Frame Daily, Jakarta – Bagi banyak pengguna media sosial, komentar promosi judi online yang muncul di Facebook dan Instagram mungkin terlihat seperti ulah akun iseng. Namun, menurut Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), fenomena tersebut merupakan bagian dari aktivitas terorganisir lintas negara yang memanfaatkan sistem otomatis atau bot untuk membanjiri kolom komentar di berbagai platform media sosial.
Lonjakan aktivitas ini menjadi perhatian serius pemerintah setelah temuan spam promosi judi online meningkat 128 persen dibandingkan rata-rata temuan pada periode Januari–Juni 2026. Kondisi tersebut mendorong Komdigi dan Meta membentuk tim bersama untuk memperkuat moderasi konten, meningkatkan deteksi bot, serta mempercepat penanganan komentar spam di Facebook dan Instagram.
Bot Bekerja Lebih Cepat daripada Manusia
Direktur Jenderal Pengawasan Ruang Digital Komdigi Alexander Sabar menjelaskan hasil analisis pemerintah menunjukkan lonjakan spam bukan terjadi secara alami.
"Hasil analisis kami menunjukkan bahwa ini bukan komentar biasa. Lonjakan ini merupakan bagian dari aktivitas terorganisir transnasional yang memanfaatkan sistem otomatis atau bot untuk memantau media sosial secara real time," kata Alexander Sabar dalam konferensi pers Komdigi.
Bot tersebut bekerja dengan memantau unggahan yang sedang ramai diperbincangkan. Ketika sistem mendeteksi sebuah konten mengalami lonjakan interaksi, ribuan komentar promosi dapat dikirim secara otomatis hanya dalam hitungan detik.
Satu Akun Diblokir, Ribuan Akun Baru Muncul
Salah satu tantangan terbesar adalah kemampuan pelaku membuat akun baru dalam jumlah besar.
Jaringan spam umumnya tidak bergantung pada satu akun. Mereka mengoperasikan ribuan akun dengan identitas berbeda sehingga ketika sebagian akun diblokir, jaringan masih dapat berjalan menggunakan akun lain.
Selain itu, pelaku terus mengubah pola komentar agar tidak mudah dikenali sistem moderasi, misalnya dengan:
- mengganti huruf menjadi angka;
- menambahkan emoji;
- mengubah susunan kalimat;
- menggunakan gambar berisi teks promosi;
- menyisipkan tautan yang berbeda.
Teknik tersebut membuat sistem deteksi harus terus diperbarui untuk mengenali pola baru.
Perang Teknologi Melawan Teknologi
Platform seperti Facebook dan Instagram telah menggunakan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi spam.
Namun, pelaku juga memanfaatkan otomatisasi dan berbagai teknik untuk menghindari deteksi.
Akibatnya, pemberantasan spam berubah menjadi perlombaan teknologi. Setiap kali platform memperbarui sistem moderasi, pelaku berusaha menemukan cara baru agar komentar mereka tetap lolos.
Fenomena ini membuat penghapusan spam tidak pernah benar-benar selesai, tetapi berlangsung sebagai proses yang terus diperbarui.
Mengapa Menargetkan Kolom Komentar?
Menurut Komdigi, pelaku memilih kolom komentar karena memberikan jangkauan yang luas dengan biaya sangat rendah.
Komentar spam ditempatkan pada unggahan akun media, tokoh publik, influencer, hingga instansi pemerintah yang memiliki banyak pengikut. Ketika sebuah unggahan viral, komentar tersebut berpeluang dilihat ribuan bahkan jutaan pengguna dalam waktu singkat.
Strategi ini memungkinkan jaringan judi online mempromosikan tautan atau akun mereka tanpa harus membangun audiens sendiri.
Komdigi Gandeng Meta
Melihat pola serangan yang semakin kompleks, Komdigi memperkuat kerja sama dengan Meta.
Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid mengatakan kedua pihak telah sepakat membentuk tim bersama untuk menangani spam promosi judi online.
"Kami akan membentuk tim bersama dalam kerangka memberantas dan mengatasi judi online, khususnya modus terbaru berupa komentar-komentar spam yang meresahkan masyarakat," ujar Meutya Hafid usai bertemu dengan jajaran Meta Indonesia.
Kolaborasi tersebut mencakup peningkatan sistem moderasi, pertukaran informasi mengenai pola serangan, hingga percepatan penanganan akun yang terindikasi menjadi bagian dari jaringan spam.
Peran Pengguna Tetap Penting
Meski teknologi moderasi terus ditingkatkan, pengguna tetap memiliki peran penting dalam membantu mengurangi penyebaran spam.
Komdigi mengimbau masyarakat untuk:
- melaporkan komentar spam;
- tidak mengklik tautan mencurigakan;
- memblokir akun penyebar spam;
- mengaktifkan fitur penyaringan komentar pada akun publik.
Semakin banyak laporan yang diterima platform, semakin cepat sistem mengenali pola penyalahgunaan dan mengambil tindakan terhadap akun yang terlibat.
Komentar