Abu Vulkanik Anak Krakatau Ancam Keselamatan Penerbangan Soetta

Abu vulkanik Anak Krakatau membuat penerbangan Soetta terganggu. Kenali risiko abu vulkanik terhadap mesin dan keselamatan pesawat.

Abu Vulkanik Anak Krakatau Ancam Keselamatan Penerbangan Soetta
Photo by Fasyah Halim / Unsplash

Frame Daily, Jakarta - Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya menghadirkan ancaman di sekitar kawasan gunung api. Abu vulkanik yang terbawa atmosfer juga dapat menjadi persoalan serius bagi dunia penerbangan, termasuk ketika material tersebut terdeteksi di sekitar Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Kondisi itu membuat otoritas penerbangan harus mengambil keputusan berdasarkan keselamatan, bukan sekadar kondisi landasan. Pada Minggu (6/9/2026) dini hari, pemeriksaan menggunakan paper test menunjukkan indikasi abu vulkanik di Bandara Soekarno-Hatta.

Temuan tersebut menjadi salah satu dasar penghentian sementara operasional bandara melalui NOTAM A3341/26. Bandara dijadwalkan ditutup mulai pukul 01.30 WIB hingga 05.30 WIB, sementara sejumlah penerbangan mengalami pembatalan, keterlambatan, penjadwalan ulang, dan pengalihan.

Abu Vulkanik Bukan Debu Biasa

Abu vulkanik terbentuk dari pecahan material batuan, mineral, dan material vulkanik lain yang berukuran sangat halus. Partikel tersebut dapat terangkat ke atmosfer ketika terjadi letusan dan kemudian terbawa angin mengikuti kondisi cuaca di wilayah sekitar gunung api.

Karakter partikelnya membuat abu vulkanik berbeda dari debu biasa. Material tersebut bersifat abrasif dan dapat masuk ke berbagai bagian pesawat ketika berada dalam konsentrasi tertentu di udara.

Bagi penerbangan, persoalan utama bukan hanya apakah abu terlihat dari permukaan. Keberadaan partikel vulkanik di jalur penerbangan perlu diperhitungkan berdasarkan informasi atmosfer, arah pergerakan abu, konsentrasi material, serta perkembangan aktivitas gunung api.

Mesin Pesawat Menjadi Salah Satu Risiko

Mesin jet membutuhkan aliran udara dalam jumlah besar untuk menghasilkan tenaga dorong. Udara yang masuk kemudian melewati berbagai tahapan kompresi dan pembakaran sebelum menghasilkan energi untuk menggerakkan pesawat.

Ketika udara tersebut membawa abu vulkanik, partikel dapat masuk ke dalam mesin. Material tertentu dapat meleleh akibat temperatur tinggi di bagian mesin dan kemudian menempel pada komponen yang dilaluinya.

Endapan material tersebut dapat mengganggu aliran udara dan memengaruhi kinerja mesin. Dalam kondisi paparan yang cukup berat, risiko terhadap mesin dapat meningkat dan berpotensi mengganggu kemampuan pesawat mempertahankan penerbangan secara normal.

Abu vulkanik juga memiliki sifat abrasif. Partikel yang terbawa aliran udara dapat menyebabkan keausan pada sejumlah komponen dan permukaan pesawat yang terpapar secara langsung.

Abu Vulkanik Bisa Mengganggu Visibilitas

Risiko penerbangan akibat abu vulkanik tidak berhenti pada mesin. Partikel tersebut juga dapat mengganggu visibilitas dari kokpit ketika pesawat memasuki kawasan dengan konsentrasi abu tinggi.

Permukaan kaca kokpit dapat mengalami pengikisan akibat partikel abrasif. Kondisi tersebut dapat mengurangi kejernihan pandangan pilot dan menambah tantangan ketika pesawat harus melakukan navigasi atau pendaratan.

Abu juga dapat memengaruhi sejumlah sistem pesawat. Karena karakter bahayanya berbeda dengan gangguan cuaca biasa, informasi mengenai keberadaan abu menjadi salah satu faktor penting dalam pengambilan keputusan operasional penerbangan.

Abu Anak Krakatau Ganggu Pengendara, Damkar Siram Jalan Bandar Lampung Frame Daily
Abu yang diduga berkaitan dengan erupsi Anak Krakatau mulai mengganggu pengendara di Bandar Lampung. Damkarmat dan BPBD menyiram sejumlah ruas jalan.Portal Berita modern yang menyajikan informasi terkini, akurat, dan berdampak.

Mengapa Soetta Harus Ditutup Sementara?

Penutupan Bandara Soekarno-Hatta dilakukan setelah pemantauan menunjukkan adanya indikasi abu vulkanik di area bandara. Kementerian Perhubungan sebelumnya masih menyatakan operasional penerbangan berjalan normal ketika kondisi abu belum terdeteksi di area tersebut.

Pemeriksaan paper test pada Minggu (6/9/2026) pukul 00.35 hingga 01.05 WIB memberikan indikasi keberadaan abu vulkanik. Informasi tersebut kemudian menjadi bagian dari pertimbangan untuk menghentikan sementara operasional penerbangan.

Berdasarkan NOTAM A3341/26, penutupan berlaku mulai pukul 01.30 WIB sampai 05.30 WIB. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa status operasional bandara dapat berubah mengikuti kondisi aktual di lapangan.

Kementerian Perhubungan juga melakukan koordinasi dengan pengelola bandara, maskapai, penyelenggara navigasi penerbangan, dan BMKG. Pemantauan dilakukan secara berkelanjutan untuk menentukan langkah operasional berikutnya.

33 Penerbangan Terdampak

Dampak erupsi Anak Krakatau terhadap penerbangan Soetta sudah terlihat sebelum penutupan sementara diberlakukan. Berdasarkan pemantauan Kementerian Perhubungan hingga Sabtu (5/9/2026) pukul 22.00 WIB, terdapat 33 penerbangan yang terdampak.

Pada penerbangan internasional, sebanyak 16 penerbangan dibatalkan. Tujuh penerbangan mengalami keterlambatan dan lima penerbangan lainnya dijadwalkan ulang.

Rute yang terdampak mencakup Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul atau Incheon, Doha, Amsterdam, dan Kuala Lumpur. Sementara untuk penerbangan domestik, Kemenhub mencatat empat pembatalan dan satu penerbangan dialihkan.

Gangguan tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai terhadap jadwal penerbangan berikutnya. Rotasi pesawat, ketersediaan armada, jadwal penerbangan lanjutan, hingga kapasitas terminal dapat ikut terdampak ketika operasional bandara mengalami penghentian sementara.

Aktivitas Anak Krakatau Masih Berlangsung

Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat Gunung Anak Krakatau masih mengalami aktivitas erupsi. Dalam laporan fenomena erupsi menerus pada 5 September 2026, aktivitas erupsi disertai lontaran material pijar, lava, dan abu vulkanik.

Status Gunung Anak Krakatau berada pada Level III atau Siaga. Badan Geologi juga merekomendasikan masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung api.

Aktivitas vulkanik tersebut terus dipantau bersama perkembangan sebaran material di atmosfer. Informasi mengenai arah dan potensi pergerakan abu menjadi penting bagi sektor penerbangan karena kondisi atmosfer dapat berubah mengikuti dinamika cuaca.

Bagi penumpang, perkembangan kondisi penerbangan perlu dipantau melalui informasi resmi maskapai dan otoritas penerbangan. Jadwal dapat mengalami perubahan mengikuti hasil pemantauan abu vulkanik serta keputusan keselamatan operasional.

Ditulis oleh Shidarta

Komentar