Kolaborasi Pemerintah Dorong UMKM Fashion Tembus Pasar Dunia

UMKM fashion mendapat dukungan Kementerian Ekraf melalui Indonesia Fashion Week 2026 untuk memperkuat ekspor, kapasitas usaha, dan pasar global.

Kolaborasi Pemerintah Dorong UMKM Fashion Tembus Pasar Dunia
Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) memperkuat sinergi dengan APPMI melalui Indonesia Fashion Week (IFW) 2026 untuk mendorong daya saing industri fesyen nasional di pasar global. (Framedaily.id)

Frame Daily, Jakarta – UMKM fashion kembali menjadi fokus penguatan pemerintah seiring kolaborasi Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) dalam penyelenggaraan Indonesia Fashion Week (IFW) 2026. Sinergi ini diarahkan untuk memperluas pasar internasional sekaligus meningkatkan daya saing pelaku industri fesyen nasional.

Penguatan UMKM fashion dinilai penting mengingat subsektor fesyen menjadi salah satu penyumbang terbesar ekonomi kreatif Indonesia. Melalui Indonesia Fashion Week 2026, pemerintah menargetkan terciptanya ekosistem yang mampu mendorong peningkatan kualitas produk, perluasan akses pasar, hingga pertumbuhan ekspor produk lokal.

Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan UMKM fashion memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan asosiasi. Menurutnya, Indonesia Fashion Week menjadi momentum strategis untuk mempercepat transformasi industri fesyen nasional.

"Dengan menyatukan program fasilitasi kementerian dan jejaring industri yang dimiliki IFW, kita bisa mempercepat inkubasi desainer lokal, standardisasi kualitas produk, hingga memetakan potensi ekspor fesyen kita ke negara-negara tujuan strategis," kata Teuku Riefky Harsya dalam keterangan resmi yang diterima ANTARA, Senin (6/7).

Upaya memperkuat UMKM fashion juga dilakukan melalui peningkatan kapasitas pelaku usaha yang akan mengikuti Indonesia Fashion Week 2026. Pemerintah berharap pelaku usaha kecil mampu memenuhi standar pasar global sekaligus meningkatkan nilai tambah produk berbasis budaya Indonesia.

Penguatan UMKM Fashion Jadi Prioritas

Kolaborasi antara Kementerian Ekraf dan APPMI menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat ekosistem industri fesyen nasional. Pemerintah menilai subsektor ini telah menunjukkan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kreatif Indonesia.

Berdasarkan data Kementerian Ekraf yang dikutip ANTARA, subsektor fesyen menyumbang 14,77 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi kreatif sepanjang 2025. Angka tersebut menempatkan fesyen sebagai salah satu motor utama penggerak sektor ekonomi kreatif.

Kontribusi itu juga tercermin pada kinerja ekspor. Selama periode Januari hingga April 2026, subsektor fesyen memberikan kontribusi sebesar 58,55 persen terhadap total ekspor ekonomi kreatif Indonesia.

Data tersebut menunjukkan produk fesyen Indonesia masih memiliki daya saing di pasar internasional. Kondisi ini menjadi alasan pemerintah memperkuat pembinaan terhadap pelaku usaha, khususnya UMKM, agar mampu memenuhi kebutuhan pasar global secara berkelanjutan.

Teuku Riefky menegaskan pemerintah tidak hanya mendorong promosi produk, tetapi juga memperkuat kualitas pelaku usaha.

"Kementerian Ekraf akan mendukung penguatan kapasitas UMKM fesyen yang terlibat, sekaligus memperluas promosi demi menyukseskan acara ini. Bagaimanapun, fesyen bukan sekadar tren, melainkan pilar penting ekonomi kreatif nasional yang siap mendunia," ujar Riefky seperti dikutip ANTARA.

