Harga Pangan Juli Naik, Inflasi dan Daya Beli Tertekan

Harga sejumlah bahan pokok seperti beras, cabai, bawang, telur, dan daging masih menjadi perhatian pemerintah karena berdampak pada inflasi dan daya beli masyarakat.

Harga Pangan Juli Naik, Inflasi dan Daya Beli Tertekan
Pemerintah memantau harga pangan Juli 2026 untuk menjaga inflasi dan daya beli masyarakat. Photo by Annie Spratt / Unsplash / framedaily.id

Frame Daily, Jakarta – Harga pangan menjadi perhatian pemerintah memasuki Juli 2026 setelah sejumlah komoditas kebutuhan pokok masih mengalami fluktuasi. Beras, cabai, bawang, telur ayam, hingga minyak goreng menjadi komoditas yang terus dipantau karena berpengaruh langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.

Perubahan harga pangan menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga inflasi nasional. Pasalnya, kelompok makanan memiliki kontribusi besar terhadap pola konsumsi masyarakat Indonesia.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Juni 2026 sebesar 3,34 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara inflasi bulanan tercatat sebesar 0,44 persen (month to month/mtm).

Memasuki semester kedua 2026, pemerintah terus menjaga stabilitas harga agar kenaikan komoditas pangan tidak mengurangi daya beli masyarakat.

Harga Bahan Pokok Juli 2026 Masih Berfluktuasi

Berdasarkan pemantauan harga pangan nasional, sejumlah komoditas strategis masih berada pada level tinggi pada awal Juli 2026.

Berikut gambaran harga rata-rata sejumlah bahan pokok:

Komoditas Harga Rata-rata
Beras kualitas bawah Rp14.500–14.700/kg
Beras medium Rp16.000–16.300/kg
Beras premium Rp17.000–17.600/kg
Cabai rawit merah sekitar Rp64.000/kg
Cabai merah besar sekitar Rp52.000/kg
Cabai merah keriting sekitar Rp52.000/kg
Bawang merah sekitar Rp49.000/kg
Bawang putih sekitar Rp44.000/kg
Telur ayam ras sekitar Rp29.000–30.000/kg
Daging ayam ras sekitar Rp37.000/kg
Daging sapi sekitar Rp149.000/kg
Gula pasir sekitar Rp20.000/kg
Minyak goreng curah sekitar Rp20.000/liter

Pergerakan harga tersebut dapat berbeda antarwilayah karena dipengaruhi faktor distribusi, biaya transportasi, serta kondisi produksi daerah sentra pangan.

Cabai dan Bawang Jadi Komoditas Sensitif

Dari berbagai komoditas pangan, cabai dan bawang menjadi kelompok yang paling sering mengalami perubahan harga.

Komoditas hortikultura tersebut sangat dipengaruhi kondisi cuaca dan musim panen. Ketika produksi mengalami gangguan, pasokan di pasar dapat berkurang sehingga harga bergerak naik.

Selain itu, biaya distribusi dari daerah produksi menuju pusat konsumsi juga turut memengaruhi harga akhir yang dibayar masyarakat.

Bank Indonesia: Pengendalian Inflasi Terus Diperkuat

Bank Indonesia menyatakan pengendalian inflasi tetap menjadi perhatian bersama pemerintah pusat dan daerah.

Dalam evaluasi inflasi Juni 2026, Bank Indonesia mencatat kelompok pangan bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (mtm).

Bank Indonesia menyampaikan:

"Sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan pemerintah terus diperkuat melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID)."

Pengendalian dilakukan melalui pemantauan harga pangan, penguatan pasokan, serta menjaga kelancaran distribusi.

Pemerintah Siapkan Strategi Stabilkan Harga Pangan

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus melakukan berbagai langkah untuk menjaga ketersediaan pangan nasional.

Strategi yang dilakukan meliputi:

  • Penguatan cadangan pangan pemerintah
  • Penyaluran beras stabilisasi pasokan dan harga pangan
  • Operasi pasar saat terjadi kenaikan harga
  • Perbaikan distribusi antarwilayah

Langkah tersebut dilakukan agar masyarakat tetap mendapatkan bahan pokok dengan harga yang terjangkau.

Kenaikan Harga Pangan Berpengaruh ke Daya Beli

Harga pangan memiliki dampak langsung terhadap kondisi ekonomi rumah tangga.

Bagi masyarakat berpendapatan rendah, kenaikan harga kebutuhan pokok dapat meningkatkan porsi pengeluaran untuk makanan sehingga ruang belanja kebutuhan lain menjadi lebih terbatas.

Ekonom menilai stabilitas harga pangan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga konsumsi rumah tangga yang masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Pemerintah Waspadai Risiko Inflasi Semester II 2026

Meski inflasi nasional masih berada dalam sasaran pemerintah, perkembangan harga pangan tetap menjadi risiko yang harus dipantau.

Faktor cuaca, biaya produksi, distribusi, serta perubahan harga pangan global dapat memengaruhi kondisi pasar domestik.

Pemerintah memastikan koordinasi pengendalian inflasi akan terus dilakukan agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak mengalami tekanan.


Ditulis oleh Shidarta

Komentar