Tumpas OPM di Maybrat, Prajurit Marinir Dapat Janji Promosi

KSAL Muhammad Ali mengapresiasi prajurit Marinir yang terlibat operasi di Maybrat, Papua Barat Daya, dan menjanjikan penghargaan berupa kenaikan pangkat serta pendidikan militer.

Tumpas OPM di Maybrat, Prajurit Marinir Dapat Janji Promosi
KSAL Laksamana TNI Muhammad Ali (tengah). (Puspen TNI)

Frame Daily, JAKARTA – Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali mengapresiasi prajurit Korps Marinir yang tergabung dalam Korps Habema TNI setelah terlibat operasi melawan kelompok bersenjata yang disebut sebagai anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya.

Sebagai bentuk penghargaan atas keberanian dan dedikasi mereka,KSAL Ali menyatakan para prajurit berprestasi tersebut layak memperoleh kenaikan pangkat dan kesempatan mengikuti pendidikan militer.

Apresiasi itu disampaikan Ali dalam rapat internal TNI AL melalui konferensi video pada Senin (12/10/2026). Informasi tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi Korps Marinir yang diterima di Jakarta, Selasa (13/10/2026).

Panglima Korps Marinir Mayjen TNI Endi Supari bersama jajaran pejabat Korps Marinir turut mengikuti rapat dari Markas Komando Pusat Latihan Pertempuran (PLP) 4 Marinir Purboyo, Malang Selatan, Jawa Timur.

Penghargaan tersebut berkaitan dengan operasi yang melibatkan personel Satuan Tugas Batalyon Infanteri (Satgas Yonif) 9 Marinir di kawasan Sungai Frambu, Kabupaten Maybrat. Dalam kontak senjata pada Jumat (9/10/2026), tiga orang yang dilaporkan sebagai anggota OPM Kodap IV/Sorong Raya terkena tembakan.

KSAL Siapkan Penghargaan bagi Prajurit Marinir

Muhammad Ali menilai para prajurit Marinir telah menunjukkan prestasi dalam menjalankan tugas operasi. Bentuk penghargaan yang disampaikan mencakup kenaikan pangkat dan kesempatan menempuh pendidikan militer.

"Penghargaan ini merupakan bentuk pengakuan atas keberanian, dedikasi, dan profesionalisme prajurit dalam melaksanakan tugas operasi demi menjaga stabilitas keamanan serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia," ujar Ali sebagaimana dikutip dalam siaran pers Korps Marinir.

Kenaikan pangkat dan kesempatan pendidikan militer merupakan bentuk apresiasi terhadap pengabdian personel. Meski demikian, Ali belum menjelaskan waktu pelaksanaan pemberian penghargaan tersebut ataupun nama-nama prajurit yang akan menerimanya.

Operasi di Maybrat menjadi latar belakang apresiasi pimpinan TNI AL terhadap personel Marinir yang bertugas di wilayah Papua Barat Daya. Rangkaian operasi itu dilaksanakan dalam konteks pengamanan wilayah dan penanganan gangguan kelompok bersenjata.

Kontak Senjata Terjadi Saat Operasi Badai Kasuari

Berdasarkan siaran pers resmi Koops TNI Habema, kontak senjata berlangsung ketika personel Satgas Yonif 9 Marinir menjalankan Operasi Badai Kasuari 3.10. Insiden tersebut terjadi sekitar pukul 09.01 WIT setelah personel TNI dilaporkan mendapat serangan dari kelompok bersenjata di kawasan Sungai Frambu.

Dalam peristiwa itu, tiga orang yang diidentifikasi sebagai anggota OPM Kodap IV/Sorong Raya dilaporkan terkena tembakan. Satu jenazah ditemukan di lokasi kejadian, sedangkan dua orang lainnya dilaporkan hanyut terbawa arus sungai dan masih dalam pencarian berdasarkan keterangan yang disampaikan.

Identifikasi awal menyebut jenazah yang ditemukan diduga merupakan Manfred Fatem, yang disebut sebagai Danops OPM Kodap IV/Sorong Raya. Adapun dua orang yang dilaporkan hanyut diduga bernama Anton Fatem dan Yesias Fatem.

Selain jenazah, personel Satgas Yonif 9 Marinir juga menemukan satu pucuk senjata api jenis AK-101. Keterangan tersebut berasal dari siaran pers Koops TNI Habema dan belum disertai penjelasan tambahan mengenai hasil pemeriksaan forensik ataupun perkembangan pencarian dua orang yang dilaporkan hanyut.

TNI Habema Klaim Utamakan Keamanan Warga

Panglima Koops TNI Habema Brigjen TNI Riyanto mengatakan operasi dilakukan untuk menjaga masyarakat dari ancaman kelompok separatis dan bersenjata. Ia menegaskan bahwa penanganan ancaman harus dilaksanakan secara profesional dengan memperhatikan tujuan menciptakan keamanan bagi warga.

"Setiap ancaman bersenjata yang membahayakan keselamatan masyarakat dan aparat harus ditangani secara tegas dan profesional. Namun, tujuan utama kami adalah menciptakan ruang aman agar masyarakat dapat hidup tenang, pelayanan publik berjalan, dan kehidupan sosial kembali tumbuh," kata Riyanto.

Ia menyatakan Koops TNI Habema akan melanjutkan berbagai upaya untuk menjaga keamanan masyarakat Papua. Riyanto juga mengajak anggota kelompok bersenjata yang masih berada di hutan untuk menyerahkan diri dan memilih penyelesaian secara damai.

"Kepada saudara-saudara yang masih berada di hutan, jalan damai tetap terbuka," ujarnya.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa operasi keamanan di Papua tidak hanya diarahkan untuk menghadapi kelompok bersenjata, tetapi juga untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan aktivitas masyarakat dan pelayanan publik berlangsung dengan aman.

Ditulis oleh Indah Susilo

Komentar