Indonesia Fashion Week 2026 Targetkan Pasar Global

Indonesia Fashion Week 2026 dijadwalkan berlangsung pada 29 Juli hingga 2 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta. Tahun ini penyelenggara mengangkat tema "Ulos Simetria", yang menjadikan kekayaan wastra dan budaya Sumatera Utara sebagai inspirasi utama.

Ajang tahunan yang diinisiasi APPMI tersebut menjadi wadah pertemuan berbagai pelaku industri mode. Tidak hanya desainer, kegiatan ini juga melibatkan akademisi, produsen aksesori, pelaku UMKM, investor, pembeli internasional, hingga berbagai institusi pendukung industri kreatif.

Kementerian Ekraf menilai IFW bukan sekadar pameran busana, melainkan platform bisnis yang mampu membuka peluang ekspor baru bagi produk fesyen Indonesia. Program yang disiapkan meliputi pameran dagang, business matching, forum industri, hingga peragaan busana yang mengangkat identitas budaya Nusantara.

Pemerintah juga berkaca pada capaian Indonesia Fashion Week tahun sebelumnya. Berdasarkan data penyelenggara yang dikutip ANTARA, IFW 2025 melibatkan lebih dari 200 brand dan desainer, sekitar 4.000 pekerja kreatif, serta menarik sekitar 34.000 pengunjung.

Transaksi digital selama penyelenggaraan acara juga meningkat hingga 50 persen dibandingkan periode sebelumnya. Angka tersebut menjadi indikator bahwa minat masyarakat terhadap produk fesyen lokal terus tumbuh, baik melalui penjualan langsung maupun platform digital.

Ketua Umum APPMI Poppy Dharsono menyatakan organisasinya siap memperkuat kolaborasi dengan pemerintah untuk meningkatkan daya saing industri fesyen nasional.

"Kami siap berjalan beriringan bersama kementerian untuk memperluas promosi produk kreatif dan membuka akses pasar yang lebih luas di tingkat internasional," ujar Poppy Dharsono dalam keterangan resmi yang dikutip ANTARA.

Kolaborasi Dinilai Perkuat Ekosistem Industri

Penguatan sektor fesyen juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan industri. Sejumlah pelaku usaha menilai kolaborasi antara pemerintah dan asosiasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan kualitas produk, memperluas jaringan pemasaran, serta mempercepat adaptasi terhadap tren global.

Menurut laporan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada berbagai kesempatan sebelumnya, subsektor fesyen bersama kuliner dan kriya selama beberapa tahun terakhir konsisten menjadi tiga penyumbang terbesar terhadap ekonomi kreatif nasional. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sektor ini memiliki daya tahan tinggi sekaligus potensi ekspansi yang besar.

Pengamat ekonomi kreatif juga menilai penguatan rantai pasok menjadi salah satu tantangan utama yang harus diselesaikan. Ketersediaan bahan baku berkualitas, peningkatan kapasitas produksi, digitalisasi pemasaran, hingga akses pembiayaan dinilai menjadi aspek penting agar UMKM mampu bersaing di pasar global.

Melalui Indonesia Fashion Week 2026, pemerintah berharap berbagai tantangan tersebut dapat dijawab melalui kolaborasi lintas sektor. Forum business matching diharapkan mempertemukan pelaku usaha dengan investor maupun pembeli dari dalam dan luar negeri.

Hingga awal Juli 2026, persiapan penyelenggaraan Indonesia Fashion Week terus dimatangkan oleh Kementerian Ekraf bersama APPMI. Agenda ini dipastikan tetap menjadi salah satu etalase utama promosi produk fesyen nasional sekaligus sarana memperluas peluang ekspor bagi UMKM fashion Indonesia. Dengan dukungan pembinaan, promosi, dan jejaring industri, pemerintah menargetkan kontribusi subsektor fesyen terhadap ekonomi kreatif serta pasar internasional dapat terus meningkat pada tahun-tahun mendatang.

Ditulis oleh Irianto Susilo

Komentar