Kenapa Harga Ayam Terus Turun? HKTI Ungkap Penyebabnya

Harga ayam hidup di tingkat peternak terus mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. HKTI menjelaskan penurunan tersebut dipicu ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, meski Indonesia saat ini telah mencapai surplus produksi unggas.

Kenapa Harga Ayam Terus Turun? HKTI Ungkap Penyebabnya
Peternak memanen ayam broiler di kandang. HKTI menyebut penurunan harga ayam dipengaruhi ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan. (Ilustrasi : Frame Daily/AD)

Frame Daily, Jakarta - Harga ayam hidup (live bird) di tingkat peternak terus mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut membuat banyak peternak menjual ayam di bawah biaya pokok produksi (HPP), sehingga mengancam keberlanjutan usaha mereka.

Dalam rembuk bersama yang digelar Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), pemerintah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha, terungkap bahwa penyebab utama anjloknya harga ayam adalah ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Menurut HKTI, ketika produksi ayam meningkat sementara permintaan melemah, harga di tingkat peternak otomatis turun. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, peternak berisiko mengalami kerugian karena harga jual tidak mampu menutup biaya produksi.

Pasokan Melimpah, Permintaan Belum Seimbang

Indonesia saat ini tidak hanya telah mencapai swasembada ayam, tetapi juga mengalami surplus produksi. Di satu sisi, kondisi ini menunjukkan kemampuan industri perunggasan nasional memenuhi kebutuhan dalam negeri, namun di sisi lain menciptakan tantangan ketika permintaan tidak tumbuh secepat produksi.

Ketidakseimbangan tersebut membuat harga ayam hidup di tingkat peternak terus tertekan.

Karena itu, pemerintah bersama pelaku usaha sepakat menetapkan harga minimum Rp19.500 per kilogram mulai 15 Juli 2026 sebagai langkah menjaga keberlangsungan usaha peternak.

Program MBG Jadi Penopang Baru

HKTI menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai memberikan dampak positif terhadap industri perunggasan.

Program tersebut menciptakan pasar baru yang menyerap ayam dan telur dalam jumlah besar sehingga membantu meningkatkan permintaan domestik.

Namun, pemerintah juga mengingatkan bahwa kebutuhan MBG akan berubah mengikuti kalender sekolah. Saat masa libur, permintaan terhadap ayam dan telur dapat menurun sehingga peternak perlu menyesuaikan pola produksi agar tidak terjadi kelebihan pasokan.

Ekspor Jadi Solusi Jangka Panjang

Selain memperkuat konsumsi dalam negeri, pemerintah juga terus memperluas pasar ekspor.

Produk unggas Indonesia saat ini telah dipasarkan ke 11 negara, sementara peluang ekspor terus dibuka ke Arab Saudi dan China.

Perluasan pasar dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk menyerap surplus produksi sehingga tekanan terhadap harga ayam di dalam negeri dapat dikurangi.

Efisiensi Industri Jadi Kunci

Selain menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, pemerintah juga menyoroti pentingnya efisiensi di sektor peternakan.

Mulai dari biaya pakan, distribusi, hingga rantai pasok perlu diperbaiki agar selisih antara harga pokok produksi dan harga jual tidak terlalu besar.

Dengan industri yang lebih efisien, peternak diharapkan memperoleh keuntungan yang layak tanpa harus membebani konsumen dengan harga yang terlalu tinggi.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar