Frame Daily, SAMARINDA – Kota Bontang, Kalimantan Timur, tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat industri hilirisasi kelapa sawit melalui pengembangan industri oleokimia. Pemerintah Kota Bontang menawarkan proyek investasi senilai Rp5,65 triliun untuk pembangunan pabrik fatty amine dan fatty acid, meski wilayah tersebut tidak memiliki perkebunan sawit dalam skala besar.
Sebagai kota industri yang ditopang oleh keberadaan PT Badak LNG dan PT Pupuk Kalimantan Timur, Bontang optimistis mampu menjadi salah satu pusat hilirisasi sawit nasional berkat dukungan pasokan bahan baku dari wilayah sekitar serta infrastruktur industri yang telah berkembang.
Andalkan Pasokan Sawit dari Wilayah Sekitar
Meski luas perkebunan sawit di Bontang hanya sekitar 51 hektare dengan produksi 159,5 ton tandan buah segar (TBS), pemerintah daerah menilai hal tersebut bukan menjadi kendala.
Kota Bontang dikelilingi kawasan perkebunan sawit di Kalimantan Timur yang mencapai sekitar 1,48 juta hektare, dengan produksi minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sekitar 4 juta ton per tahun. Kondisi tersebut dinilai mampu menjamin pasokan bahan baku industri dalam jangka panjang.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Bontang, Muhammad Aspian Nur, mengatakan proyek tersebut merupakan bagian dari skema Investment Project Ready to Offer (IPRO) yang telah disiapkan untuk menarik investor.
"Proyek ini akan mampu memperluas rantai pasok pengolahan kelapa sawit secara masif, sekaligus menjadi jawaban konkret untuk mengurangi ketergantungan impor bahan kimia industri dalam negeri," kata Muhammad Aspian Nur. Dikutip dari ANTARA
Fatty Amine dan Fatty Acid Jadi Produk Andalan
Pemerintah Kota Bontang menawarkan investasi sekitar Rp1,88 triliun untuk pembangunan pabrik fatty amine, produk turunan minyak sawit yang digunakan sebagai bahan baku deterjen, pelembut pakaian, kosmetik, hingga produk pembersih rumah tangga.
Pabrik tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi 20 ribu ton fatty amine dan 4 ribu ton gliserol per tahun.
Selain itu, pemerintah juga menawarkan proyek pembangunan pabrik fatty acid senilai sekitar Rp3,77 triliun dengan kapasitas produksi mencapai 91,2 ribu ton per tahun dan kebutuhan bahan baku sekitar 45 ribu ton CPO setiap tahun.
Produk fatty acid banyak dimanfaatkan dalam industri kosmetik, sabun, deterjen, plastik, tekstil, pelumas, hingga produk perawatan pribadi.

Kawasan Industri Bontang Jadi Lokasi Strategis
Kedua proyek tersebut direncanakan berlokasi di Kaltim Industrial Estate (KIE) Bontang yang memiliki akses langsung ke Pelabuhan Lok Tuan dan Pelabuhan LNG Badak.
Kawasan tersebut juga didukung infrastruktur energi yang memadai serta berdekatan dengan industri petrokimia dan produsen amonia, sehingga dinilai memiliki keunggulan logistik bagi investor.
Target Investasi Terus Meningkat
Pada 2025, realisasi investasi di Kota Bontang mencapai Rp3,08 triliun, terdiri atas Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp3,02 triliun dan Penanaman Modal Asing (PMA) sekitar Rp54,11 miliar.
Sementara itu, target investasi pada 2026 ditingkatkan menjadi Rp3,42 triliun. Hingga triwulan I 2026, realisasi investasi telah mencapai Rp796,78 miliar atau sekitar 23,25 persen dari target tahunan.
Pemerintah Kota Bontang optimistis target tersebut dapat tercapai seiring kemudahan perizinan melalui sistem Online Single Submission (OSS), kesiapan infrastruktur, serta meningkatnya minat investor terhadap sektor industri hilir.
Selain mendorong pertumbuhan ekonomi, proyek hilirisasi sawit ini diharapkan mampu menciptakan ratusan lapangan kerja baru, meningkatkan nilai tambah komoditas sawit nasional, memperkuat industri oleokimia dalam negeri, serta mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku kimia industri.
Komentar