Frame Daily, Jakarta – Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membuka peluang penyesuaian turun harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax apabila tren harga minyak dunia terus melemah dalam beberapa waktu ke depan.
Wakil Menteri ESDM Yuliot mengatakan pemerintah saat ini tengah menghitung keekonomian harga Pertamax dengan mempertimbangkan biaya pokok penyediaan (BPP) yang diajukan PT Pertamina (Persero), ditambah margin keuntungan yang sesuai.
"Jadi nanti akan dihitung BPP-nya Pertamina ditambah keuntungan. Nanti kami dari Kementerian ESDM akan mencoba melihat kira-kira harga yang ini keekonomiannya bagaimana," kata Yuliot, dikutip dari ANTARA.
Menurut Yuliot, harga jual Pertamax sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga minyak mentah dunia yang saat ini masih berfluktuasi akibat ketidakpastian geopolitik global.
Ia menjelaskan pemerintah akan menggunakan rata-rata harga minyak dunia sebagai dasar evaluasi. Apabila rata-rata harga menunjukkan tren penurunan dibandingkan periode sebelumnya, maka Pertamina berpotensi melakukan penyesuaian harga jual kepada masyarakat.
"Kalau potensi nanti ini harga minyak secara rata-rata turun, ya tentu dari Pertamina akan menyesuaikan harga," ujarnya.
Baca juga : Pelaku pasar mencermati masa transisi kepemimpinan Bank Indonesia
Harga Minyak Dunia Turun Lebih dari 2 Persen
Mengutip laporan ANTARA, harga minyak mentah dunia mengalami koreksi lebih dari 2 persen pada perdagangan Selasa (28/7). Penurunan tersebut membuat harga minyak acuan Brent kembali berada di bawah level 84 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak pertengahan Juli.
Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 13.55 WIB, harga minyak Brent untuk pengiriman Oktober turun 2,34 persen menjadi 83,86 dolar AS per barel dari penutupan sebelumnya.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September juga melemah 2,28 persen menjadi 80,73 dolar AS per barel.
Penurunan ini terjadi setelah beberapa hari sebelumnya harga minyak sempat melonjak tajam akibat meningkatnya ketegangan geopolitik. Pada perdagangan 23 Juli, harga Brent sempat menyentuh 100,07 dolar AS per barel, sedangkan WTI naik menjadi 91,48 dolar AS per barel.
Keputusan Bergantung Perhitungan Keekonomian
Meski harga minyak dunia mulai melandai, pemerintah belum memastikan kapan penyesuaian harga Pertamax akan dilakukan. Kementerian ESDM masih melakukan evaluasi terhadap komponen biaya serta rata-rata harga minyak dunia sebelum mengambil keputusan.
Apabila tren pelemahan harga minyak berlanjut dan hasil perhitungan keekonomian menunjukkan adanya ruang penyesuaian, maka harga BBM nonsubsidi berpeluang mengalami penurunan pada periode evaluasi berikutnya.
Komentar