dipastikan.

Bantuan Terus Didistribusikan

Pemerintah dan berbagai lembaga terus mengirimkan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.

Pada 18 Agustus 2026 bahwa bantuan untuk korban gempa di Maumere terus berdatangan. Bantuan tersebut berupa sembako, bahan pangan, obat-obatan dan sejumlah kebutuhan logistik lainnya yang kemudian didistribusikan ke beberapa titik pengungsian.

BNPB juga telah memobilisasi berbagai kebutuhan darurat untuk Kabupaten Sikka. Berdasarkan laporan 16 Agustus, bantuan yang diserahkan antara lain tenda pengungsi, tenda keluarga, kasur lipat, tikar, selimut, paket sembako, perlengkapan anak, genset, hygiene kit dan tangki air.

Bantuan dari pemerintah pusat juga telah tiba di Maumere. Sebanyak 1.725 paket sembako dikirim menggunakan pesawat Hercules, dengan 1.000 paket dialokasikan untuk Kabupaten Sikka dan sisanya untuk Kabupaten Ende.

Meski bantuan terus bergerak, warga berharap distribusinya dapat dilakukan secara merata sehingga seluruh pengungsi memperoleh kebutuhan dasar sesuai kondisi masing-masing.

Lima Malam Bertahan dalam Keterbatasan

Bertahan selama berhari-hari di tempat pengungsian bukan perkara mudah, terutama bagi keluarga yang membawa anak-anak dan warga lanjut usia.

Terpal menjadi pelindung dari permukaan tanah. Kardus bekas dimanfaatkan sebagai alas tambahan agar tubuh tidak langsung bersentuhan dengan lantai atau tanah yang dingin pada malam hari.

Kondisi tersebut menggambarkan bagaimana warga berusaha memenuhi kebutuhan paling mendasar dengan apa yang tersedia.

Di tengah keterbatasan, mereka tetap bertahan sambil menunggu situasi benar-benar aman untuk kembali ke rumah.

Pemulihan Masih Berjalan

Gempa NTT tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga meninggalkan rasa takut bagi warga yang mengalami langsung guncangan.

Pemerintah Kabupaten Sikka bersama pemerintah pusat dan unsur terkait masih melakukan penanganan darurat, pendataan kerusakan, distribusi bantuan serta pemulihan masyarakat terdampak.

Detikcom pada 19 Agustus 2026 melaporkan Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meninjau pengungsian di GOR Samador, Maumere, untuk memastikan kebutuhan dasar warga terdampak gempa terpenuhi.

Sementara itu, kondisi di sejumlah titik pengungsian masih menjadi perhatian. Warga membutuhkan tempat berlindung yang lebih layak, makanan, air bersih, perlengkapan tidur serta dukungan bagi anak-anak yang ikut terdampak bencana.

Bagi para pengungsi di halaman Kantor Bupati Sikka, harapan mereka sederhana: dapat melewati masa darurat dengan aman, memperoleh bantuan secara merata, dan segera kembali menjalani kehidupan normal ketika kondisi sudah memungkinkan.

Ditulis oleh Treasure

Komentar