Frame Daily, Jakarta - Anda sedang duduk di ruang tamu ketika teringat harus mengambil sesuatu di kamar. Anda berdiri, berjalan menuju kamar, membuka pintu, lalu tiba-tiba berhenti.
“Tadi saya mau mengambil apa?”
Pengalaman seperti ini cukup umum. Menariknya, fenomena tersebut juga pernah menjadi objek penelitian psikologi dan sering disebut doorway effect, atau efek pintu.
Salah satu penjelasannya berkaitan dengan cara otak membagi pengalaman yang terus berlangsung menjadi beberapa peristiwa atau episode mental. Perpindahan dari satu ruangan ke ruangan lain dapat menjadi semacam batas antara satu peristiwa dan peristiwa berikutnya.
Jadi, bukan berarti melewati pintu secara ajaib menghapus ingatan.
Yang terjadi lebih kompleks: ketika konteks berubah, otak dapat memperbarui representasi mengenai apa yang sedang terjadi sekarang, sehingga informasi yang berkaitan dengan konteks sebelumnya bisa menjadi lebih sulit diakses untuk sementara.
Otak Seperti Membagi Kehidupan Menjadi Beberapa Bab
Bayangkan otak seperti menyusun pengalaman sehari-hari menjadi sejumlah "bab". Saat memasak di dapur, otak membangun representasi mengenai aktivitas, tempat, benda, dan tujuan yang sedang dilakukan. Ketika aktivitas atau lokasi berubah secara signifikan, otak dapat menganggapnya sebagai awal dari peristiwa baru.
Dalam ilmu kognitif, perubahan seperti ini dikenal sebagai event boundary atau batas peristiwa. Pintu merupakan salah satu batas yang sangat jelas secara fisik. Kita meninggalkan satu lingkungan dan memasuki lingkungan lainnya.
Penelitian klasik yang dilakukan Gabriel Radvansky dan rekan-rekannya di University of Notre Dame menemukan bahwa peserta mengalami penurunan kemampuan mengingat setelah berpindah melalui pintu dibandingkan ketika menempuh jarak serupa tetapi tetap berada dalam ruangan yang sama.
Eksperimen tersebut dilakukan menggunakan lingkungan virtual maupun lingkungan nyata. Peserta diminta membawa atau memindahkan objek. Ingatan mereka kemudian diuji setelah berpindah lokasi.
Hasilnya mendukung gagasan bahwa melewati pintu dapat berfungsi sebagai batas peristiwa, sehingga informasi dari episode sebelumnya menjadi lebih sulit diambil kembali. Menariknya, penelitian lain bahkan menemukan efek serupa ketika peserta hanya membayangkan berjalan melewati sebuah pintu.
Tapi Benarkah Pintu Selalu Membuat Kita Lupa?
Di sinilah penjelasannya perlu dibuat hati-hati. Penelitian berikutnya menunjukkan doorway effect tidak selalu dapat direplikasi dengan kuat. Studi yang dipublikasikan pada 2021 melakukan empat eksperimen menggunakan realitas virtual, video, dan perpindahan di lingkungan nyata. Para peneliti tidak menemukan efek signifikan bahwa melewati pintu selalu menyebabkan seseorang menjadi lebih pelupa.
Namun ketika peserta diberi beban memori tambahan, ingatan menjadi lebih rentan terhadap gangguan setelah melewati pintu. Para peneliti menyimpulkan hasil tersebut mempertanyakan seberapa umum dan kuat doorway effect dalam berbagai situasi. Artinya, kalimat sederhana “melewati pintu membuat kita lupa” terlalu mutlak.
Penjelasan yang lebih tepat adalah perubahan lingkungan dapat menjadi salah satu batas yang mendorong otak memperbarui konteks mental. Dalam keadaan tertentu, proses itu dapat membuat informasi yang sebelumnya aktif menjadi lebih sulit diakses.
Mengapa Kita Bisa Ingat Lagi Setelah Kembali?
Ada pengalaman lain yang mungkin terasa familier. Setelah berdiri kebingungan di kamar, kita kembali ke tempat sebelumnya dan mendadak teringat:
“Oh iya, saya mau mengambil charger.”
Hal seperti ini dapat berkaitan dengan context-dependent memory, yaitu fakta bahwa petunjuk dari lingkungan tempat suatu pikiran terbentuk dapat membantu proses mengingat kembali.
Namun penelitian doorway effect juga menunjukkan bahwa sekadar kembali ke ruangan awal tidak selalu otomatis memulihkan ingatan. Dalam salah satu eksperimen Radvansky dan koleganya, kembali ke konteks awal tidak menghilangkan penurunan memori yang diamati setelah peserta melewati batas ruangan. Jadi pengalaman sehari-hari dan hasil eksperimen laboratorium tidak selalu sesederhana "kembali ke ruangan lama = ingatan kembali".
Apakah Ini Berarti Ada Masalah dengan Ingatan?
Sesekali lupa tujuan ketika berpindah aktivitas atau ruangan tidak dengan sendirinya menunjukkan adanya gangguan memori. Memori kerja manusia memang memiliki kapasitas terbatas dan terus diperbarui ketika perhatian, tujuan, maupun lingkungan berubah.
Fenomena batas peristiwa juga tidak hanya berkaitan dengan pintu. Penelitian mengenai event segmentation menunjukkan bahwa otak menggunakan berbagai perubahan dalam pengalaman untuk membaginya menjadi episode yang lebih mudah dikelola dan disimpan.
Dengan kata lain, fenomena "masuk kamar lalu lupa mau mengambil apa" justru memberi gambaran menarik tentang cara otak mengatur pengalaman sehari-hari.
Otak tidak memperlakukan hidup sebagai satu aliran informasi tanpa batas. Ia terus memisahkan, memperbarui, dan mengorganisasi pengalaman menjadi berbagai peristiwa.
Dan terkadang, ketika kita berpindah dari satu "bab" ke bab berikutnya, informasi kecil seperti benda yang hendak diambil menjadi sedikit lebih sulit ditemukan.
Sampai akhirnya kita berdiri di tengah kamar sambil bertanya:
“Saya ke sini tadi mau ngapain?”
Komentar