Frame Daily, Jakarta - Film horor Lastri: Arwah Kembang Desa menjadi karya terakhir mendiang Gary Iskak di layar lebar. Film garapan sutradara Hendri Tivo itu dijadwalkan tayang di bioskop mulai 16 Juli 2026.
Kehadiran Gary Iskak di film ini memberi makna emosional tersendiri. Aktor yang meninggal dunia pada November 2025 itu sempat menyelesaikan proses syuting sebelum berpulang. Lastri: Arwah Kembang Desa pun menjadi penampilan terakhirnya di dunia film.
Dalam film ini, Gary Iskak memerankan karakter Renggo, sosok yang menjadi bagian penting dalam hidup Lastri. Tokoh itu terlibat dalam rangkaian konflik yang membentuk kisah tragis Lastri hingga berujung teror dari arwahnya.

Produser Joe Richard mengatakan perilisan teaser dan trailer film ini juga menjadi bentuk penghormatan untuk Gary Iskak. Menurutnya, karakter yang dimainkan Gary punya peran penting dalam membangun suasana cerita.
“Teaser ini kami rilis sebagai gambaran awal dunia Lastri, sekaligus bentuk penghormatan kami kepada almarhum Gary Iskak. Sosok Turenggo yang diperankan beliau sangat kuat, dan kami ingin penonton merasakan energi serta dedikasi beliau sejak detik pertama teaser ini diputar,” ujar Joe Richard.
Film Lastri: Arwah Kembang Desa mengangkat kisah urban legend dari Pati, Jawa Tengah. Ceritanya berpusat pada Lastri, perempuan yang semasa hidup dikenal sebagai kembang desa, tetapi kemudian harus menghadapi fitnah, pengkhianatan, dan luka rumah tangga yang berujung tragis.

Setelah meninggal, arwah Lastri digambarkan terus menghantui desa. Namun film ini tak hanya menonjolkan sisi horor, melainkan juga drama dan luka batin yang membentuk karakter Lastri.
Joe Richard menegaskan Lastri: Arwah Kembang Desa bukan sekadar film horor yang mengandalkan kejutan. Ia ingin penonton juga merasakan emosi yang tertinggal setelah film berakhir.
“Kami tidak hanya ingin menakut-nakuti. Kami ingin penonton merasakan sesuatu, rasa kehilangan, rasa takut, rasa yang tertinggal. Ini film yang kami bangun dengan hati. Dan kami yakin, penonton akan merasakannya,” kata Joe Richard.

Sutradara Hendri Tivo menyebut atmosfer mencekam dalam film ini dibangun perlahan. Menurutnya, ketakutan yang paling kuat justru datang dari suasana yang pelan-pelan masuk ke benak penonton.
“Ketakutan yang paling kuat bukan yang datang tiba-tiba, tapi yang pelan-pelan masuk. Itu yang kami coba bangun di Lastri,” ujar Hendri Tivo.
Pemeran Lastri, Hana Saraswati, juga mengenang momen syuting bersama Gary Iskak. Ia menyebut Gary sebagai sosok senior yang hangat dan sangat membantu lawan main selama proses produksi.

“Gampang banget aku nyambungnya sama Mas Gary. Dia mengayomi, open banget. Tampilannya mungkin kelihatan seram, tapi ternyata begitu ngobrol, hatinya beda jauh,” kata Hana Saraswati.
Hana juga menyoroti profesionalisme Gary Iskak di lokasi syuting. Meski saat itu kondisi kesehatannya tidak sepenuhnya prima, Gary tetap berusaha tampil maksimal di depan kamera.
“Profesionalisme Mas Gary luar biasa. Di tengah kondisi fisik yang lagi nggak terlalu sehat waktu itu, dia tetap syuting seperti biasa. Kadang cuma mengeluh sakit, tapi selalu action dengan baik di set,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Joe Richard. Ia melihat Gary tetap total mendalami karakter hingga aktif berdiskusi soal adegan dan alur cerita.
“Bang Gary bilang sudah 10 tahun vakum. Tapi di sini totalitasnya terpampang nyata. Enggak mudah menahan sakit, tapi dia tetap bekerja dan sangat kenal betul karakter yang diperankan. Dedikasinya luar biasa,” ujar Joe.
Selain Gary Iskak dan Hana Saraswati, film ini juga dibintangi Yama Carlos, Audy Bella, Rizal Djibran, Ratu Meta, Debby Sahertian, Nando Hilmy, dan Ingrid Wijanarko.
Dengan latar horor desa dan konflik keluarga yang kelam, Lastri: Arwah Kembang Desa tak hanya menawarkan teror, tetapi juga menjadi film yang menyimpan nilai emosional karena menjadi karya terakhir Gary Iskak di layar lebar.
Komentar