Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Ukraina memilih presiden baru setelah menuding Presiden Volodymyr Zelenskyy berulang kali gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dengan Rusia. Pernyataan tersebut disampaikan Trump pada Sabtu (10/10/2026) di tengah berlanjutnya konflik kedua negara.
“Saya sarankan mereka memilih pemimpin baru yang dapat membuat kesepakatan,” kata Trump kepada wartawan. Ia kemudian menegaskan bahwa menurutnya sudah waktunya Ukraina memilih presiden baru, dikutip dari Anadolu Agency yang dilansir ANTARA, Minggu (11/10/2026).
Trump menilai Zelenskyy telah melewatkan sejumlah kesempatan untuk mengakhiri perang. Ia juga mengatakan konflik tersebut seharusnya dapat dihindari apabila dirinya menjabat sebagai presiden AS ketika perang dimulai.
Pernyataan itu mencerminkan perbedaan pandangan Trump dan pemerintah Ukraina mengenai upaya mengakhiri perang. Trump menekankan perlunya kesepakatan, sedangkan langkah menuju perdamaian tetap menghadapi persoalan keamanan dan persyaratan yang harus disepakati pihak-pihak yang bertikai.
Trump Nilai Zelenskyy Melewatkan Peluang Perdamaian
Trump menuding Zelenskyy telah beberapa kali memiliki kesempatan untuk menghentikan perang, tetapi tidak mengambil langkah tersebut. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai kondisi yang sulit dan kembali menyampaikan keyakinannya bahwa konflik Rusia-Ukraina tidak akan terjadi jika dirinya memimpin AS pada saat itu.
“Saya pikir sudah waktunya Ukraina memilih presiden baru,” ujar Trump.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian Trump terhadap kepemimpinan Zelenskyy dan proses negosiasi untuk mengakhiri perang. Tuduhan bahwa presiden Ukraina melewatkan peluang perdamaian disampaikan Trump dalam keterangannya kepada wartawan, bukan sebagai hasil kesepakatan atau keputusan resmi dari proses diplomatik.
Perang Rusia-Ukraina telah berlangsung sejak Rusia melancarkan invasi skala penuh pada Februari 2022. Upaya diplomatik untuk mengakhiri konflik menghadapi sejumlah persoalan, termasuk jaminan keamanan, wilayah yang dikuasai Rusia, serta persyaratan yang diajukan masing-masing pihak.
Serangan Infrastruktur Energi Jadi Sorotan
Selain mengkritik kepemimpinan Zelenskyy, Trump menyoroti serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia, khususnya kilang minyak. Menurut dia, serangan terhadap fasilitas tersebut dapat memperburuk pasokan bahan bakar dan berdampak terhadap perekonomian Amerika Serikat.
Trump menyebut kelangkaan bahan bakar berpotensi memengaruhi petani dan peternak di negaranya. Ia mengatakan pemerintah AS telah memperingatkan Ukraina agar tidak menyerang fasilitas yang berkaitan dengan produksi bahan bakar diesel.
“Kami sudah bilang, silakan lakukan yang kalian inginkan, tetapi jangan serang kilang minyak diesel karena dapat terjadi masalah besar, kelangkaan besar,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isu energi menjadi bagian dari perbedaan pandangan Washington dan Kyiv mengenai strategi menghadapi Rusia. Infrastruktur energi memiliki peran penting dalam perekonomian dan kemampuan pembiayaan perang, sementara serangan terhadap fasilitas tersebut juga berpotensi memengaruhi pasokan minyak dan produk turunannya.
Meski demikian, klaim mengenai dampak serangan Ukraina terhadap kelangkaan bahan bakar global perlu dibedakan dari penilaian Trump. Besarnya dampak terhadap pasokan dan harga energi memerlukan dukungan data pasar serta analisis dari sumber yang berwenang.
Hubungan Washington dan Kyiv Jadi Perhatian
Pernyataan Trump menambah tekanan politik terhadap hubungan AS dan Ukraina di tengah upaya mencari jalan keluar dari perang. Dukungan Amerika Serikat selama ini menjadi salah satu faktor penting dalam pertahanan Ukraina menghadapi invasi Rusia.
Desakan agar Ukraina memilih presiden baru juga menyentuh persoalan kedaulatan politik negara tersebut. Pemilihan pemimpin Ukraina merupakan urusan konstitusional dan politik dalam negeri Ukraina, sedangkan pernyataan Trump merupakan pandangan pemimpin negara lain terhadap kepemimpinan Zelenskyy.
Perbedaan pandangan mengenai cara mengakhiri perang dapat memengaruhi pembicaraan diplomatik berikutnya. Namun, pernyataan Trump tersebut belum dengan sendirinya menunjukkan adanya kesepakatan baru ataupun perubahan resmi dalam hubungan kedua negara.
Perkembangan selanjutnya akan bergantung pada langkah diplomatik Washington, Kyiv, dan Moskow, termasuk apakah terdapat proposal yang dapat diterima oleh pihak-pihak yang terlibat dalam konflik.
Prospek Kesepakatan Damai Masih Menjadi Tantangan
Desakan Trump agar Ukraina memilih pemimpin baru disampaikan ketika upaya mengakhiri perang masih menghadapi tantangan besar. Pernyataan tersebut menegaskan pendekatan Trump yang mendorong tercapainya kesepakatan, sekaligus memperlihatkan ketidakpuasannya terhadap langkah Zelenskyy.
Bagi Ukraina, proses perdamaian berkaitan dengan penghentian serangan, perlindungan wilayah, dan jaminan keamanan. Sementara itu, Rusia dan Ukraina masih harus menghadapi perbedaan kepentingan yang menjadi hambatan dalam penyelesaian konflik.
Pernyataan Trump belum memberikan kepastian mengenai kapan perang akan berakhir atau bentuk kesepakatan yang dapat diterima kedua pihak. Perkembangan negosiasi dan respons resmi pemerintah Ukraina akan menjadi hal penting untuk memantau arah hubungan Washington dan Kyiv serta prospek penyelesaian perang.
Komentar