Frame Daily, Denpasar — Polemik kasus cekcok antara seorang pelanggan asal Lombok berinisial Hilda dan penjahit di Sintya Tailor, Abiansemal, Bali, kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Perhatian publik tertuju pada beredarnya video audiensi yang dipimpin anggota DPD RI, I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK).
Video tersebut menuai kritik karena sejumlah pernyataan dalam proses audiensi dinilai warganet cenderung menyudutkan pihak korban. Audiensi yang semestinya menjadi ruang untuk mencari penyelesaian persoalan secara adil justru dianggap memberikan tekanan psikologis kepada korban.
Kasus tersebut sebelumnya telah diselesaikan melalui kesepakatan damai secara kekeluargaan pada pertengahan Juli 2026. Perselisihan bermula dari persoalan keterlambatan pengerjaan permak pakaian yang kemudian berkembang menjadi dugaan umpatan bernada rasis serta perselisihan antara kedua pihak.
Video Audiensi Kembali Viral
Rekaman audiensi yang beredar memperlihatkan Arya Wedakarna mengajukan sejumlah pertanyaan kepada korban. Dalam percakapan tersebut, AWK mempertanyakan dampak yang mungkin dialami keluarga pemilik usaha apabila Sintya Tailor sampai ditutup akibat persoalan yang berkembang di media sosial.
"Masalah sepele uang Rp1.000 jadi begini gitu, enggak enak sekali loh. Sekarang kamu mau diapain ibu nih di depan kamu? Sekarang depan saya sekarang gimana maunya? Ibu nih memang ibunya salah, sekarang maunya gimana, mau ditutup?" ujar Arya dalam video tersebut, dikutip Jumat (14/8/2026).
Dalam bagian lain video, Arya juga menyinggung kondisi keluarga pemilik usaha yang disebut memiliki anak masih bersekolah. Ia mempertanyakan konsekuensi apabila usaha tersebut ditutup akibat polemik yang berkembang.
"Kalau misalkan ditutup nih, Bapak Ibu... Bapak Ibu ini suaminya sama-sama penjahit loh. Dia punya anak masih sekolah. Kalau kamu emosi Ibunya ditutup, digruduk misalkan, mau kamu kasih makan?" katanya.
Pernyataan tersebut kemudian menjadi bahan perdebatan di media sosial. Sejumlah warganet menilai pendekatan tersebut membuat posisi korban justru berada dalam tekanan, terlebih persoalan awal berkaitan dengan dugaan perlakuan diskriminatif dan konflik antara pelanggan dengan pihak penjahit.
Latar Belakang Korban Ikut Dibahas
Pembicaraan dalam audiensi juga disebut melebar ke latar belakang tempat korban bekerja. Dalam video yang beredar, terdapat pembahasan mengenai perusahaan tempat korban bekerja, termasuk persoalan pengawasan terkait Undang-Undang Perpajakan dan tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Selain itu, muncul pula pembahasan mengenai kemungkinan pihak pemilik usaha melaporkan korban menggunakan ketentuan dalam UU ITE berkaitan dengan tindakan merekam serta menyebarkan video kejadian awal ke media sosial.
Pembahasan tersebut memunculkan reaksi dari warganet. Mereka mempertanyakan relevansi persoalan pekerjaan korban dengan konflik yang terjadi di tempat usaha serta menilai penyebutan ancaman laporan hukum dapat memberikan tekanan tambahan kepada pihak yang berada dalam posisi sebagai korban.
Warganet Kritik Proses Mediasi
Beredarnya rekaman audiensi membuat persoalan yang sebelumnya telah disepakati secara damai kembali menjadi perbincangan publik. Kritik terutama diarahkan pada cara komunikasi dalam audiensi yang dinilai tidak mencerminkan proses mediasi yang berimbang.
Sebagian warganet menilai proses penyelesaian konflik seharusnya memberikan kesempatan yang setara kepada kedua pihak untuk menyampaikan persoalan dan mencari jalan keluar. Mereka juga mempertanyakan mengapa latar belakang pekerjaan korban serta kondisi ekonomi keluarga pihak penjahit ikut dibawa dalam pembahasan.
Di sisi lain, publik juga mengingatkan bahwa penyebaran rekaman audiensi ke media sosial dapat menimbulkan persoalan hukum baru apabila terdapat unsur pelanggaran terhadap ketentuan yang berlaku.
Polemik Belum Sepenuhnya Berakhir
Meski kedua pihak sebelumnya telah menandatangani kesepakatan damai di kantor kepolisian, munculnya rekaman audiensi menunjukkan bahwa persoalan tersebut masih menyisakan perdebatan di ruang publik.
Kritik warganet terhadap video tersebut juga perlu ditempatkan dalam konteks rekaman yang beredar di media sosial. Penilaian mengenai ada atau tidaknya unsur intimidasi maupun pelanggaran hukum tetap membutuhkan pemeriksaan secara menyeluruh terhadap rekaman, konteks percakapan, serta keterangan dari seluruh pihak yang terlibat.
Hingga berita ini ditulis, video audiensi tersebut terus menjadi bahan pembicaraan warganet. Perdebatan tidak lagi hanya berkisar pada persoalan awal antara pelanggan dan pihak Sintya Tailor, tetapi juga menyangkut bagaimana proses mediasi dilakukan serta posisi masing-masing pihak dalam penyelesaian konflik tersebut.
Komentar