Frame Daily, Jakarta - Daerah yang terisolasi menjadi salah satu tantangan dalam distribusi bantuan bencana di Nusa Tenggara Timur.
Untuk mengantisipasi kebutuhan yang muncul secara mendadak, Bulog menempatkan stok beras di dua titik yang dianggap strategis.
Direktur Utama Perum Bulog Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan pihaknya menyiapkan masing-masing 10 ton beras di bandara dan pelabuhan.
Dengan skema tersebut, terdapat sekitar 20 ton beras yang disiagakan untuk kebutuhan emergensi.
“Di bandara 10 ton, ditambah di pelabuhan 10 ton,” kata Ahmad.
Stok tersebut tidak langsung disalurkan apabila belum ada permintaan. Beras disiapkan sebagai cadangan yang bisa segera diambil ketika terdapat daerah yang belum memperoleh bantuan.
Bantuan Bisa Diambil Saat Kondisi Mendesak
Skema tersebut dirancang untuk mengatasi persoalan distribusi yang dapat muncul ketika akses menuju suatu wilayah terganggu akibat bencana.
Apabila ada daerah yang belum terbantu, kebutuhan akan dikoordinasikan melalui posko penanganan bencana. Bulog kemudian menyiapkan dukungan sesuai kebutuhan.
Ahmad menjelaskan penyaluran bantuan bencana dilakukan melalui sinergi dengan BPBD di masing-masing wilayah yang dikoordinasikan BNPB.
Posko utama BNPB di pusat dan daerah menjadi bagian dari koordinasi tersebut.
“Apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh daerah yang belum mendapatkan bantuan bencana, bisa secara emergensi diambil dari beras yang kami standby-kan di bandara maupun di pelabuhan tersebut,” ujarnya.
Dengan cara ini, bantuan tidak harus menunggu pengiriman baru dari daerah lain ketika kebutuhan mendesak muncul.
Belum Ada Wilayah yang Mengalami Kekosongan Bantuan
Meski stok darurat telah disiapkan, Ahmad menyebut hingga saat ini belum ada kondisi emergensi berupa bantuan yang belum tersalurkan di wilayah terdampak NTT.
Menurut dia, bantuan telah diserahkan kepada BPBD maupun kepala daerah di wilayah yang terdampak.
Bulog juga terus memperbarui kondisi penyaluran setiap hari melalui posko bantuan bencana.
Di sisi lain, pengiriman beras dari sejumlah wilayah juga masih berlangsung. Bantuan dikirim dari Banten, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat, serta sejumlah stok dari NTT.
Pengiriman dari Banten, misalnya, disebut mencapai sekitar 3.000 ton dan telah diberangkatkan melalui sembilan perjalanan kapal.
Ahmad mengatakan proses distribusi tersebut terus dipantau agar beras yang tiba di pelabuhan dapat segera diteruskan ke daerah masing-masing.
“Ini sedang bongkar muat, mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa langsung dikirim ke masing-masing daerah,” katanya.
Bagi masyarakat di wilayah yang aksesnya terganggu, keberadaan stok di titik strategis menjadi lapisan pengaman agar kebutuhan pangan tetap dapat dipenuhi ketika jalur distribusi utama menghadapi kendala.
Komentar