Frame Daily, Kabupaten Tangerang - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH)/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) akan mengerahkan teknologi drone thermal untuk mendeteksi titik-titik api yang masih tersembunyi di bawah timbunan sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten. Langkah ini diambil guna mempercepat pengendalian kebakaran yang telah berlangsung sejak Selasa (30/6).
Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Faisal Malik Hendropriyono, mengatakan penggunaan drone thermal menjadi salah satu strategi untuk memetakan sumber api yang tidak terlihat dari permukaan, sehingga proses pemadaman dapat dilakukan lebih efektif.
"Kami sudah meminta tim Gakkum berkoordinasi dengan pihak bandara dan TNI AU agar dapat melakukan monitoring serta analisis menggunakan drone thermal secara berkala," ujar Diaz usai meninjau lokasi kebakaran di TPA Jatiwaringin, Sabtu (4/7).
Menurut Diaz, kebakaran di TPA Jatiwaringin memiliki karakteristik yang menyerupai kebakaran lahan gambut. Meski permukaan terlihat padam, bara api masih dapat bertahan di lapisan bawah timbunan sampah akibat akumulasi gas metana (CH4).
"Kondisi ini membuat api dapat kembali muncul sewaktu-waktu. Selain itu, keberadaan gas metana juga berpotensi memicu ledakan apabila tidak segera ditangani," katanya.
Koordinasi dengan Bandara dan TNI AU
KLH saat ini berkoordinasi dengan pihak bandara dan TNI Angkatan Udara terkait izin operasional drone. Langkah tersebut diperlukan karena lokasi TPA berada di kawasan yang dilintasi jalur penerbangan helikopter dan berdekatan dengan bandara.
Akibat kondisi tersebut, penerbangan drone hanya dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu agar tidak mengganggu operasi helikopter water bombing yang saat ini terus melakukan penyiraman dari udara.
Metode Inject Dinilai Lebih Efektif
Selain pemanfaatan drone thermal, penanganan kebakaran juga dilakukan menggunakan metode inject, yakni menyuntikkan air langsung ke titik api yang berada di bawah permukaan timbunan sampah.
Metode tersebut diterapkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama tim gabungan, termasuk personel Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan yang memiliki pengalaman menangani kebakaran lahan gambut.
Diaz menilai metode inject lebih efektif dibandingkan hanya melakukan penyiraman dari atas.
"Kalau hanya disiram dari permukaan, bagian bawahnya tetap terbakar. Karena itu kami membutuhkan bantuan Manggala Agni yang memang ahli menangani kebakaran seperti ini untuk melakukan inject hingga ke titik api di bawah," ujarnya.
Sebanyak 30 personel Manggala Agni telah diterjunkan untuk memperkuat upaya pemadaman bersama petugas pemadam kebakaran, BNPB, pemerintah daerah, dan unsur gabungan lainnya.
Water Bombing Terus Dilanjutkan
Upaya pemadaman juga terus dilakukan melalui jalur udara menggunakan dua helikopter MI-8AMT milik BNPB yang dilengkapi kantong air berkapasitas 4.000 liter. Helikopter tersebut menyasar titik-titik api yang sulit dijangkau oleh petugas di darat.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Sabtu siang, kepulan asap masih terlihat membumbung dari sejumlah gunungan sampah, sementara beberapa titik api masih menyala dan terus dipadamkan secara terpadu melalui jalur darat maupun udara.
BNPB melaporkan bahwa dari total area terdampak sekitar 15 hektare, proses penanganan kebakaran telah berhasil mengendalikan sekitar 40 persen dari luas kawasan yang terbakar. Tim gabungan masih terus berupaya menuntaskan pemadaman hingga seluruh titik api benar-benar padam untuk mencegah kebakaran kembali muncul.
Komentar