Demam Foto AI Era 80-an Melanda Artis Indonesia, Dari Raffi Ahmad Hingga Soimah

Tren edit foto berbasis Kecerdasan Buatan (AI) bertema tahun 1980-an tengah melanda media sosial. Deretan selebritas papan atas seperti Raffi Ahmad, Ashanty, Gading Marten, Lesti Kejora, Omesh, hingga Soimah turut meramaikan tren ini.

Demam Foto AI Era 80-an Melanda Artis Indonesia, Dari Raffi Ahmad Hingga Soimah
Lengkap dengan riasan mata tegas, aksesori serba pink, dan tatanan rambut mekar, Soimah tampil totalitas dalam tren foto AI bergaya era 80-an. Potret retro ini menjadi salah satu penanda maraknya komodifikasi nostalgia di media sosial saat ini. (Foto: Instagram/@showimah)

Frame Daily, Jakarta - Lini masa media sosial belakangan ini dipenuhi oleh gelombang gambar bergaya klasik dengan nuansa warna faded, warna-warni neon, serta potongan rambut khas era 1980-an. Fenomena ini dipicu oleh tren pengolahan foto berbasis Artificial Intelligence (AI) yang mampu mengubah foto masa kini menjadi potret bergaya retro.

Tak hanya dikagumi pengguna awam, tren visual ini dengan cepat merambah ke kalangan selebritas Tanah Air. Kehadiran deretan publik figur papan atas dalam pusaran tren ini kian mempercepat popularitasnya di platform seperti Instagram dan TikTok.

Ciri khas utama dari tren foto AI ini terletak pada detail visual yang merepresentasikan dekade 80-an secara presisi. Penggunaan pakaian berbahan denim tebal, jaket parasut color-block, jas berpotongan lebar (padded shoulders), hingga gaun malam renda warna mencolok menjadi elemen visual mendasar.

Di samping pakaian, penataan rambut bergaya mullet, rambut mekar (big hair), hingga penggunaan aksesori seperti bando kain (scrunchie) dan anting berukuran besar semakin memperkuat nuansa autentik dari masa lalu.

Sejumlah nama besar yang terlihat membagikan hasil olahan foto bertema ini antara lain:

Keluarga RANS (Raffi Ahmad & Nagita Slavina): Tampil kompak bersama anak-anak mereka mengusung tema busana kasual berbahan denim dan jaket retro.

Keluarga Ashanty & Anang Hermansyah: Menampilkan potret keluarga bergaya studio foto klasik lengkap dengan jas bermotif dan gaun warna fuchsia.

Gading Marten & Medina Dina: Memajang foto berdua dengan busana santai penuh warna khas anak muda era 80-an.

Lesti Kejora & Rizky Billar: Menampilkan potret keluarga dengan latar belakang pusat perbelanjaan dan arena permainan arcade klasik.

Ananda Omesh: Membagikan potret bergaya foto keluarga era lalu sembari menyelipkan kisah nostalgia masa mudanya di Sukabumi.

Soimah: Tampil dalam balutan busana formal bergaya klasik bersama sang suami dengan gaya rambut volume tebal.

Fenomena maraknya foto retro berbasis AI ini mengindikasikan adanya pergeseran cara publik mengonsumsi konten media sosial. Nostalgia tidak lagi sekadar menjadi kenangan personal, melainkan komoditas visual yang dapat direkayasa secara digital dengan mudah.

Secara sosiologis, tren ini menunjukkan bahwa estetika era 80-an memiliki daya pikat lintas generasi. Bagi generasi senior, foto-foto ini menghadirkan kenangan otentik tentang masa muda mereka. Sementara bagi generasi yang lebih muda, visual retro dipandang sebagai sesuatu yang estetik, unik, dan eksperimental.

Kemudahan akses terhadap alat pemroses gambar berbasis AI juga menjadi faktor utama di balik masifnya gelombang tren ini. Pengguna tidak lagi memerlukan peralatan fotografi mahal atau kostum khusus untuk merasakan pengalaman berada di dekade yang berbeda. Cukup dengan mengunggah foto diri ke aplikasi AI, algoritma akan secara otomatis menyesuaikan pencahayaan, tekstur, hingga gaya pakaian sesuai dengan instruksi (prompt) yang diinginkan.

Unggahan para selebritas tersebut menuai beragam reaksi positif dari warganet. Sebagian besar komentar menyoroti kemiripan wajah para artis dengan bintang sinetron atau penyanyi tenar di era 1980-an. Tidak sedikit pula netizen yang terinspirasi untuk mencoba filter serupa pada foto keluarga mereka sendiri.

Dampak dari viralnya potret AI ini juga menciptakan interaksi yang tinggi (engagement) di akun media sosial para artis. Kolom komentar dipenuhi oleh diskusi hangat antar-pengguna yang saling membandingkan hasil foto paling autentik dan paling bergaya ikonik.

Tren foto AI berkonsep jadul ini memperlihatkan bagaimana teknologi dan nostalgia dapat berpadu membentuk budaya populer baru. Meski dihasilkan oleh rekayasa kecerdasan buatan, nilai emosional dan hiburan yang ditawarkan terbukti mampu menarik perhatian publik secara luas.

Ditulis oleh Defi

Komentar