Angin ke Daratan, Kenapa Abu Anak Krakatau Malah Bergerak ke Laut?

Abu Anak Krakatau bisa bergerak ke arah berbeda pada ketinggian berbeda. BMKG mencatat pola angin hingga 20.000 dan 50.000 kaki.

Angin ke Daratan, Kenapa Abu Anak Krakatau Malah Bergerak ke Laut?
Sebaran abu vulkanik Anak Krakatau dapat bergerak ke arah berbeda karena pola angin berubah menurut ketinggian atmosfer.(Foto: Frame Daily/ Zoom Earth)

Frame Daily, Jakarta - Kalau berdiri di daratan dan melihat angin bergerak ke satu arah, mudah muncul anggapan bahwa abu vulkanik dari Anak Krakatau akan mengikuti arah yang sama. Kenyataannya tidak selalu begitu.

Abu vulkanik bisa bergerak ke daratan sekaligus ke laut. Penyebabnya adalah arah dan kecepatan angin tidak selalu sama pada setiap ketinggian atmosfer.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Menyebar, Lima Provinsi Terdampak Frame Daily
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar ke lima provinsi. Badan Geologi mengimbau warga waspada dan mengikuti informasi resmi pemerintah.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Baca Selengkapnya

Angin di Atas Tidak Selalu Sama dengan di Bawah

Fenomena itu terlihat dalam pemantauan BMKG terhadap erupsi Anak Krakatau. Pada 6 September, BMKG mencatat sebaran abu hingga ketinggian 20.000 kaki bergerak ke arah timur, sementara abu hingga 50.000 kaki bergerak ke arah barat. 

Artinya, dua bagian dari satu kolom abu bisa mengikuti jalur yang berbeda. Bagian yang berada lebih rendah dapat terbawa menuju wilayah daratan, sementara material yang mencapai lapisan lebih tinggi bisa terdorong ke arah laut.

Jadi, ketika warga melihat angin di permukaan bergerak menuju satu arah, kondisi tersebut belum cukup untuk memperkirakan ke mana seluruh abu akan bergerak.

Abu Mengikuti Udara di Tempat Ia Berada

Abu vulkanik pada dasarnya terbawa oleh arus udara. Karena atmosfer memiliki lapisan dengan kondisi angin yang berbeda, material yang berada pada ketinggian berbeda dapat memiliki jalur perjalanan yang berbeda pula.

Data VAAC Darwin juga menunjukkan pola tersebut. Dalam salah satu advisory 6 September, abu Anak Krakatau terpantau hingga FL500 atau sekitar 50.000 kaki bergerak ke barat, sementara abu pada lapisan hingga FL200 bergerak ke timur. Pada pembaruan berikutnya, arah dan ketinggian sebaran kembali berubah mengikuti kondisi atmosfer. 

Sebaran Abu Anak Krakatau Meluas ke Lima Provinsi Frame Daily
Abu vulkanik Gunung Anak Krakatau meluas ke Banten, DKI, Jabar, Lampung hingga Bengkulu. Warga diminta waspada terhadap paparan abu.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Baca selengkapnya

Inilah alasan abu dapat terlihat menjangkau wilayah daratan seperti Jakarta, Banten, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu, sementara sebagian material pada lapisan lain bergerak menjauh ke Samudra Hindia. BMKG pada 6 September bahkan mengidentifikasi dua klaster sebaran abu yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat hingga Bengkulu. 

Jadi Abu yang Sampai Jakarta Berasal dari Mana?

Pertanyaan berikutnya justru lebih menarik: lapisan abu mana yang membawa material ke masing-masing wilayah?

Mau Keluar Rumah Saat Abu Vulkanik Turun? Ini yang Perlu Diperhatikan Frame Daily
Abu vulkanik Anak Krakatau mulai dirasakan di sejumlah wilayah Lampung. Jika harus keluar rumah, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk mengurangi paparan.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Baca selengkapnya

Jawabannya tidak cukup hanya dengan melihat arah angin di permukaan. Perlu dicocokkan antara ketinggian kolom abu, profil angin vertikal, citra satelit, serta waktu terjadinya erupsi.

Itulah sebabnya BMKG menggunakan citra Himawari-9 dan menerbitkan SIGMET untuk memantau pergerakan abu di ruang udara. Pada 6 September, BMKG telah menerbitkan 18 SIGMET terkait sebaran abu Anak Krakatau. 

Dengan kata lain, abu Anak Krakatau tidak punya satu arah perjalanan. Ada material yang terbawa menuju daratan, ada pula yang bergerak ke laut, tergantung pada lapisan atmosfer yang membawanya.

Dan di situlah kunci membaca peta sebaran abu: jangan hanya melihat ke mana angin bertiup di permukaan, tetapi juga ke mana angin bergerak pada ketinggian tempat abu tersebut berada.

Ditulis oleh Senida Aditya

Komentar