Frame Daily, Jakarta - Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau berujung pada penutupan sementara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Keputusan tersebut tidak dilakukan sejak awal erupsi, karena operasional penerbangan di Soetta sempat dinyatakan normal sebelum pemantauan menemukan indikasi abu vulkanik di area bandara.
Perubahan kondisi berlangsung dalam hitungan jam. Dari penerbangan yang tetap berjalan, pemerintah kemudian meningkatkan pemantauan melalui informasi penerbangan dan kondisi atmosfer hingga akhirnya menerbitkan NOTAM untuk penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta.
Berikut kronologi perubahan kondisi operasional Soetta setelah erupsi Anak Krakatau.
Erupsi Anak Krakatau Mulai Jadi Perhatian
Aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat pada Jumat (4/9) malam hingga Sabtu (5/9/2026). Badan Geologi mencatat aktivitas erupsi menerus dengan material pijar dan lava, sementara pengamatan menunjukkan adanya peningkatan intensitas erupsi.
Pada Sabtu, Kementerian Perhubungan menerima informasi mengenai aktivitas erupsi tersebut. Informasi awal juga disampaikan melalui Stasiun Meteorologi BMKG Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Meski gunung api mengalami peningkatan aktivitas, kondisi tersebut pada awalnya belum menyebabkan gangguan terhadap operasional penerbangan. Kemenhub menyatakan penerbangan di Soekarno-Hatta masih berjalan normal dan pemantauan dilakukan bersama pihak terkait.
Sore Hari, Operasional Soetta Masih Normal
Pada Sabtu sore, Kemenhub kembali memastikan operasional Bandara Soekarno-Hatta masih berjalan normal. Direktur Angkutan Udara Ditjen Perhubungan Udara Agustinus Budi Hartono menyatakan penerbangan di Soetta saat itu belum terdampak erupsi Anak Krakatau.
Kemenhub pada saat yang sama tetap mengikuti perkembangan aktivitas gunung api melalui informasi penerbangan, termasuk NOTAM dan ASHTAM. Pemantauan tersebut penting karena sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.
Pada tahap ini, belum ada alasan untuk menghentikan operasional penerbangan. Pesawat masih dapat berangkat dan tiba sesuai kondisi operasional yang berlaku.
Malam Hari, Pemantauan Abu Vulkanik Diperketat
Memasuki malam hari, kondisi aktivitas Anak Krakatau terus menjadi perhatian. Badan Geologi mencatat erupsi menerus dengan intensitas tinggi, termasuk aktivitas yang teramati sejak sekitar pukul 23.07 WIB.
Pemantauan terhadap kemungkinan sebaran abu vulkanik kemudian menjadi faktor penting dalam menentukan keselamatan penerbangan. Sebab, keberadaan abu vulkanik di jalur penerbangan atau sekitar bandara dapat memengaruhi keputusan operasional.
Hingga pemantauan pada Sabtu pukul 22.00 WIB, Kemenhub mencatat sudah terdapat 33 penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta yang terdampak. Dampaknya mencakup pembatalan, keterlambatan, penjadwalan ulang, hingga pengalihan penerbangan.
Dini Hari, Paper Test Tunjukkan Abu Vulkanik
Perubahan signifikan terjadi pada Minggu (6/9) dini hari. Kemenhub melakukan pemeriksaan menggunakan paper test di Bandara Soekarno-Hatta pada sekitar pukul 00.35 hingga 01.05 WIB.
Hasil pemeriksaan menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik. Temuan tersebut menjadi salah satu dasar pengambilan keputusan untuk menghentikan sementara operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
Keputusan tersebut menunjukkan bahwa status operasional bandara dapat berubah mengikuti kondisi aktual di lapangan. Sebelumnya, penerbangan masih dinyatakan normal, tetapi setelah ditemukan indikasi abu vulkanik, aspek keselamatan menjadi pertimbangan utama.
Soetta Ditutup Mulai 01.30 WIB
Berdasarkan NOTAM Nomor A3341/26, Bandara Internasional Soekarno-Hatta kemudian ditutup sementara mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB. Penutupan dilakukan karena adanya sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Penutupan sementara tersebut berdampak pada jadwal penerbangan yang sudah disusun. Kemenhub mencatat 16 penerbangan internasional dibatalkan, tujuh penerbangan mengalami keterlambatan, dan lima penerbangan dijadwalkan ulang.
Selain penerbangan internasional, terdapat pula penerbangan domestik yang terdampak. Kemenhub mencatat empat penerbangan domestik dibatalkan dan satu penerbangan dialihkan.
Dampak Bisa Menjalar ke Jadwal Berikutnya
Kemenhub mengantisipasi penutupan sementara tersebut dapat menimbulkan efek berantai terhadap penerbangan berikutnya. Gangguan tidak hanya berkaitan dengan satu penerbangan, tetapi juga dapat memengaruhi rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan lanjutan, hingga kapasitas terminal.
Karena itu, maskapai diminta melakukan penyesuaian berdasarkan perkembangan kondisi operasional. Koordinasi juga dilakukan antara Kemenhub, pengelola bandara, maskapai, penyelenggara navigasi penerbangan, dan BMKG.
Kemenhub menegaskan aspek keselamatan menjadi prioritas dalam setiap keputusan operasional. Jadwal penerbangan dapat kembali berubah apabila kondisi abu vulkanik atau aktivitas Gunung Anak Krakatau menunjukkan perkembangan baru.
Aktivitas Anak Krakatau Masih Dipantau
Gunung Anak Krakatau sendiri masih menjadi objek pemantauan Badan Geologi. Dalam laporan khusus tanggal 5 September 2026, Badan Geologi mencatat gunung api tersebut berada pada status Level III atau Siaga dan aktivitas erupsi masih berlangsung.
Badan Geologi juga merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau. Pemantauan terhadap aktivitas vulkanik dan potensi sebaran material terus dilakukan.
Bagi penumpang, perubahan jadwal penerbangan menjadi hal yang perlu diantisipasi. Kemenhub mengimbau masyarakat memantau informasi terbaru dari maskapai sebelum berangkat ke bandara karena kondisi penerbangan dapat disesuaikan berdasarkan perkembangan aktivitas vulkanik dan faktor keselamatan.
Komentar