Frame Daily, Jakarta - Arus keluar dana investor asing (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia masih menjadi perhatian pada Juni 2026. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan investor asing membukukan net sell Rp4,1 triliun di pasar saham sepanjang Mei 2026, meski jumlah investor domestik terus bertambah dan aktivitas perdagangan tetap berlangsung. Kondisi tersebut dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Di sisi lain, pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan bahwa tekanan di pasar saham tidak menggambarkan keseluruhan arus modal. Instrumen seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) justru masih mencatat aliran dana asing yang positif.
Suku Bunga Global Masih Menekan
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi menjelaskan arus keluar modal lebih banyak dipicu kondisi eksternal dibandingkan persoalan fundamental ekonomi Indonesia.
"Terjadi outflow karena kondisi geopolitik dan geoekonomi global serta kebijakan suku bunga The Fed yang lebih tinggi dalam waktu lebih lama."
Sumber: Konferensi pers OJK,
Kebijakan suku bunga tinggi di Amerika Serikat membuat banyak investor global memilih aset berisiko rendah seperti obligasi pemerintah AS sehingga dana dari pasar berkembang, termasuk Indonesia, ikut berkurang.

Pasar Saham Masih Dihantui Aksi Jual
Sepanjang Mei 2026, OJK mencatat investor asing melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp4,1 triliun di pasar saham Indonesia.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi mengatakan aksi jual tersebut berlangsung di tengah tingginya ketidakpastian global dan domestik. Walau demikian, jumlah investor domestik terus bertambah sehingga menjadi penopang aktivitas pasar modal nasional.
BI Sebut Modal Asing Masih Masuk
Di tengah tekanan pada pasar saham, Bank Indonesia menyampaikan terdapat perkembangan positif pada instrumen pasar uang.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyatakan:
"Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik."
Sumber: ANTARA, 12 Juni 2026.
BI mencatat aliran dana asing ke SRBI dan Surat Berharga Negara mencapai Rp19,02 triliun setelah kenaikan BI-Rate menjadi 5,50 persen. Data tersebut menunjukkan investor asing masih melihat instrumen pendapatan tetap Indonesia sebagai pilihan investasi.
Kepercayaan Pasar Menjadi Kunci
Sejumlah media internasional juga menyoroti meningkatnya kehati-hatian investor terhadap Indonesia. Isu kepastian kebijakan, kondisi fiskal, serta dinamika ekonomi global menjadi faktor yang terus dipantau pelaku pasar.
Investor asing masih mencatat aksi jual di pasar Indonesia pada Juni 2026. Faktor global, kebijakan ekonomi, dan kepastian investasi menjadi perhatian.
Pengamat menilai konsistensi kebijakan pemerintah, stabilitas nilai tukar rupiah, serta transparansi regulasi akan menjadi penentu utama dalam mengembalikan kepercayaan investor asing.

Prospek Masih Terbuka
Meski pasar saham mengalami tekanan, arus modal ke instrumen obligasi pemerintah dan SRBI menunjukkan bahwa investor global belum sepenuhnya meninggalkan Indonesia.
Bank Indonesia bersama pemerintah terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan daya tarik investasi.
Dengan fundamental ekonomi yang masih relatif kuat, pasar domestik yang besar, dan reformasi struktural yang terus berjalan, peluang masuknya kembali modal asing tetap terbuka apabila ketidakpastian global mulai mereda dan kepastian kebijakan nasional terus terjaga.
Komentar