Frame Daily, Jakarta - Harga minyak dunia kembali melonjak. Minyak Brent pada perdagangan Jumat (11/9/2026) bergerak di kisaran US$109 per barel dan sempat menyentuh US$109,97, mendekati level US$110 per barel.
Kenaikan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat konflik di Timur Tengah. Harga Brent juga telah bergerak melampaui US$100 per barel dalam beberapa hari terakhir.
Bagi Indonesia, kenaikan ini menimbulkan dua pertanyaan penting: apakah harga BBM akan ikut naik dan seberapa besar tekanan yang harus ditanggung APBN?
BBM Bersubsidi Belum Diputuskan Naik
Sejauh ini, belum ada keputusan menaikkan harga BBM bersubsidi.
Pemerintah sebelumnya memastikan harga BBM bersubsidi dipertahankan hingga akhir 2026. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa pada bulan April lalu menyebut pemerintah telah memperhitungkan skenario harga minyak dunia mencapai US$100 per barel hingga akhir tahun.
Kini, harga Brent telah melampaui level US$100 per barel yang sebelumnya masuk dalam skenario perhitungan pemerintah.
Namun ada perbedaan penting. Brent bukan harga minyak yang digunakan langsung sebagai asumsi APBN.
APBN 2026 menggunakan Indonesian Crude Price (ICP) dengan asumsi US$70 per barel. Karena itu, Brent yang mendekati US$110 tidak berarti ICP Indonesia otomatis berada di level yang sama.
Meski demikian, semakin tinggi harga minyak internasional dan semakin lama kondisi itu berlangsung, semakin besar potensi tekanan terhadap biaya pengadaan energi Indonesia.
Jika Harga BBM Ditahan, APBN Menjadi Peredam
Ketika biaya penyediaan energi meningkat sementara harga BBM bersubsidi dipertahankan, sebagian tekanan dapat berpindah ke subsidi dan kompensasi energi dalam APBN.
Besarnya beban tidak hanya ditentukan harga minyak. Pergerakan ICP, nilai tukar rupiah, serta volume konsumsi BBM, LPG dan listrik juga ikut memengaruhi kebutuhan subsidi dan kompensasi.
Karena itu, kenaikan Brent dari US$100 menuju US$110 tidak dapat langsung diartikan bahwa beban APBN bertambah 10 persen.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak juga dapat meningkatkan penerimaan negara dari sektor migas. Namun Indonesia masih membutuhkan impor minyak dan produk BBM sehingga harga internasional yang tinggi tetap dapat meningkatkan biaya impor.
Tekanan bisa semakin berat apabila harga minyak tinggi terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah.
Yang Menentukan: Seberapa Lama Harga Tinggi Bertahan
Lonjakan sesaat menuju US$110 tentu berbeda dampaknya dibandingkan harga yang bertahan di level tersebut selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Karena itu, yang perlu diperhatikan sekarang bukan sekadar apakah Brent menyentuh US$110, tetapi berapa lama harga tinggi bertahan, bagaimana ICP bergerak, dan bagaimana kondisi nilai tukar rupiah.
Bagi masyarakat, kondisi terbaru belum berarti Pertalite atau BBM bersubsidi otomatis naik. Komitmen terakhir pemerintah masih mempertahankan harga BBM bersubsidi hingga akhir 2026.
Ini menyebabkan APBN, tekanannya menjadi semakin besar, Jika harga minyak terus bertahan tinggi, pemerintah harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk menjaga agar gejolak harga energi global tidak langsung berpindah ke masyarakat melalui harga BBM.
Dengan kata lain, semakin lama minyak berada di level tinggi, semakin berat tugas APBN sebagai peredam gejolak energi global.
Komentar