Anak Krakatau Masih Level III Siaga, Potensi Erupsi Lanjutan Tetap Tinggi

Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Meski episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam telah berakhir, aktivitas vulkaniknya belum berhenti dan probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu berikutnya masih dinilai tinggi.

Anak Krakatau Masih Level III Siaga, Potensi Erupsi Lanjutan Tetap Tinggi
Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Masyarakat dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung serta tetap mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas vulkanik. ilustrasi: Framedaily.id

Frame Daily, Jakarta - Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda belum kembali ke kondisi normal. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan tingkat aktivitas gunung api tersebut masih berada pada Level III (Siaga).

Status itu tetap berlaku berdasarkan hasil analisis Badan Geologi hingga Jumat (11/9/2026). Meski episode erupsi menerus yang terjadi sebelumnya sudah berhenti, aktivitas vulkanik Anak Krakatau masih terpantau.

Badan Geologi bahkan menilai probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu berikutnya masih tinggi. Karena itu, perkembangan aktivitas Anak Krakatau terus dipantau dan dievaluasi.

Lalu, jika erupsi menerusnya sudah berakhir, mengapa status Anak Krakatau masih Siaga?

Erupsi Menerus Berakhir, Aktivitas Belum Selesai

Anak Krakatau sebelumnya mengalami episode erupsi menerus sejak 4 September 2026 pukul 23.07 WIB hingga 6 September pukul 00.04 WIB. Artinya, episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam.

Berakhirnya episode erupsi menerus itu ternyata tidak membuat aktivitas gunung langsung berhenti.

BNPB melaporkan, hingga 11 September pukul 06.00 WIB masih tercatat 14 kali erupsi Strombolian setelah episode erupsi menerus tersebut berakhir.

Erupsi Strombolian merupakan jenis aktivitas vulkanik yang antara lain dapat menghasilkan lontaran material pijar dari kawah.

Pengamatan pada periode 10–11 September juga masih merekam aktivitas kegempaan di tubuh gunung. Tercatat satu kali gempa erupsi, 21 gempa frekuensi rendah atau Low Frequency, 13 gempa Hybrid/Fase Banyak, 28 gempa Vulkanik Dangkal, 18 gempa Vulkanik Dalam, serta tremor menerus.

Data inilah yang menunjukkan bahwa meskipun fase erupsi panjang telah selesai, sistem vulkanik Anak Krakatau masih aktif.

Kenapa Statusnya Masih Level III?

Status gunung api tidak ditentukan hanya dari ada atau tidaknya semburan abu yang terlihat pada suatu saat.

Pemantauan juga mempertimbangkan kegempaan, deformasi tubuh gunung, aktivitas gas, pengamatan visual dan berbagai parameter lainnya.

Badan Geologi menyatakan berdasarkan analisis dan evaluasi menyeluruh hingga 11 September, tingkat aktivitas Anak Krakatau tetap Level III (Siaga). Status dan rekomendasi tersebut berlaku selama belum diterbitkan laporan evaluasi berikutnya.

Dengan kata lain, kondisi gunung yang sesaat tampak tenang dari luar belum tentu menunjukkan aktivitas di dalamnya sudah kembali normal.

Hal ini terlihat pada pengamatan 11 September. Cuaca saat itu dilaporkan cerah dan erupsi tidak terlihat melalui kamera pengamatan, tetapi evaluasi keseluruhan tetap mempertahankan status Siaga.

Ini penting karena masyarakat terkadang menilai gunung api hanya berdasarkan apa yang terlihat secara visual.

Potensi Letusan Masih Tinggi, Apa Bahayanya?

Badan Geologi menyatakan probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode waktu selanjutnya masih tinggi. Namun, kalimat ini perlu dibaca dengan hati-hati.

Pernyataan tersebut bukan prediksi bahwa Anak Krakatau pasti akan mengalami erupsi besar pada tanggal atau jam tertentu. Sampai sekarang tidak ada waktu pasti yang diumumkan mengenai kapan letusan berikutnya akan terjadi.

Yang disampaikan adalah hasil evaluasi terhadap dinamika vulkanisme yang masih berlangsung.

Potensi bahaya yang diidentifikasi antara lain lontaran batu pijar disertai hujan abu lebat. Aliran lava juga berpotensi terjadi apabila erupsi menerus kembali berlangsung.

Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi awan panas, lava, lontaran batu pijar dan hujan abu lebat.

Karena itulah radius aman tetap diberlakukan.

Masyarakat di sekitar Anak Krakatau, termasuk pengunjung dan wisatawan, tidak diperbolehkan memasuki atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Bagaimana dengan Potensi Tsunami?

Aktivitas Anak Krakatau mudah menimbulkan kekhawatiran mengenai tsunami karena sejarah kawasan Selat Sunda. Namun, isu ini juga harus dipisahkan dari informasi resmi mengenai kondisi saat ini.

Dalam evaluasinya, Badan Geologi meminta masyarakat di wilayah pantai Banten dan Lampung tetap tenang dan tidak mempercayai isu yang menyebut erupsi Anak Krakatau saat ini akan menyebabkan tsunami. Masyarakat diminta mengikuti arahan pemerintah daerah dan informasi resmi.

Badan Geologi sebelumnya juga menjelaskan tubuh Anak Krakatau yang tumbuh kembali setelah erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak dinilai berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami berdasarkan evaluasi saat ini. Meski demikian, aktivitas dan perubahan bentuk gunung tetap dipantau intensif.

Artinya, status Level III (Siaga) tidak boleh diterjemahkan menjadi “tsunami akan terjadi.”

Yang perlu dilakukan masyarakat adalah mematuhi zona larangan dan mengikuti pembaruan resmi, bukan berspekulasi mengenai skenario yang belum terjadi.

Kenapa Anak Krakatau Perlu Terus Dipantau?

Anak Krakatau telah berada pada Level III (Siaga) sejak 2 Juli 2026, ketika statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada). Sebelum kenaikan status tersebut, pemantauan satelit menunjukkan emisi sulfur dioksida, anomali panas dan kemunculan titik api di kawah.

Aktivitas erupsi kemudian kembali meningkat pada September. Rangkaian tersebut menunjukkan mengapa kondisi Anak Krakatau tidak bisa dinilai hanya berdasarkan apakah gunung sedang menyemburkan abu pada saat tertentu.

Selama indikator vulkaniknya masih menunjukkan aktivitas dan evaluasi Badan Geologi belum menurunkan tingkat aktivitas, status Level III (Siaga) tetap menjadi rujukan masyarakat.

Untuk saat ini, pesan utamanya bukan bahwa erupsi besar pasti akan terjadi, melainkan bahwa Anak Krakatau masih aktif, peluang letusan lanjutan masih dinilai tinggi, dan zona larangan tiga kilometer tetap harus dipatuhi.

Follow Instagram @framedaily.id_official untuk mendapatkan berita terbaru, fakta, dan cerita di balik isu yang sedang ramai.

Ditulis oleh Riki firmansyahrial

Komentar