Mengenang Martha Tilaar: Legenda Kecantikan Nusantara yang Memulai Imperium Bisnis dari Garasi Rumah

Dr. (H.C.) Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group, wafat pada usia 89 tahun. Mengawali perjalanan karirnya dari seorang guru hingga membuka salon sederhana di garasi rumah orang tuanya pada tahun 1970, beliau berhasil membangun imperium bisnis kosmoseutikal.

Mengenang Martha Tilaar: Legenda Kecantikan Nusantara yang Memulai Imperium Bisnis dari Garasi Rumah
Dr. (H.C.) Martha Tilaar (1937–2026), perintis industri kecantikan tradisional Indonesia dan pendiri Martha Tilaar Group yang tutup usia di umur 89 tahun (Dok. Istimewa)

Frame Daily, Jakarta — Industri kosmetik dan kecantikan Tanah Air berduka. Tokoh pendorong industri kosmetik berbasis bahan alam dan kearifan lokal, Dr. (H.C.) Martha Tilaar, tutup usia di umur 89 tahun. Informasi kepergian sang pionir diumumkan secara resmi melalui akun Sariayu Martha Tilaar pada Rabu (14/10). Kepergian beliau meninggalkan warisan tak ternilai bagi dunia kecantikan tradisional serta kewirausahaan perempuan di Indonesia.

Berdasarkan pantauan Frame Daily, perjalanan hidup Martha Tilaar bukan sekadar kisah sukses bisnis biasa, melainkan dedikasi panjang seorang perempuan yang konsisten mengangkat harkat kekayaan alam serta budaya Indonesia ke tingkat global.

Lahir dengan nama lengkap Martha Handana (Tjhie Pwee Giok) pada 4 September 1937 di Gombong, Jawa Tengah, beliau memulainya dari latar belakang yang cukup jauh dari dunia estetika medis atau kosmetologi. Sebelum membesarkan nama perusahaan kecantikan papan atas, Martha mengawali pengabdiannya sebagai seorang pendidik atau guru sekolah.

Keinginan belajar yang kuat membawanya mengenyam pendidikan tinggi di IKIP Jakarta (sekarang Universitas Negeri Jakarta) dengan mengambil jurusan Pendidikan Sejarah. Pemahaman mendalam mengenai sejarah dan tradisi lokal inilah yang kelak menjadi fondasi kuat saat beliau mengombinasikan resep kecantikan leluhur dengan inovasi sains modern.

Perjalanan hidupnya semakin berwarna saat beliau menikah dengan Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf (HAR) Tilaar pada 12 Januari 1964. Pernikahan mereka dikaruniai empat orang anak, yakni Wulan Tilaar, Kilala Tilaar, Bryan Tilaar, dan Pingkan Tilaar.

Di tengah kesibukan mengarungi bahtera rumah tangga, sang suami melihat potensi besar serta bakat berbisnis dalam diri Martha. Berkat dorongan dan kepercayaan yang diberikan oleh sang suami, Martha dengan berani mengambil langkah awal melakoni dunia kecantikan.

Pada tahun 1970, berbekal tekad dan modal seadanya, Martha mendirikan salon kecantikan pertamanya. Tempat yang dipilih pun sangat bersahaja: garasi rumah orang tuanya, Yakob Handana, yang berlokasi di Jalan Kusuma Atmaja No. 47, Menteng, Jakarta Pusat. Siapa sangka, garasi kecil di kawasan Menteng tersebut menjadi tempat lahirnya ide-ide besar yang kelak mengubah lanskap industri kosmetik nasional.

Usaha yang berawal dari garasi rumah itu perlahan namun pasti berkembang pesat. Martha melihat peluang besar yang belum banyak digarap pada masa itu: memanfaatkan tradisi kecantikan lokal serta kekayaan tanaman herbal dan jamu-jamuan Nusantara.

Di saat pasar kosmetik Tanah Air didominasi oleh produk-produk impor modern asal Barat, Martha justru konsisten menggali resep kecantikan tradisional Jawa dan daerah lainnya di Indonesia. Beliau meramu bahan-bahan alami seperti kunyit, sirih, pegagan, hingga ekstrak bunga-bungan khas Indonesia menjadi produk kecantikan yang praktis, aman, dan higienis.

Bisnis salon kecil tersebut bertransformasi menjadi Martha Tilaar Group, sebuah konglomerasi bisnis yang menaungi berbagai lini usaha terintegrasi. Gurita bisnisnya tidak hanya mencakup manufaktur merek kosmetik kenamaan dan produk jamu tradisional, tetapi juga berkembang ke bisnis maklon, sekolah kecantikan (Martha Tilaar Beauty School), jasa spa dan salon, hingga perusahaan agensi periklanan.

Integritas dan kontribusi nyata Martha Tilaar dalam memajukan ilmu pengetahuan, perekonomian, serta pelestarian budaya memberikannya tempat terhormat. Sepanjang perjalanan karirnya yang panjang, beliau dianugerahi berbagai penghargaan prestisius, di antaranya:

  1. Tanda Bintang Kehormatan Budaya Parama Dharma dari Pemerintah Republik Indonesia atas jasanya memelihara dan mengembangkan kebudayaan.
  2. Masuk dalam daftar 99 Most Powerful Women versi Globe Asia Magazine.
  3. Gelar Perekayasa Utama Kategori Obat-obatan dan Herbal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
  4. Penghargaan Ganesa Widya Jasa Utama dari Institut Teknologi Bandung (ITB) atas kontribusinya dalam pengembangan riset kosmetik berbasis bahan alam lokal.
  5. Terpilih sebagai anggota United Nations Global Compact pada tahun 2012, yang menegaskan komitmen bisnisnya terhadap keberlanjutan dan tanggung jawab sosial.

Kisah hidup Martha Tilaar adalah bukti nyata bahwa keterbatasan awal bukanlah penghalang untuk meraih keberhasilan skala dunia. Dedikasinya memperjuangkan bahan herbal asli Indonesia agar bisa bersaing di panggung internasional telah membuka jalan bagi ratusan ribu tenaga kerja, pengrajin tanaman herbal, hingga pelaku UMKM lokal.

Kini sang pionir telah berpulang. Namun, visi, keberanian, dan semangatnya untuk terus bangga pada kearifan lokal akan selalu menjadi pencerah dan inspirasi bagi generasi penerus bangsa. Selamat jalan, Dr. (H.C.) Martha Tilaar.

Ditulis oleh Defi

Komentar