Frame Daily, Jakarta — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengirim bantuan kemanusiaan senilai Rp5,85 miliar untuk masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bantuan tersebut dilepas langsung Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dari Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 menyebabkan korban jiwa, luka-luka, kerusakan rumah, serta membuat puluhan ribu warga harus mengungsi.
Menurut laporan RRI pada 20 Agustus 2026, bantuan DKI Jakarta dihimpun melalui aparatur sipil negara (ASN), perangkat daerah, badan usaha milik daerah (BUMD), serta BAZNAS (BAZIS) DKI Jakarta.
Bantuan DKI Mencakup Logistik hingga Air Bersih
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan total bantuan yang diberangkatkan mencapai Rp5.853.728.500.
Bantuan tersebut tidak hanya berupa uang tunai. Pemprov DKI mengirim kebutuhan pangan, perlengkapan pengungsian, obat-obatan, kebutuhan anak, hingga fasilitas pendukung air bersih.
ANTARA melaporkan pada Jumat (21/8) bahwa bantuan DKI yang diterima BNPB mencakup pemenuhan pangan, sanitasi, kebutuhan anak, serta peralatan medis.
BPBD DKI mengirim 1.750 paket makanan siap saji, biskuit, dan air mineral. Ada pula 4.000 perlengkapan yang terdiri atas kasur, bantal, selimut, family kit, terpal, karung, dan perlengkapan anak.
Dinas Sosial DKI menambah 1.350 paket air mineral dan makanan serta 1.000 lembar terpal atau tenda gulung.
Dukungan kesehatan juga disiapkan. Dinas Kesehatan DKI mengirim cairan infus NaCl, Ringer Laktat, D40, serta Betadine.
Perumda PAM Jaya turut mengirim 200 toren air berkapasitas 300 liter untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga terdampak.
Bantuan Dikirim melalui Jalur Udara dan Laut
Distribusi bantuan dilakukan melalui jalur udara dan laut dengan koordinasi BNPB.
Langkah tersebut ditempuh untuk mempercepat pengiriman kebutuhan dasar ke wilayah terdampak, terutama daerah yang mengalami gangguan akses akibat kerusakan infrastruktur.
Pramono mengatakan bantuan tersebut merupakan bentuk empati dan kemanusiaan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama masyarakat Ibu Kota.
"Ini sebagai bagian dari rasa empati kebersamaan, kemanusiaan," ujar Pramono seperti dikutip Beritajakarta pada 20 Agustus 2026.
Pemprov DKI juga masih membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin ikut berkontribusi hingga 25 Agustus 2026.
UGM Terjunkan Enam Personel ke NTT
Respons terhadap bencana juga datang dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM pada Rabu (19/8) memberangkatkan enam personel Tim Tanggap Bencana ke NTT.
Tim tersebut terdiri atas tiga personel manajemen bencana FK-KMK UGM dan tiga tenaga medis dari Rumah Sakit Akademik UGM.
Mereka ditugaskan melakukan asesmen kebutuhan sekaligus memperkuat pelayanan kesehatan di sejumlah wilayah terdampak. Misi tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 30 Agustus 2026.
Salah satu lokasi sasaran awal adalah Kabupaten Ngada.
Tim medis akan melakukan rapid health assessment untuk memetakan kondisi kesehatan masyarakat serta kebutuhan pelayanan di lapangan. Setelah itu, mereka juga akan menjalankan fungsi sebagai Emergency Medical Team.
Dokter umum RSA UGM, Rizki Fitria Febrianti, mengatakan kondisi pascagempa berpotensi membutuhkan penanganan trauma dan perawatan luka.
"Kami akan melakukan rapid health assessment karena kami tim awal yang berangkat," kata Rizki seperti diberitakan Media Indonesia pada 19 Agustus 2026.
Bawa 40 Kilogram Obat-obatan
Selain tenaga medis, tim UGM membawa sekitar 40 kilogram obat-obatan bantuan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Obat yang dikirim antara lain parasetamol, multivitamin, ibuprofen, antasida, cetirizine, cairan infus, masker, serta sarung tangan medis.
Pemda DIY sebenarnya telah menyiapkan sekitar 240 kilogram obat-obatan untuk korban gempa. Pengiriman dilakukan bertahap karena keterbatasan waktu dan kapasitas angkutan. Pada tahap awal, 40 kilogram obat dititipkan kepada tim FK-KMK UGM.
UGM memastikan distribusi obat akan disesuaikan dengan hasil asesmen dan kebutuhan masyarakat di lapangan.
Pengiriman bantuan dari Jakarta dan pengerahan tenaga medis UGM menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan darurat di NTT.
Di tengah kebutuhan pengungsi yang terus berkembang, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, tenaga kesehatan, dan berbagai unsur kemanusiaan menjadi penting agar bantuan dapat diterima warga yang paling membutuhkan.
Komentar