Frame Daily, Jakarta – Masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi. Lebih dari itu, masa depan bangsa bergantung pada bagaimana negara dan masyarakat memastikan anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang aman, sehat, dan mampu mengembangkan potensi mereka.
Pesan tersebut kembali mengemuka dalam peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026 yang diperingati setiap 23 Juli. Tahun ini, HAN mengusung tema "Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan".
Tema tersebut menjadi ajakan bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat perlindungan dan pemenuhan hak anak. Anak tidak hanya membutuhkan akses terhadap pendidikan dan kesehatan, tetapi juga lingkungan yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, eksploitasi, serta berbagai ancaman yang dapat menghambat tumbuh kembang mereka.
Pemerintah melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) menegaskan bahwa perlindungan anak bukan pekerjaan satu pihak.
Keluarga, sekolah, pemerintah, dunia usaha, media, organisasi masyarakat, hingga lingkungan sekitar memiliki tanggung jawab untuk membangun ekosistem yang mampu menjamin anak tumbuh secara optimal.
Perlindungan Anak Tak Bisa Dibebankan kepada Keluarga
Asisten Deputi Penyedia Layanan Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus Kemen PPPA, Ciput Eka Purwanti, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memenuhi hak dan memberikan perlindungan kepada anak.
"Perlindungan anak merupakan tanggung jawab bersama," kata Ciput dalam Media Talk Hari Anak Nasional 2026 yang digelar Kemen PPPA.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa persoalan anak tidak dapat diselesaikan hanya melalui peran keluarga.
Sekolah harus menjadi ruang belajar yang aman dan menyenangkan. Lingkungan masyarakat harus mampu memberikan perlindungan. Pemerintah perlu memastikan kebijakan dan layanan publik berpihak pada kepentingan terbaik anak.
Sementara itu, dunia usaha dan media juga memiliki peran dalam membangun ekosistem yang ramah anak.
Kolaborasi tersebut menjadi semakin penting karena tantangan yang dihadapi anak terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
Ruang Digital Jadi Tantangan Baru
Kemajuan teknologi telah membuka akses yang lebih luas bagi anak terhadap informasi dan pengetahuan. Internet juga menjadi bagian penting dalam proses belajar dan interaksi sosial.
Di balik manfaat tersebut, ruang digital menyimpan sejumlah risiko. Anak dapat menghadapi perundungan siber, paparan konten yang tidak sesuai usia, eksploitasi digital, penipuan, hingga berbagai bentuk kekerasan berbasis teknologi.
Kondisi tersebut membutuhkan perhatian dari orang tua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat.
Anak perlu dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara aman dan bertanggung jawab. Di sisi lain, orang dewasa juga harus memahami dunia digital yang dihadapi anak agar mampu memberikan pendampingan dan perlindungan yang tepat.
Perlindungan di ruang digital menjadi bagian penting dari upaya menciptakan lingkungan yang aman bagi generasi muda.
Mencegah Kekerasan hingga Perkawinan Anak
Agenda perlindungan anak juga mencakup berbagai persoalan yang masih menjadi tantangan di Indonesia.
Pencegahan kekerasan terhadap anak, perkawinan anak, perundungan, hingga penyalahgunaan narkoba menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang sehat dan berkualitas.
Sekolah menjadi salah satu lingkungan strategis untuk memastikan anak mendapatkan perlindungan. Sekolah yang aman dan menyenangkan dapat membantu anak belajar tanpa rasa takut sekaligus mendorong mereka mengembangkan potensi.
Di saat yang sama, perhatian terhadap kesehatan mental anak juga semakin penting.
Anak membutuhkan ruang untuk didengar. Mereka perlu mendapatkan dukungan ketika menghadapi tekanan, persoalan dalam keluarga, perundungan, maupun berbagai tantangan sosial lainnya.
Karena itu, pendekatan terhadap anak tidak cukup hanya berorientasi pada prestasi akademik. Kesejahteraan emosional dan kesehatan mental juga menjadi bagian penting dari proses tumbuh kembang.
Anak Adalah Investasi Masa Depan Indonesia
Indonesia tengah mempersiapkan diri menuju visi Indonesia Emas 2045. Dalam perjalanan tersebut, anak-anak hari ini akan menjadi generasi yang memegang peran penting dalam menentukan arah bangsa.
Karena itu, membangun kualitas anak merupakan investasi jangka panjang.
Pendidikan yang berkualitas, layanan kesehatan yang memadai, pemenuhan gizi, pengasuhan positif, serta lingkungan yang aman menjadi fondasi yang harus diperkuat sejak dini.
Anak juga memiliki hak untuk didengar dan dilibatkan. Mereka berhak menyampaikan pendapat serta mendapatkan kesempatan yang setara untuk berkembang sesuai dengan potensi masing-masing.
Peringatan Hari Anak Nasional 2026 menjadi momentum untuk melihat kembali sejauh mana komitmen tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perlindungan anak tidak berhenti pada peringatan seremonial setiap 23 Juli. Komitmen tersebut harus hadir dalam keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat, kebijakan pemerintah, hingga ruang digital yang setiap hari diakses anak.
Pada akhirnya, masa depan Indonesia dibangun dari kualitas generasi yang tumbuh hari ini.
Ketika anak mendapatkan perlindungan, pendidikan, kesehatan, kasih sayang, dan kesempatan untuk berkembang, Indonesia sedang menyiapkan fondasi bagi masa depan yang lebih kuat.
Hari Anak Nasional 2026 menjadi pengingat bahwa melindungi anak bukan sekadar kewajiban, melainkan investasi untuk menentukan wajah Indonesia di masa depan.
Komentar