Frame Daily, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperbarui parameter gempa yang terjadi di sekitar Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, Sabtu (12/9/2026) dini hari.
Informasi awal yang dirilis beberapa menit setelah kejadian mencatat gempa bermagnitudo 5,9, berada sekitar 6 kilometer tenggara Kepulauan Seribu dengan kedalaman 376 kilometer.
Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, BMKG memperbarui parameternya menjadi magnitudo 6,5 dengan kedalaman 368 kilometer. Pusat gempa berdasarkan hasil analisis terbaru berada di laut sekitar 69 kilometer timur laut Kepulauan Seribu, pada koordinat 5,24 derajat Lintang Selatan dan 106,78 derajat Bujur Timur.
Perubahannya terlihat cukup besar. Magnitudo berubah dari 5,9 menjadi 6,5, kedalaman dari 376 menjadi 368 kilometer, sementara perkiraan lokasi pusat gempa juga bergeser.
Namun, perubahan tersebut bukan berarti terjadi dua gempa berbeda atau BMKG keliru membaca peristiwa yang berbeda.
Peristiwa gempanya sama. Yang berubah adalah hasil perhitungan parameternya setelah lebih banyak data dianalisis.
Kenapa Angka Magnitudo Bisa Berubah?
Ketika gempa terjadi, jaringan sensor seismik merekam gelombang yang merambat melalui bumi.
Sistem kemudian mengolah data yang tersedia untuk memperkirakan beberapa parameter penting, seperti waktu kejadian, lokasi pusat gempa, kedalaman dan magnitudo.
Pada menit-menit pertama, informasi perlu diproses dengan cepat agar masyarakat dan lembaga terkait segera mengetahui adanya gempa, terlebih apabila peristiwa tersebut berpotensi menimbulkan tsunami.
Karena dikeluarkan dengan cepat, parameter awal dapat berubah setelah data yang lebih lengkap diperoleh dan dianalisis kembali.
BMKG sendiri memberikan penjelasan pada layanan gempa real-time bahwa parameter gempa pada beberapa menit pertama dapat berubah dan mungkin belum akurat sampai direvisi atau dianalisis ulang oleh ahli seismologi.
Inilah yang terjadi pada gempa Kepulauan Seribu. Informasi awal mencatat M5,9. Setelah BMKG melakukan analisis lanjutan terhadap data gempa, hasilnya diperbarui menjadi M6,5.
Jadi, angka magnitudo bukan diperoleh hanya dari satu alat yang langsung menunjukkan angka final seperti termometer. Magnitudo merupakan hasil perhitungan berdasarkan rekaman gelombang seismik.
Semakin lengkap data yang dianalisis, estimasi parameter gempa dapat semakin disempurnakan.
Bukan Hanya Magnitudo yang Berubah
Menariknya, pembaruan kali ini tidak hanya terjadi pada magnitudo. Informasi awal BMKG menyebut pusat gempa berada 6 kilometer tenggara Kepulauan Seribu, dengan koordinat 5,81 LS dan 106,56 BT serta kedalaman 376 kilometer.
Hasil analisis kemudian menempatkan episenter pada koordinat 5,24 LS dan 106,78 BT, sekitar 69 kilometer timur laut Kepulauan Seribu, dengan kedalaman 368 kilometer.
Perubahan lokasi dan kedalaman seperti ini juga dapat terjadi dalam proses analisis gempa karena penentuan pusat gempa bergantung pada pembacaan waktu kedatangan gelombang seismik di berbagai stasiun pemantauan.
Karena itu, untuk memahami sebuah gempa secara lebih lengkap, informasi hasil analisis atau parameter update lebih tepat dijadikan rujukan dibanding hanya berpegang pada informasi otomatis yang muncul pada menit-menit pertama.
Hal ini juga menjelaskan mengapa halaman daftar gempa BMKG masih dapat menampilkan parameter awal M5,9, sementara siaran pers analisis pada peristiwa yang sama sudah menyebut parameter update M6,5.
BMKG Sebut Gempa Dalam
Analisis BMKG memberikan informasi lain yang sebelumnya belum tersedia ketika laporan awal diterbitkan.
Dengan memperhatikan lokasi pusat dan kedalamannya, BMKG mengategorikan peristiwa tersebut sebagai gempa bumi dalam akibat aktivitas intraslab.
Secara sederhana, intraslab berarti gempa terjadi di dalam lempeng tektonik yang telah bergerak masuk jauh ke bawah lempeng lainnya, bukan tepat pada batas permukaan antara dua lempeng.
BMKG juga menganalisis mekanisme sumbernya sebagai pergerakan geser turun atau oblique normal.
Kedalamannya yang mencapai 368 kilometer menjelaskan mengapa peristiwa ini digolongkan sebagai gempa dalam.
Guncangannya dilaporkan terasa di wilayah yang cukup luas.
BMKG mencatat intensitas IV MMI di Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur dan Tanggamus. Pada tingkat ini, gempa pada siang hari dapat dirasakan banyak orang di dalam rumah dan beberapa orang di luar rumah.
Getaran dengan intensitas lebih rendah juga tercatat di Tangerang, Tanjung Priok, Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Malang, Bengkulu hingga sejumlah wilayah di Sumatera Barat.
Magnitudo Naik, Kenapa Tetap Tidak Tsunami?
Perubahan dari M5,9 menjadi M6,5 mungkin menimbulkan pertanyaan lain: apakah peningkatan magnitudo membuat ancaman tsunami ikut berubah? Untuk gempa ini, jawabannya tidak.
BMKG menegaskan hasil pemodelan menunjukkan gempa Kepulauan Seribu tidak berpotensi tsunami.
Magnitudo memang merupakan salah satu faktor penting dalam menilai potensi tsunami, tetapi bukan satu-satunya.
Lokasi, kedalaman, serta mekanisme sumber gempa juga sangat menentukan. Gempa Kepulauan Seribu terjadi pada kedalaman sekitar 368 kilometer, jauh di dalam bumi.
Karena itu, masyarakat tidak perlu mengartikan perubahan magnitudo dari M5,9 menjadi M6,5 sebagai perubahan otomatis dari kondisi aman menjadi ancaman tsunami.
Hingga pukul 05.00 WIB, BMKG juga menyatakan pemantauan belum menunjukkan adanya aktivitas gempa susulan. Namun, masyarakat tetap diminta tenang, menghindari bangunan yang mengalami kerusakan akibat gempa, dan mengikuti informasi dari kanal resmi BMKG.
Perubahan angka pada gempa Kepulauan Seribu sekaligus menunjukkan mengapa informasi gempa pada menit pertama sebaiknya dipahami sebagai informasi cepat yang masih dapat diperbarui.
Ketika analisis lebih lengkap selesai dilakukan, parameter seperti magnitudo, kedalaman dan lokasi pusat gempa dapat berubah. Bukan karena gempanya berubah setelah terjadi, tetapi karena gambaran ilmiah mengenai gempa tersebut menjadi lebih lengkap setelah lebih banyak data dianalisis.
Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.
Komentar